Oleh: Kyan | 20/11/2006

Terbakarnya Kosanku dan Cintaku

Senin, 20 November 2006

Terbakarnya Kosanku dan Cintaku

**

Sewaktu kami jalan-jalan pagi di sekitar jalanan kampung Wanaraja, aku mendapat sms dari Amy yang isinya sangat mengagetkanku. Katanya semalam terjadi peristiwa yang sangat serius dan mengharuskan aku segera pulang ke Bandung. Aku harus kaget mendengarnya, tapi aku biasa-boasa saja seolah-olah tak ingin peduli. Peristiwa besar ataupun kecil aku yakin Allah tidak akan membebani suatu kaum melebihi kapasitasnya. Aku pasti bisa menanggungnya. Meskipun selalu menghantui berita itu, sangat mengurangi rasa kegembiraanku jalan-jalan pagi bersama teman-teman. Aku hanya bermohon semoga tidak terjadi sesuatu yang membuat aku kehilangan segala-galanya.

Kami jalan-jalan mencari hal-hal baru, daerah baru. Bersama-sama dalam keceriaan. Meskipun aku selalu dirundung kesedihan. Sedang mempunyai masalah dengan seorang yang sangat aku cintai, tak jadi ikut OPM di Cililin, nilaiku rendah, dan sekarang kesedian baru sedang menunggu yang tak tahu apa yang terjadi. Tapi aku yakin Allah mempunyai rencana terhadap umatnya. Seseorang yang dirundung duka secara bertubi-tubi akan mendapat keceriaan dan kebahagiaan yang tiada terkira. Kesulitan diapit oleh dua kemudahan.

Makan di rumah Hana. Kami-kami berlomba-lomba berebut makanan siapa cepat dia dapat. Yang diam saja bakal tak kebagian makanan. Aku berpikir begitu pun dengan manusia yang berlomba-lomba mengejar dunia. Ibarat kami berebut makanan. Mengejar ilusi melupakan hakikat. Akupun kadang tidak sadar bahwa aku sedang tulang banting mengejar dunia, mengedepankan ego diri dan melupakan orang lain. Setelah makan kami pun tidur. Kebiasaan makan, tidur, main, dan mandi.

Setelah salat Duhur, kami berpamitan pada orang tua Hana dan pulanglah berkonvoi. Mampir ke rumah kakakku lagi. Bertambah lagi satu daerah di Garut setelah Leles, tempat kakakku. Aku jadi tahu daerah Wanaraja, kampung beberapa teman di MKS. Aku pulang dan entah kapan lagi aku bakal main ke sana. Teman-teman jadi tahu tempat kembaliku kalau liburan kuliah. Hanya kesana aku kembali, karena aku tak punya rumah orang tuaku. Nantipun setelah lulus kuliah apakah barang-barangku akan disimpan lagi disana. Ingin aku punya rumah sendiri. Tapi aku ingin tetap terbang tinggi ke tempat yang kuinginkan. Andaikan aku punya seseorang yang akan selalu menjadi tumpuan pengharapan sampai ke ujung usia, barang-barangku akan disimpan disana.

Dan ternyata kesedihan yang sedang menunggu untuk kuketahui. Setelah sampai di kosanku baru kutahu kejadian semalam di kosanku jam sebelas malam. Tadi malam di kosanku terjadi kebakaran dari percikan sambungan listrik. Sebagian inventarisku hilang musnah ditelan api. Monitor terbakar dan kaset, vcd, dan aksesoris kamarku dilalap api. Aku hanya pasrah saja. Tapi masih ada yang tersisa dari barang-barangku. Tidak semuanya dilahap api.

Harta bendaku terbakar, begitupun hati sedang terbakar. Aku masih terkungkung dengan egoku. Aku masih belum ada kesempatan untuk berbicara dengannya. Entah sampai kapan aku ada kesempatan untuk meminta maaf padanya dan menceritakan mimpi tentang ibunya. Aku hanya selalu teringat dengan ibunya yang datang padaku dalam mimpiku. Ia ingin supaya aku datang ke rumahnya. Sepertinya ia memintaku untuk memaafkannya. Sesungguhnya jikapun ia tidak meminta maaf atas ucapan dan perbuatannya, aku sudah memaafkan segala-galanya tanpa dipinta. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwa. Meleraikan segala sifat buruknya. Aku mencintai apa-adanya tak terkecuali.

Sekarang yang menjadi pemikiranku kapan saatnya tiba aku bisa bicara dengannya. Agar aku bisa meminta maaf, terbayang olehku dia akan “murang-mareng” untuk menolaknya. Mungkin ia akan berkata: Tak ada waktu buatmu yang telah menyakitiku. Sudahlah kalau inginnya begitu sampai kapanpun aku tak akan bicara dengannya. Sekarang dia yang harus meminta maaf padaku. Bukan aku. Tapi aku hanya ingin memenuhi keinginan ibunya.

Banyak pikiran. Jika tidak dipikirkan selalu saja membuntuti jalan pikiranku. Aku jadi banyak melamun, diam, dan sendirian. Sebagian teman-teman sudah pada tahu apa yang telah menimpaku malam kemarin. Ia mengatakan ikut berduka cita atas musibah yang menimpaku. Aku hanya menyampaikan untuk sementara mohon maaf kalau ada tugas kelompok aku belum bisa membantu. Nanti kalau ada tugas kita mengerjakannya bareng-bareng supaya pengerjaannya lebih cepat dan penggunaan komputernya lebih cepat dan tak berlama-lama. Keinginan orang-orang bersimpati padaku, atas dukaku. Aku tak usah mengharapkan sesuatu dari makhluk, karena bakal menuai kekecewaan. Jika pada tahu apa yang telah terjadi, mungkin mereka pada simpati. Tak usah mereka tahu segala tentangku.

Kuliahku jadi tak bersemangat. Ingin aku banyak cerita pada mereka. Tapi ingin aku banyak diam. Aku ingin menikmati apa yang sekarang kurasakan. Bukan ingin aku terbuai, tapi aku ingin tahu segala perasaanku. Jeritan hatiku. Supaya aku bisa bersahabat dengan kesedihanku. Karena kesedihan adalah imunisasi hidup. Untuk membentuk sistem kekebalan tubuh kehidupan, agar aku bisa pasrah hanya pada-Nya.

Ujian Modal Ventura hanya menganalisis. Aku puas dengan soal ujiannya. Pulang kuliah aku berjalan sendirian untuk mengambil buku-bukuku yang lagi diperbaiki jilidnya. Ternyata belum selesai. Aku mampir ke warnet untuk buka Friendster. Kubaca e-mail dari Rika, teman SMU-ku. Ia yang pernah simpati padaku. Ia sekarang kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI) jurusan Kedokteran spesialisasi Radiologi. Aku jadi ingin banyak tahu tentangnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori