Oleh: Kyan | 21/11/2006

Lelaki Harus Pantang Menyerah

Selasa, 21 November 2006

Lelaki Harus Pantang Menyerah

**

Ibuku sudah mengirim uang Rp 500.000,- dan Rp 100.000,- buat kakakku. Aku masih minta pada ibuku. Karena aku belum bisa punya penghasilan. Pendapatan dari komputer belum memuaskan. Lagian sekarang komputerku raib di telan api. Komputerku selalu stand by terus. Tidak menyalakan komputer, monitornya dipakai buat menonton TV. Bukan aku yang menontonnya, tapi orang-orang yang datang ke kosanku.

Daripada membunuh waktu dengan menonton yang tak tahu apa yang bisa diambil, aku lebih baik baca buku. Inginku bila tak ada kerjaan yang berhubungan dengan komputer, kumatikan saja komputer dan aku bisa baca buku sepuasnya. Datang teman-teman atau teman sekosanku malah pingin ikut nonton TV. Jadinya komputer standby sehari semalam. Aku segan untuk melarangnya. Aku selalu mengalah.

Tapi aku kesel dibuatnya ketika aku sedang belajar atau baca buku. Sangat aku merasa terganggu. Tak ada tempatku, kamarku sebagai ruang privasi. Sering ingin aku melakukan kontemplasi, tapi tak ada tempat. Banyak yang datang ke kosanku untuk menyatakan simpati atas kejadian kemarin. Dian Angsa datang dan banyak cerita tentang cinta. Aku bisa menemukan banyak hikmah dari cerita dia. Aku jadi menemukan jalan apa yang mesti kulakukan dalam perjalanan cintaku. Katanya seorang cowok harus pantang menyerah. Selama ini aku merasa cepat menyerah, padahal sebelumnya aku termasuk lelaki “keukeuh” jikalau ingin mendapatkan sesuatu. Aku harus bersikap baik terhadapnya. Aku sedang mencari kesempatan agar aku bisa bicara lagi dengannya. Ya kapan-kapan saja.

Aku ingin memperbaiki hubungan/komunikasi yang sebelumnya berjalan baik dan mungkin bisa dibilang mesra. Meskipun orang lain tak tahu seberapa jauh hubunganku. Sekarang berjalan apa adanya dan suatu saat nanti di masa depan, kita bangun tangga kesuksesan dan kebahagiaan dengan terus semakin tinggi pencapaiannya. Konflik kemarin semoga jadi bahan ingatan dan pelajaran.

Lalu aku berjalan sendirian dan begitu terasa kesendirian. Aku mampir ke tukang meja. Nanti aku mau membeli meja komputer, tapi aku harus membeli monitor. Belanja alat-alat listrik habis Rp 90.000,- di Borma. Ternyata alat-alat yang kubeli tak cukup. Aku harus membeli lagi. Semoga uang yang diberikan ibuku cukup untuk mencukupi sebulan.

Hari ini ujian Statistik tak jadi, tapi diganti ke hari Jum’at. Kalau tahu sebelumnya aku mau main ke Kandaga dan Plasa untuk melihat-lihat monitor. Sakit leher akibat salah posisi tidur sangat menggamit-gamit tubuhku. Gampang sekali aku merasa sakit. Panas tubuhku meninggi. Semoga aku tak sakit, karena nanti bisa menyusahkan orang lain. Musibah yang menimpaku datang bertubi-tubi. Dalam tahun 2006 tiga bulan terakhir aku telah banyak kehilangan. Mulai dari kehilangan kalkulator, lalu seminggu kemudian kehilangna sepatu, dan musibah paling menohok hatiku adalah musibah kebakaran di kosanku.

Dikira monitor dan kaset serta cd saja yang kena, setelah dicoba CPU-nya ternyata gak menyala juga. Pupus sudah harapanku. Tadinya mau membeli monitor saja, sekarang harus merubah target, aku harus membeli komputer seperangkat. Mesti ada uang dua juta. Masa aku harus gak makan selama lima bulan. Pemberian ibuku hanya Rp 400.000,- untuk sebulan untuk segalanya. Andai aku bilang semuanya atas musibah yang terjadi, ibuku pasti bakal marah-marah. Aku lebih baik diam saja seolah-olah keadaan baik-baik saja. Kalau kubilang, mungkin ibuku bakal mengusakakan mengadakan kembali apa yang telah hilang. Tapi aku lebih baik diam saja. Aku khawatir bakal jadi pikiran ibuku. Ibuku selalu bilang, “Nasibmu selalu ditimpa kemalangan, semoga engkau selalu bersabar, Nak”.

Aku melihat kehidupan orang lain berjalan biasa tanpa ada aral melintang. Tapi mungkin sebenarnya dirinya merasa selalu ditimpa kemalangan juga. Tapi mereka terlihat selalu tersenyum, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Kalau aku lebih banyak termenung dalam kesendirian. Bukan hanya musibah berupa materi saja. Akupun telah kehilangan jiwa lembutku. Aku telah kehilangan cinta. Aku semakin jauh dari-nya. Mungin aku makin dibenci oleh-nya. Mungkin selamanya. Aku makin marah dan benci pada semuanya.

Kemarin sewaktu acara OPM, aku ditinggalkan teman-teman. Aku gak ikut OPM di Cililin. Aku kesal dibuatnya. Kenapa cobaan datang bertubi-tubi. Apakah karena selalu dipikirkannya. Padahal lebih baik lupakan saja apa yang sudah terjadi. Jangan didramatisir segala musibah yang terjadi. Namanya barang titipan, bakal diambil kembali oleh yang berpunya. Harus diingat rumus tukang parkir. Tapi aku gak ingin mengecewakan orang lain. Bila musibah hanya berpengaruh buat diriku saja, tak masalah. Tapi ini ibuku yang memberikan uangnya. Di komputer banyak data yang sangat penting. Dikira masih terselamatkan, ternyata CPU-nya pun tak terpakai lagi. Semoga saja komponen-komponennya masih ada yang bisa dipakai. Aku ingin mencoba di komputer teman, dia gak mau repot. Kadang kita selalu berpikir, tak ingin merepotkan orang lain dan  tak ingin direpotkan orang lain. Sungguh munafik dan ingin menang sendiri. Diri yang egois.

Sewaktu mau pulang dari kuliah, kuberanikan dan kusempatkan untuk menghampirinya. Kukatakan ingin bicara sama kamu. Aku ingin minta maaf atas kata-kataku. Dia jawab sudahlah sudah lewat. Tafsiranku dia belum sepenuhnya ingin memaafkanku. Aku ingin dia memaafkanku dengan omongan di hadapanku. Dia mengungkit-ungkit kejadian-kejadian kemarin. Katanya dia sudah biasa diperlakukan seperti itu. Anggap saja biasa-biasa saja. Aku tak ingin bertengkar lagi. Aku tak ingin banyak berapologi.

Biarlah dia keluarkan apa yang ingin dikatakan. Dia tak menerima kata-kataku yang sangat menyakitkan. Aku sudah banyak mengeluarkan kata-kata kasar, seonggok daging, gundik, perempuan jalang, dll. Aku hanya memberikan penyadaran pada semuanya, bukan pada objek personal. Sementara dia menghinaku hanya padaku. Dia hanya merendahkan hanya padaku. Meskipun mulanya hanya bercanda, tapi aku tak terima kata-katanya. Dia sudah menyinggung perasaanku. Dia tak ingin meminta maaf padaku. Aku malah duluan yang ingin minta maaf. Dia yang berbuat salah, aku yang minta maaf. Perempuan memang egois, tak mau mengakui kesalahan dan segala perasaannya. Dia pun lagi tak ingin memaafkan.

Sungguh ego dirinya masih bercokol. Aku bingung apa yang mesti kulakukan. Apakah aku harus membiarkannya. Membiarkan waktu yang menyelesaikannya. Aku ingin seperti yang dulu. Aku ingin membina kembali hubungan yang sebelumnya telah berjalan apa-adanya. Semoga saja pertengkaran bisa mendewasakanku. Aku bisa mengevaluasi diri dan ternyata aku belum dewasa. Meskipun kata sebagian orang aku termasuk dewasa. Aku selalu menjadi tumpuan harapan dan curhat. Aku yakin aku bisa menyelesaikannya.

Ada adik sayangku bilang, selesaikan satu-satu! Ternyata nasihat orang sangat mempengaruhiku dan selalu terngiang-ngiang di telingaku. Mungkin akupun ketika memberi nasihat atau memberikan pendapat akan mempengaruhi mereka dan selalu tergiang-ngiang di telinganya. Memang kata-kata bisa memberikan efek besar pada orang lain. Kata-kata adalah api yang bisa merengkuh kekuasaan dan bisa juga membunuh, membantai jiwa yang berdosa dan tak berdosa.

Rumi bilang kata-kata adalah api adalah cahaya uang menerangi keraguan dan penglihatan atas cinta Tuhan. Semoga aku bisa menguasai kata-kataku dan tak gampang mengeluarkan kata-kata. Maksud dengan kata-kata ingin memberikan penyadaran tapi malah menyakitkan. Itu yang terjadi padaku. Benarlah bahwa diam itu emas, dan berbicara itu perak. Orang tak akan menyesal ketika ia diam, kecuali dalam cinta. Karena cinta harus diungkapkan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori