Oleh: Kyan | 24/11/2006

Kepahitan adalah Obat Imunisasi

Jum’at, 24 November 2006

Kepahitan adalah Obat Imunisasi

**

Sekian lama aku tak pernah berkunjung ke kosannya. Sampai-sampai ia berkata padaku ingin dikunjunginya dengan segera. Tapi keburu terjadi pertengkaran antara aku dengannya. Tapi di hari ini sore ini kuberanikan aku main ke kosannya. Karena teman-teman lagi mengerjakan tugas di komputernya. Aku sangat ragu bertemu dengannya. Akankah ia mengusirku? Ketika aku sampai di kosannya, hanya ada teman-teman. Aku banyak bercerita dengan adik sepupunya, Intin dan Nik. Tahukah dia bahwa aku lagi musuhan dengan kakaknya.

Aku berusaha bersikap biasa saja. Tapi aku tak bisa menyembunyikan permasalahanku. Aku bermohon padanya agar membantu menyelesaikan permasalahanku. Agar aku seperti yang dulu lagi. Apapun dia anggap aku, teman, kakak atau yang lebih lagi, aku ingin kebersamaan. Aku ingin bersamanya. Meskipun banyak pertentangan, tapi aku merasa keutuhan ketika bercengkrama dengannya. Ia perempuan yang sangat kukagumi dan kucintai.

Detik-detik adzan maghrib tiba. Ia pun datang dengan wajah penuh kelelahan setelah seharian bekerja. Aku seolah-olah tak mengetahui kedatangannya. Aku diam saja tak menoleh padanya. Seharusnya aku menyapanya yang menghangatkan, sehingga wajah kelelahannya terhapuskan. Iapun tak menyapaku. Tak apa-apa aku tak disapa olehnya, yang penting ia mau memaafkanku. Ia hanya diam saja. Aku tahu ia belum mau memaafkanku. Ia sangat benci padaku. Apakah aku akan membiarkannya pula ketakberesan hubungan ini sehingga terus berkepanjangan. Apakah hubungan pertemanan atau percintaan akan berakhir dengan kekecewaan. Tak bisakah diperbaiki hubungan ini.

Mungkin perlu waktu ia bisa memaafkanku. Aku harus berusaha dengan berbagai cara agar ia bisa memaafkanku. Semoga hubungan ini akan lebih mesra lagi atau diakhiri dengan kelapangan. Tapi aku tak ingin mengakhiri hubungan ini. Mulut-mulut berbisa banyak mempengaruhiku. Membuatku semakin terpojokkan dan merasa terperosok. Mereka tak pernah mengerti cinta sejatiku. Mungkin suatu saat nanti mereka akan terpesona dan terpukau degnan cinta sejatiku. Akan kubuktikan cinta sejati yang akan mengantarkan kebahagiaan, meskipun awalnya beribu-ribu penderitaan dan penyiksaan. Meskipun harus terkorbankan dan mengorbankan gejolak jiwa, hasrat jiwa dan cinta-cita. Aku tak akan terpengaruh dengan manisan berbisa. Biarlah aku tersiksa dan menderita. Saat ini di pojok kamar ini, di malam yang selarut ini aku sedang menderita.

Menghadapi UTS, aku tak bisa belajar malam harinya. Aku masih belum pulih dari sakit leherku. Aku hanya bisa berbaring dan hanya bisa mendengarkan temanku, Aceng Abdurrahman lagi belajar persiapan UTS. Ia menginap di kosanku. Meskipun aku tak sempat belajar dengan baik tadi malam, tapi aku bisa mengisi soal-soal ujian. Selepas ujian aku mengerjakan tugas Akuntansi, caraku sendiri. Aku tak bisa konsentrasi penuh menyimak materi dosen. Pikiranku bercabang. Sesekali aku menoleh padanya. Ia begitu tampak kelesuan.

Setelah pertengkaran denganku ia jadi banyak diam dan tak tahu apa yang dia pikirkan. Aku menyesal telah menambah beban pikirannya. Padahal begitu bejibul masalah di tempat kerjanya. Semoga dirinya tersepuhkan menjadi pribadi terbaik, menjadi permata berlian yang tiada terkira harganya. Sesungguhnya apa yang kulakukan terhadapnya, maksudku ingin menyepuhnya supaya menjadi emas yang mahal tiada terkira. Tapi tindakanku malah sering disalahartikan. Tapi apapun keadaannya, sampai kapanpun ia membenci dan menyakitiku, aku akan tetap mencintainya. Kecuali Tuhan berkehendak lain. Semoga saja Tuhan merestui cinta ini dan menyatukan cinta ini. Menerangi gelapnya dunia ini agar cintaku direstui dalam perjalanannya. Di bawah naungan cahaya-Nya.

Sore hari sekitar jam tiga, dimulai ujian lisan Statistik. Kenapa aku seolah-olah bodoh. Mungkin aku memang bodoh. Sehingga tak bisa memberikan jawaban memuaskan. Aku memang bodoh. Ketika berbicara dan berdiskusi saja banyak hal yang aku ingin seperti banyak orang. Mereka serba tahu dan bisa menyampaikan ide atau gagasan yang bisa dimengerti. Tapi bagaimanapun aku sudah berani membuat shock terapi pada temen-teman. Meskipun kurasakan sangat pahit. Ibarat pil jamu tradisional yang pahit, tetap saja diminum supaya membawa kesembuhan.

Aku sering berkata di hadapan temen-teman bahwa jangan perlakukan perempuan hanya sekedar seonggok daging. Ia memiliki jiwa yang siap membumbung tinggi, mengepakkan sayap hidupnya dalam membawa kita pada taman kebahagiaan dalam cahaya Tuhan. Hargailah perempuan bukan sekedar perempuan. Karena ia memiliki jiwa yang tak terkalahkan oleh siapapun. Ia memiliki kekuatan yang tak tertandingi. Karena dia adalah manifestasi kehadiran Tuhan. Semakin dalam kau menyelami jiwa perempuan, kau akan menemukan mahligai permata berlian yang tidak ada lagi yang amat berharga di dunia ini selain dia.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori