Oleh: Kyan | 25/11/2006

Adalah Anak Panah Kehidupan

Sabtu, 25 November 2006

Adalah Anak Panah Kehidupan

**

Malam semakin pekat, hatiku pun semakin gelap. Tak bisa  melihat terangnya purnama dan pualamnya semesta. Pikiranku ricuh tak menentu. Tak tahu apa yang kurasakan. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Orang-orang memaksaku berpikir bahwa aku tak dicintai oleh siapapun. Sepintas argumennya bisa diterima, “Kemarin kena musibah, apakah ia memberi simpati dan menengok keadaanku?” Kuakui ia tak mengungkapkan apa-apa padaku sebagai simpati. Dia tahunya pun setelah beberapa hari. Setelah ia tahu pasti sangat kaget dan kekagetannya diungkapkan padaku?

Semoga permohonan maafku disampaikan padanya. Aku hanya merasa dekat dengan adik kakak sepupunya. Sementara dengan dirinya sampai kapan aku baikan lagi. Sakitnya dia harus kutebus dengan segala kebaikanku. Aku harus menebus kesalahanku dengan beribu-ribu kebaikan terhadapnya. Apa yang mesti kulakukan terhadapnya. Haruskah kuhentikan segala pengharapanku. Orang-orang memaksaku berpikir bahwa ia tak pernah mencintaiku. Tapi tak bosankah aku terus berharap. Apakah tak ada yang lebih baik darinya.

Aku tak mengerti dengan diriku. Tak tahu kenapa aku begitu sangat mencintainya. Aku seolah-olah tak bisa bergerak dan berpaling dari menatap kehadirannya. Aku sungguh mencintainya, melebihi yang lain. Aku tak bisa berpaling darinya. Sampai kapan aku tersiksa begini. Padahal pikiranku menyimpulkan ia tak mencintaiku. Tapi kenapa aku selalu saja masih berharap padanya. Tak adakah wanita lain yang lebih baik. Aku hanya ingin dia yang kucintai. Mungkin pengharapanku akan berakhir ketika ia telah menyatu dengan pilihannya. Atau aku akan tetap menantinya sampai kapanpun sampai kutunggu jandanya. Sebegitunya aku ini. Aku bertekuk lutut oleh cintanya.

Tuhan, tunjukkan dan bimbinglah daku ke jalan cahaya-Mu. Engkaulah yang memberi perasaan ini. Engkau maha tahu apa yang saat ini kurasakan dan kuinginkan. Engkau yang mengizinkan pikiranku selalu teringat padanya. Aku jatuh cinta padanya. Adakah maksud lain dalam mencintainya. Adakah tujuan lain, ketika aku mengharap cintanya. Apakah aku merasa terpaksa mencintainya. Apakah cinta ini akan terhapuskan suatu ketika. Entahlah saat ini aku merasakan cinta yang teramat besar hanya padanya. Jika dia bukan milikku, akankah aku merasakan cinta yang lebih besar lagi.

Aku adalah anak panah yang dilepaskan oleh busur kehidupan. Kita akan senantiasa berjalan menuju arah takdir masing-masing. Keterpisahan dan kebersatuan dalam ruang dan waktu, semoga tetap dalam satu esensi, satu jiwa dalam cinta. Engkau bunga mekar di taman senja. Jiwamu mengerang dan terbang membumbung tinggi. Menembus sekat-sekat fatamorgana. Engkau berparas kecantikan Sakuntala dan Asiyah. Engkau berhati kesunyian. Dalam dirimu terhimpun jiwa-jiwa baru. Kepak sayapmu meluluhlantakkan segala rupa warna keangkuhan.

Aku ingin semua berjalan seperti semula. Kuperbaiki hubungan yang tergoyahkan. Aku berjanji padamu akan memberikan sesuatu. Akan kuberikan lukisan dia padanya dan semoga dia mau memaafkan kesalahanku. Aku hanya melakukan segalanya demi dirimu. Demi kebaikan dia, agar ia bisa merasakan dan membedakan manis dan pahit. Meskipun pahit niscaya akan membawa pada kemanisan. Hanya perlu kesabaran. Bukankah kesabaran itu lebih baik. Dan ridha adalah puncak tertinggi pendakian. Aku berharap semuanya bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Aku harus bersikap biasa saja. Segala kekecewaan kadang tak sanggup kutanggung. Aku semakin merasa seperti bocah tanpa tumpuan. Seorang anak yang kehilangan mainannya. Aku seperti anak kecil yang masih ingusan. Semoga saja aku semakin dewasa. Hari-hari hidupku mendapat pencerahan dan keceriaan. Meskipun dalam kesendirian dan kesunyian. Aku berpikir mungkin aku telah kalah sejak dalam pikiran, maka aku kalah. Dalam tindakan pun aku pasti sudah kalah. Oh ibu.

Aku sadar semakin sadar. Aku harus bergerak ke arah yang lebih baik. Aku harus mampu berdiri tegak melawan angin keterasingan. Aku harus teguh pada pendirianku sendiri. Jangan terombang-ambing tanpa makna dan tujuan. Aku harus semakin hidup. Terkenang kisah lalu dan kuimpikan masa depan. Aku tak akan pernah tahu akan jadi apa aku ini. Akan berada dimana satu dua tahun dari saat ini. Apakah aku masih termenung dan semakin dalam kekecewaan. Semoga aku tetap tegar meski malam semakin kelam dan siang semakin mengancam. Aku hanya terlingkup ruang dan waktu. Dalam kesendirianku aku ditakdirkan mungkin untuk sendirian di jalanan ini. Kesedihan dan kebahagiaan bercampur dan terasa hambar kurasakan. Semoga dapat meninggikan pekatnya semerbak keharuman bagi yang mencium aromanya.[]

**

Logo asi7 anyar


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori