Oleh: Kyan | 28/11/2006

Pelatihan KKMB di Wisma Bulog

Senin, 28 November 2006

Pelatihan KKMB di Wisma Bulog

**

Hari ini aku bermalam di Wisma Bulog Jakarta. Aku akhirnya ikut juga training Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) dengan memakai ‘surat sakti’. Sangat menyenangkan tapi selalu teringat ini adalah amanat dari bangsa dan negara. Karena semuanya dibiayai dari uang rakyat. Aku harus bersungguh-sungguh dan mendapatkan sesuatu dari training ini dan bisa diberikan pada kemajuan bangsa. Namun aku selalu merasa belum mendapat apa-apa dari apa yang sudah kujalani. Dari kuliah pun aku merasa belum mendapat apa-apa, meskipun nilai-nilaiku bagus. Semoga ini sebagai pertanda aku haus akan ilmu. Selalu merasa tidak cukup dengan ilmu yang telah kudapat. Aku berniat telah memiliki kesungguhan. Aku berusaha untuk bersikap adil sejak dalam pikiran. Semoga aku tidak keliru dalam menjalaninya.

Mendapat kesempatan mengikuti training selama seminggu ini. Semoga bisa mengantarkanku pada gerbang kesuksesan. Hari-hari hidupku semakin optimis dalam menatap masa depan. Aku yang selalu terjatuh dan merasa kalah ketika ingin mendapat cinta sejati. Aku punya modal atau bekal dalam menjalaninya. Aku tidak akan tersiksa lagi karena sudah mendapat bekal dalam meraih cinta sejatiku, yaitu cerita kepedihan demi kepedihan.

Sewaktu perjalanan menuju Jakarta aku termenung. Biarlah saat ini hari-hari ini, masa-masa ini tidak dicintai oleh siapapun. Memang aku tidak pantas dicintai oleh dia atau oleh siapapun. Karena saat ini masih belum ada yang bisa diharapkan dariku. Tapi tunggu suatu ketika, aku akan berjuang untuk menyembuhkan segala luka. Aku akan bersungguh-sungguh. Saat ini aku hina, tapi tunggu suatu saat nanti aku akan berbeda atau masih seperti semula. Semua yang telah menyakitiku dan memberikan kepedihan akan merasa menyesal jika tak membalas cintaku. Aku bukannya ingin menyakitinya lagi. Tapi mestinya semua perempuan dalam memilih harus mempertimbangkan niat tulus dan semangat juangnya laki-laki, meski saat-saat sebelumnya ia tak memiliki apa-apa.

Mereka harus ingat kisah Nabi Musa ketika baru sampai di negeri Madyan. Ia tak memiliki apa-apa dan hanya pasrah dan merasa faqir. Tapi  ia tak diam, ia menolong sesiapa yang butuh pertolongan. Harus diingat juga Nabi Musa pun mempunyai badan yang sangat kuat berorot. Sedangkan aku kerempeng, begini kuat apa. Dari kisah Musa apakah aku mesti ikut fitness supaya bodiku gak kurus kerempeng kerontang begini. Dia bilang ‘kayak tengkorak’. Meski aku sudah banyak makan, tapi selalu saja tidak membikin jadi daging. Apakah harus membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang mengecewakan. Aku selalu terkecewakan dengan apapun dengan siapaun. Apakah aku tidak pandai bersyukur.

Ya Allah ampuni aku bila kurang bersyukur atas pemberian. Saat ini aku mengikuti pelatihan KKMB kutemukan hal-hal baru dari yang aku dapatkan dari bangku kuliah. Materi pelatihan hampir-hampir sama dengan materi kuliah. Aku menyadari sekarang, aku mendapatkan sesuatu dari kuliahku. Sebelumnya selama ini kurasa tidak mendapat apa-apa dari bangku kuliah. Tapi sekarang aku semakin pede dengan bidangku. Banyak orang yang masih ada di bawahku. Akupun jangan bangga dengan apa yang telah kudapatkan. Aku harus lebih meningkatkan lagi stimulus otakku. Dari kuliahku dan  pelatihan serta membaca buku-buku ekonomi, masa depanku tidak akan jauh dari itu. Tapi aku tidak ingin hanya sekedar jadi praktisi. Aku ingin jadi dosen, konsultan keuangan, syariah terutama dan penulis. Aku sedang menjajaki menuju arah itu. Skill yang baru kumiliki belum mencukupi. Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat.

Ada sesuatu yang ingin kuceritakan pada teman-teman di kampus. Alhamdulillah saya mendapatkan hal-hal baru dari pelatihan KKMB. Tapi secara umum materi yang disampaikan sebenarnya itu-itu juga seperti yang kita dapatkan dari kuliah kita. Hanya sekedar mereveiwe materi kita. Jika kiat serius memahami materi-materi kuliah kita, niscaya otak kita isinya akan sama punya referensi yang sama. Saya merasa lebih memahami materi-materi kuliah kita. Tidak sia-sia aku mengikuti pelatihan. Aku jadi banyak mendapatkan jaringan silaturahim. Kita harus pede. Lapangan kerja buat kita masih luas. Apalagi dengan skim syariah.

Dalam masa-masa istirahat aku teringat seseorang itu. Keberadaannya dalam sanubariku begitu mematri, sehingga kapanpun dimanapun aku selalu teringat padanya. Apakah aku yang membuat–buat hal ini. Sebuah rasa datang dengan sendirinya dan tak berlogika. Mungkin karena aku mengingatnya. Ia sudah terjun ke dunia lapangan dan pasti menemukan banyak hal yang bisa disampaikan dalam diskusi. Andaikan aku banyak bercengkrama denganya mungkin aku bisa mendapatkan permasalahan lapangan yang bisa kusampaikan di forum. Tapi sangat disayangkan. Karena diantara cinta dan benci terjadi efek lain. Maka tak ada transformasi.

Cinta hanya naluriah tapi hal lain jangan terkorbankan. Cinta hanya spirit dalam semuanya. Dia hanya memperbincangkan permasalahan lapangan dengan orang-orang lapangan lagi. Menurutku coba kita diskusikan dengan teman-teman kuliah. Karena sesungguhnya teori-teori di bangku kuliah adalah teori atas permasalahan lapangan. Teori yang diangkat dari lapangan yang disintesiskan dengan postulat-postulat atau nilai-nilai yang ada. Aku akan menyampaikan hal ini padanya. Supaya semuanya mendapat pencerahan. Kita tercerahkan, jangan ada yang dibungkam. Jangan ada yang dikungkung dalam pikiran. Keluarkan semuanya dan bicarakan pada semuanya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori