Oleh: Kyan | 30/11/2006

Terbuka Hati Pada Lain Perempuan

Rabu, 30 November 2006

Terbuka Hati Pada Lain Perempuan

**

Sudah hari kedua dan menjalani hari ketiga pelatihan KKMB. Di masa pelatihan aku menjadi lebih paham dalam analisa laporan keuangan. Seorang konsultan keuangan mempunyai prospek yang bagus. Aku jadi berpikir ingin sekali mendirikan lembaga keuanga mikro. Tapi aku masih khawatir akankah berkembang, akankah mendapat keuntungan, sehingga dapat menutupi biaya-biaya dan ada nisbah untung yang bisa dibagi.

Mungkin semua orang akan berpikir begitu. Solusinya kita harus berpikir positif melaui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang cermat. Suatu usaha harus dianalisis dengan cermat sehingga diperoleh hasil atau kesimpulan. Namun aku harus selalu belajar agar memperoleh ilmunya. Peserta lainpun tidak terlalu unggul dibanding aku. Aku sejajar dengan mereka, bahkan mungkin lebih. Kuncinya akau harus menjadi pendengar yang baik.

Bertemu pula dengan senior di kampus, namanya Pendi. Kami mengadakan diskusi. Dia banyak bercerita tentang pegnalaman hidupnya sampai hidupnya sekarang. Aku merasa kagum pada cerita kehidupannya. Dia kuliah dengan biaya sendiri dan sekarang ditawari kuliah S2 ke Malaysia oleh Excel. Akankah aku bakal seperti itu. Jaringan dia banyak mulai dari anak jalanan gengster sampai kementrian. Dia kenal dengan manajer Slank dan PHB. Dia dulu tidak berpikir bakal seperti ini sekarang. Bisa punya rumah sendiri dan mempunyai lapangan pekerjaan untuk orang lain. Ia bercerita pada kami bahwa selalu saja ada tawaran bisnis. Mempunyai laptop sendiri dan hal-hal keceriaan dan kebahagiaan lain. Kadang punya uang banyak kadang tidak memiliki sama sekali.

Dia bilang hanya selalu pasrah pada-Nya. Agar selalu di jalan-Nya dia bersabar dan bersyukur atas apa yang dijalaninya. Aku harus bisa bercermin pada jalan kehidupannya. Dari orang yang tak memunyai apa-apa, bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa akhirnya mendapat segalanya. Aku harus berpikir positif. Aku berpikir positif padanya.  Karena apa yang diceritakannya baru cerita saja, belum disertai bukti empiris. Aku tidak bisa melepaskan diri dari mind-set yang ada yang artinya itu waspada. Sesungguhnya selain bukti empiris, ada bukti intuitif yang intengable. Dan itu keluar dari kedalaman diri. Mengasah kecerdasan intuitif menurutku melalui pengobatan penyakit hati, seperti prasangka buruk, iri dengki takabur dsb. Melalui sikap pasrah pada-Nya. Aku hanya ingin perjalanan menuju takdir Tuhan. Aku adalah sebuah syair hasil gubahan komponis yang bisa dinyanyikan dengan merdu yang membikin telinga bening.

Aku akan bercerita pada teman-teman hasil dari training dan banyak bertemu orang-orang, termasuk dari senior kampus itu. Aku telah mendapat sayap-sayap yang siap mengepak tinggi. Tapi tetap saja belum yakin karena belum terjun ke lapangan. Karena dari lapangan bakal memperoleh segalanya. Maka bagi mereka yang terjun ke lapangan, aku merasa kagum. Padanya selama ini karena dia sudah terbiasa di lapangan. Dia memiliki jiwa semangat dan tekad yang membumbung tinggi. Aku selalu kagum dan cinta karena semua itu. Makanya tak bisa berpaling darinya. Meskipun sampai saat ini menderita dan terderitakan olehnya.

Aku akan banyak bercerita tentang kehidupanku, kisah cintaku dan masa depanku. Aku tidur jam dua pagi. Karena terlalu banyak cerita, akhirnya tidur kemalaman. Padahal stamina harus tetap fit dalam mengikuti pelatihan. Aku selau teringat pesannya, “Optimalkan mengikuti pelatihan ini dan bersungguh-sungguhlah”. Namun aku tetap saja merasa kalah dibanding dia. Ia sudah terjun ke lapangan sedangkan aku masih berkutat dalam konsep. Aku masih tersibukan dengan kuliah, organisasi dan menyendiri.

Kuceritakan kisah cintaku pada teman sekamarku. Ia menyarankan supaya aku bersikap open terhadap perempuan lain. Kita selalu mengharap dan memikirkan dia, sedangkan dirinya sendiri tak pernah memikirkan dan ingat pada kita. Kalau memang tak memberikan kepastian, lebih baik mundur saja. Begitu nasihat teman sekamar pelatihan padaku.

Ditolak itu biasa. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Memang aku belum siap segalanya. Jika aku meminta kepastian, jawaban yang ia berikan akan seperti apakah. Terbesit di pikiran ia bakal menolak. Tapi aku ingin tahu langsung dari mulutnya. Selama ini belum meminta kepastian, mungkin karena aku belum siap menerima jawaban. Apakah ketika ia menolakku, aku akan berhenti mengejarnya. Sisi lain aku tak ingin termasuk cowok yang cepat menyerah dan  putus asa. Aku selalu ingin meraih apa yang kuinginkan. Mungkin aku menunggu sudah lebih dua tahun dan entah sampai kapan. Untuk saat ini, haruskah kuputuskan berhenti berharap. Aku ingin menghentikan segala pengharapanku. Tapi biskah aku melakukannya.

Memang butuh waktu untuk melupakan segala kenangan manis dengannya. Untuk melupakan kenangan harus membuat kenangan yang lebih manis dengan seseorang yang lebih dari dia. Penyakit dan obat adalah sama-sma racun. Penyakit adalah racun yang lemah, sedangkan obat adalah racun lebih ganas. Maka penyakit kalah oleh obat. Begitupun cinta yang lalu harus dibunuh dengan cinta yang lebih mengagungkan. Itu yang harus kulakukan bila aku ingin berhenti berharap padanya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori