Oleh: Kyan | 01/12/2006

Pulang Dari Djakarta dan Lukisan Bidadari

Kamis, 01 Desember 2006

 Pulang Dari Djakarta dan Lukisan Bidadari

**

Malam ini aku sudah di Bandung lagi. Berangkat dari Jakarta tadi jam tiga sore. Aku tak jadi ke Pasar Minggu menemui Nenk Titin, karena berabe membawa barang-barang perbekalan selama seminggu kemarin. Kami sampai di Bandung lagi jam tujuh malam. Aku merasa lelah dan ingin segera tidur. Tapi pekerjaan lain sudah menunggu. Aku harus menulis segala pengharapnku dan cita-ctaku. Aku harus membuka cakrawala berpikir dan perasaanku. Aku harus menambah pengalaman dan mencari seorang yang menurutku akan lebih baik dibandingkan dengannya.

Aku harus meluaskan pergaulan yang tidak hanya bercokol di kampus. Aku akan meluangkan waktu tuk menemui teman-teman yang ada di kampus lain. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan, kesendirian dan kesepian. Aku akan ceria dan bahagia di dunia baru. Kuyakinkan diri bahwa ada perempuan lain yang lebih baik dan akan menyanyangiku lebih dalam. Dunia baru cepat atau lambat akan terbuka menyambutku. Aku tidak akan bersedih dan berputus asa lagi.

Aku yang merasa tersakiti olehnya. Hatiku telah tergores meski sesungguhnya aku masih mencintainya. Aku sangat menyayanginya. Kupikir meski berpegang teguh pada prinsipnya, tapi aku hanya ingin merasa dicintainya. Jika ia hanya  menganggapku sebagai teman saja, aku tak akan memaksa seseorang supaya mencintaiku. Mungkin semestinya aku pun harus menganggap dia hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih dari yang kuharapkan.

Aku yakin hidupku akan semakin baik. Meski aku selalu terjatuh dan terlunta-lunta. Betapa pedih hatiku akhir-akhir ini. Meskipun ia sekarang mulai respek padaku. Tapi itu cuma perasaanku saja yang ingin membahagiakan diriku sendiri. Memang beberapa hari ini ia tak biasanya memebalas sms-smsku. Padahal hari-hari sebelumnya ia sangat jarang sekali ngebalas pesanku. Biasanya dia membalas hanya jika benar-benar penting baginya. Dengan jarangnya dia membalas pesanku, aku jadi merasa tidak penting baginya.

Memang aku bukan orang penting. Aku bukan orang luar biasa di hadapan dirinya. Aku tak diperlukan kemunculannya. Jika pun aku sering dihubungi hanya karena butuh saja. Aku hanya sebagai pelengkap yang tak spesial. Sering ketika aku ingin bicara dengannya, ia selalu saja menerima telepon atau menelepon entah dengan siapa ia bertelepon ria dengan begitu lama. Nyatalah memang aku bukan orang penting baginya. Aku tidak penting bagi siapapun. Biarlah segala apa yang kulakukan untuknya menjadi hutang budi bua kutagihkan suatu saat nanti. Dia berhutang banyak padaku dalam rekening bank hubungan.

Hutang ibarat senjata. Hutang adalah senjata. Orang menjadi kaya kebanyakan dengan menggunakan uang orang lain. Begitupun dengan hutang budi dengan aku banyak memberikan ‘pinjaman’ kebaikan pada mereka. Aku ingin punya lembaga keuangan seperti Muhammad Yunus pemenang Nobel Perdamaian itu. Beliau mendirikan lembaga keuangan mikro yang memberikan pembiayaan kepada para wanita. Aku ingin melakukan hal serupa. Tapi rencana itu mungkin bisa kulakukan setelah menikah, karena begitulah yang kutulis dalam peta kehidupanku. Aku ingin mendirikan lembaga keuangan setelah mendapatkan banyak pengalaman.

Aku ingin pergi ke Singapore. Karena di sana telah ditegaskan oleh pemerintahannya, negara Singapore sebagai pusat lembaga keuangan syariah Asia. Kenapa tidak di Indonesia? Seharusnya Indonesia yang menjadi pusat ekonomi syariah. Yang menjadi hambatan salah satunya adalah katanya tidak ada kesepakatan para ulamanya dalam menyikapi soal bunga bank.

Dalam hal tertentu demi hal-hal yang lebih penting, ulama harus seia sekata demi kemaslahatan umat. Pendam dulu ego golongan dan sok intelektualis. Tapi perbedaan faham jangan menyurutkan langkah yang berbeda. jangan menghalangi kerja konkrit orang yang mau bergerak. Apakah yang sedang aku lakukan? Akankah membawa perubahan bagi diriku, keluargaku, masyarakat, bangsa dan agama. Atas semua yang telah, sedang, dan akan kulakukan?

Lukisan bunga bidadari itu akhirnya kuantarkan ke kosannya. Di sana cuma ada Nik, sepupunya. Kusertakan sebait puisi dan kata-kata yang ingin kusampaikan. Aku menyampaikan beribu terima kasih yang tak terkira padanya atas kebaikannya selama ini. Kusampaikan sejak mengenalnya aku telah merasakan keceriaan kebahagiaan dan kesedihan ketika bersamanya. Aku telah belajar darinya dalam setiap hal. Aku sudah berani dan mampu bertahan menunggu selama dua tahun. Aku tak pernah berpaling darinya selama ini, bahkan aku telah menyakiti banyak perempuan demi mengharap cintanya.

Kalau dia tak luruh jua kenapa juga aku tetap mengemis padanya. Kuyakinkan diri aku yakin bakal mendapatkan seseorang yang sayang padaku. Mulai sekarang aku harus bersikap terbuka dan mungkin harus lebih agresif untuk mendapatkan perempuan yang aku idamkan. Tapi aku masih ragu dengan langkahku. Bagaimana kalau dia sebenarnya menginginkan aku. Karena perempuan hanya bisa diam. Meskipun diam, tapi cintanya sangat dalam. Apakah aku masih mau menerimanya. Aku sudah banyak tersakiti dan itu sulit terobati. Bekas luka tak  akan terhapuskan. Apalagi dia selalu ego. Aku harus belajar berpaling darinya. Atau kuhentikan saja perjuanganku untuk mendapat cinta sejatiku. Lebih baikkah cinta sejati itu datang dengan sendirinya menghampiriku.

Memang soal perempuan membuyarkan konsentrasiku dalam merajut masa depan. Kucuekin tetap saja menghantui pikiranku. Hidupku penuh dengan lamunan yang tiada akhirnya. Cinta seharusnya menjadi katalisator dalam menjemput kesuksesan di masa depan. Tapi  kalau begitu adanya aku harus menganggapnya biasa saja. Aku tak boleh terlalu memusingkannya. Biarlah terselesaikan dengan sendirinya.

Persemaian dalam membangun rumah tangga perlu dengan kesiapan ilmunya. Diantara dua pasangan harus bisa memahami kekurangan masing-masing dan saling percaya dalam kondisi apaun. Terpenting jika telah diamanahi buah hati, harus bisa mendidiknya. Jangan seperti kejadian anak kecil dismack down oleh temannya akibat pengaruh TV, membuktikan orang tua tidak berhasil dalam mendidik anaknya. Orang tua belum bisa membimbing anaknya dalam memilih-milih mana yang baik dan buruk untuk perkembangannya. Kesalahan tidak mutlak berasal dari pihak TV yang  menayangkan acara smack down.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori