Oleh: Kyan | 06/12/2006

Tidak Terbukti, Dia Mencintaiku

Rabu, 06 Desember 2006

Tidak Terbukti, Dia Mencintaiku

**

Setiap mengerjakan tugas kuliah, selalu ada bebatuan terjal masalah. Masalah dengan komputernya. Datanya hilang karena komputernya jadi hancur. Begitulah permasalahan-permasalahan yang harus dilalui dalam menggoalkan tugas dosen. Belum referensi susah, ketika mengerjakannya tersendat halangan. Tapi semuanya harus dinikmati karena begitu adanya seorang mahasiswa.

Tapi akhirnya mengerjakan statistik selesai juga selama sejam kurang. Itupun dikerjakannya di rental. Komputer Robbi dari kemarin gak bagus juga yang akhirnya banyak waktu terbuang percuma. Malah kami makan-makan saja. Tapi dalam suasana seperti itu kami bisa berkumpul-kumpul. Peristiwa yang tak akan terlupakan dan sentiasa akan jadi kenangan bersama. Saat bersama-sama dengan teman-teman, meskipun membuang waktu tapi terasa keceriaan dan kebahagiaannya. Aku harus bisa membagi waktu, kapan untuk diriku sendiri dan teman-teman.

Lalu untuk seorang yang sangat kusayangi dan kucintai yang saat-saat sekarang seakan semakin jauh dengannya. Apakah aku sendiri yang menjauh atau dirinya. Ketakberdayaan dan ketakmampuanku memaksaku agar bisa melupakan dirinya. Namun semakin hari aku semakin merindu agar aku bisa bercengkrama dengannya lagi. Semoga hari yang akan kujelang rasa rindu itu terobati. Apakah dengan kehadirannya ataukah tergantikan dengan seseorang yang bisa memahamiku lebih dari yang lain.

Di sini saat ini aku merasakan gejolak merindu. Namun di sana entah apa ang dirasakannya. Aku merasa sudah tak disayangi dan memang belum pernah disayanginya. Aku belum memperoleh bukti yang kuat bahwa ia pun sangat mencintaiku. Dosakah aku menikmati perasaan ini. Aku ingin mewujudkan cinta sejatiku yang pasti baru dia seorang. Hanya dialah yang saat ini kurindukan. Aku tak tahu bisa  merasakan cinta sedahsyat ini. Dan kenapa jua teman sekelasku sendiri yang sangat aku cintai. Kenapa tidak perempuan yang lain.

Mengerjakan tugas Manajemen Kredit sampai jam duabelas malam. Meskipun dirasa sulut tapi selesai juga akhirnya. Tugas ini bisa dikumpulkan tepat pada waktunya. Aku sangat menikmati pengerjaan tugas ini. Menjadi seorang mahasiswa ada problematikanya sendiri, bagaimana pula setelah lulus kuliah nanti. Keadaan bagaimanapun membawa problematikanya sendiri. Saat aku di sini banyak terpikir segala problema yang harus segera kuselesaikan. Aku termasuk yang cengengkah dalam menghadapi problema? Semua orang ingin dianggap dewasa dalam menghadapi setiap persoalan. Tapi persepsi setiap orang berbeda. Ah, biarlah yang lalu sudah menjadi sejarah dan nanti adalah mimpi saat ini.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa membeli monitor. Meskipun bekas tapi masih lumayan bagus. Karena katanya ini untung-untungan. Semoga saja aku mendapatkan yang bagus. Apakah termasuk gharar juga kalau membeli barang-barang bekas? Untuk mendapatkan barang yang masih baru, harus sedikit bersabar. Karena bersabar adalah lebih baik dibandingkan berpikir ataupun menulis.

Manusia juga selalu ingin lebih dan lebih. Untuk bisa memiliki monitor flat aku harus menambah Rp 150.000,- sudah dapat monitor semiflat, ingin diganti dengan yang flat. Keinginan itu harus dipendam dahulu. Kalau kebutuhan sudah terpenuhi, maka timbulah keinginan yakni berbagai pilihan. Karena manusia memiliki akal untuk mensiasati arah hidupnya. Manusia diberi kebebasan utnuk menentukan pilihan hidupnya. Ya Allah, bimbinglah daku agar pilihanku Engkau ridhai.

Aku harus berpikir bahwa menerima sedikit dari yang seharusnya dan memberi banyak dari yang seharusnya adalah sikap yang sangat mulia. Tapi terkadang aku dikondisikan jangan diam saja bila hak-hakmu dirampas. Apakah baik membiarkan hak-haknya dirampas oleh orang lain. Sesuatu terjadi pasti dengan izin-Nya. Mungkin baiknya usaha dan lakukan pembelaan dulu agar bisa mendapatkan hak-hakmu dengan cara yagn baik. Dan jika tak menghasilkan engkau ridhakan saja. Pantang menyerah dan juga tidak berpangku tangan. Semua harus dipikirkan dengan matang apa yang hendak dilakukan. Jangan takut melangkah dan beranilah meski berbuat kesalahan. Bergerak saja.

Lalu apakah kuliah segalanya. Mau UTS kok aku tenang-tenang saja belum belajar dengan sungguh-sungguh. Padahal aku selalu diburu waktu. Terkadang tak menikmati apa yang sedang dirasakan. Memandang hari esok harus mengerjakan banyak tugas. Bila dipikirkan saja tak akan pernah selesai. Tugas harus segera dikerjakan, bukan sekedar dipikirkan. Nanti juga bakal ada jalan yang ditemui agar bisa menyelesaikannya.

Semua tugas toh selesai juga sebagaimana yang diharapkan dosen. Mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Tapi tidak asal mengumpulkan saja. Harus bersungguh-sungguh dalam setiap hal. Aku berpikir dan bersikap begitu, tapi anggapan orang selalu serius saja tampanganya. Kelihatan lebih tua dan sangat tua dibanding usianya. Namanya orang akan selalu berkomentar dalam hal apapun. Jangan hiraukan dan pedulikan apa komentar orang. Karena akan menyusahkan dirimu saja.

Ibuku menelpon sudah ngirim uang. Katanya di Garut ada bapakku. Kenapa aku jadi tidak ngeh perasaan. Hati bisa disentuh dengan hati lagi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori