Oleh: Kyan | 09/12/2006

Tempat Terindah Dalam Pertengkaran Kecil

Sabtu, 09 Desember 2006

Tempat Terindah Dalam Pertengkaran Kecil

**

Kuliah pertama tak sempat masuk, karena aku datang kesiangan dan telat informasi jadwalnya lebih awal. Minggu depan aku tak boleh gak masuk lagi. Beberapa kali aku tak pernah masuk di kuliah Komputer. Masa nanti nilaiku jelek gara-gara jarang masuk. Padahal pagi-pagi Aril sudah datang ke ksoan mau ikut mengeprint. Tapi karena tugasku harus segera selesai, seolah aku tak memperdulikannyua. Semoga mukaku tidak kelihatan masam dan marah dalam benaknya. Kalau sedang serius begitu aku tak ingin diganggu.

Ganggu mengganggu memang tak luput dari hubungan antar manusia. Makanya sabar menjadi kunci. Meski gak sempurna tugas selesai dan setelah aku mandi, teman-teman satu kelompok datang. Aku tak boleh marah karena mereka semua perempuan. Tak pantas aku memarahi permepuan. Sebagai lelaki aku harus menjadi solusi bagi masalah mereka.

Bila dulu pernah marah pada orang yang kucintai karena itu telah beraninya merendahkan harga diriku. Meskipun sejenis harga diri untuk manusia bukan untuk Tuhan. Masih terngiang di benakku bagaimana ia telah memalukanku dengan begitu sangat. Semakin hari semoga aku bisa memaafkan dan melupakannya. Dan lukaku tersembuhkan dengan sendirinya. Terus terang hatiku masih belum tersembuhkan karena kata-kata merendahkan yang dia ucapkan padaku.

Di kelas anak-anak banyak bercanda. Dia bilang ke anak-anak dan mungin intinya ditujukan padaku bahwa ia telah memiliki calon. Katanya anak orang kaya, anak tunggal, jago bahasa Inggirs, dan enam tahun lagi akan menikah. Bohong atau benar tetap saja sangat menohok hatiku. Pria itu mungkin lebih baik dibandingkan aku. Sedangkan aku tak ada apa-apanya. Kukatakan lewat Reza apakah dia seorang manusia. Bisa saja fisiknya seperti manusia, tapi sangat rakus terhadap dunia dan hanya menjadi pemimpi ilusi. Manusia adalah becoming (menjadi) pembelajar mengejar hakikat hidup sejati.

Tapi ketika pulang sama-sama semuanya. Ia sempat menghampiriku dan bertanya ingin meminjam modul hasil dari Training di Jakarta. Padahal gak usah ditanya tentunya aku punya dan ada. Lalu ia sibuk lagi dengan teleponnya. Kelihatannya supersibuk dan aku dicuekan lagi. Memang dia selalu begitu. Satu dua kata obrolan, dipotong dengan menerima telepon atau menelepon. Baru ketika ia butuh sesuatu padaku, biarlah ia sendiri datang padaku. Aku tak ingin lagi seperti menjadi pelayan yang selalu patuh dan taat mengiktui semua keinginannya. Aku tak ingin menawarkan diri lagi.

Ketika kami nongkrong dan ia lewat dan kelihatannya memintaku mengampirinya untuk melanjutkan pembicaraan tadi. Tapi ia tak bilang apa-apa dan aku cuek saja tak menghampirinya. Tapi kupikir akan baikkah apa yang kulakukan. Jangan-jangan dengan sikap dan tindakanku malah membuat ia makin membenciku. Itu hanya menguatkan statement bahwa aku tuh memang pengecut. Memang aku pengecut

Nongkrong sekitar sejam di depan halaman kampus. Berhenti sejenak menikmati suasana alam. Sepertinya aku semakin sedih saja hari-hariku sekarang ini. Apalagi kalau sudah menyinggung tentang dia. Pikiranku tak bisa lepas darinya. Mestinya cinta itu menjadi katalisator untuk menggapai impian. Tapi cinta memang deritanya tiada akhir. Kurasakan juga akhirnya betapa dahsyatnya perjalanan hidupku menapaki cinta. Diakah cinta pertamaku sesungguhnya? Jika tak sampai memiliki dirinya, aku bakal mati gentayangan?

Kenapa aku sangat merasakan cinta sekeras ini. Dunia ini telah berumur panjang. Telah ada beribu-ribu orang yang pernah merasakan cinta seperti ini. Pasti pula telah ada resep penyembuhannya. Katanya ungkapkanlah pada cinta itu dan jangan dipendam sendiri. Aku sudah mengungkapkannya. Hanya saja jawabannya aku belum tahu yang sesungguhnya. Apakah ia mencintaiku atau ia hanya menghargaiku atas apa yang telah aku lakukan dan korbankan untuknya.

Kenapa juga hati kecil ini mengatakan sebenarnya ia pun menginginkan aku. Apa yang telah menjadi buktinya. Untuk meminta kejelasan belum ada kesempatan yang pas. Malah aku telah mengatkan padanya bahwa aku tak akan berharap apa-apa lagi. Aku meminta maaf jika telah menggangguku. Dan sejak sekarang aku tak akan mengganggunya lagi. Apakah kata-kataku ini sebagai ‘goodby’ duluan sebelum cinta terdeklarasikan?

Percuma juga kalau sekedar temenan yang seperti dulu saling bantu, bila hanya membuat diriku semakin sakit saja. Lebih baik aku menjauh dan makin menjauh dari memandangnya. Meski aku melihat dia seperti masih ingin temenan dan sangat butuh pada bantuanku. Ia butuh hanya pada pertolonganku saja, bukan pada cinta yang kuberi dengan setulus hati. Apakah aku telah berprasangka jauh dari yang sebenarnya. Klarifikasi padanya mana bisa. Sekarang dekat saja aku tak mau. Karena hanya membuatku semakin gila saja.

Semoga ada jalan supaya mejadi clear masalah ini. Meski andaikan nanti telah jelas, tetap bakal ada dua kemungkinan. Aku bahagia atau aku semakin sakit dan gila sejadi-jadinya. Aku akhirnya kecewa dalam penantian selama ini. Tapi aku harus berpikir positif dan optimis. Memang hati tak bisa dibohongi dengan segala gelisah demi gelisahnya. Hanya karena cinta, ditambah masalah keluarga, semua membuatku tidak tenang. Betapa banyak permasalahan yang melingkupiku. inilah soal cinta dan keluarga.

Kakak-kakakku belum bisa hidup berdampingan. Ini malah saling memusuhi, bukan saling menyayangi. Kalau sudah berkaitan dengan perebutan kekayaan orang tua, permusuhan antar saudara sudah jadi fenomena dalam sebuah keluarga. Dulu kakak pertamaku dengan kakak yang perempuan terjadi konflik soal tanah dan sampai saat ini belum selesai. Sejak pertengkaran itu sampai sekarang dua kakakku belum pernah bertemu lagi. Dan ini sudah berlangsung dua tahun lebh sejak aku baru akan kuliah. Entah kapan dan harus bagaimana cara memperbaiki hubungan saudara supaya menjadi seperti dulu lagi. Semoga suatu saat akan baikan lagi.

Lalu sekarang konflik antara kakakku yang pertama dengan yang kedua. Permasalahan soal rumah yang sudah dibangun sejak aku kuliah dan itu  murni hasil keringat ibuku dan akupun memberi kontribusi, diakuinya hanya sebagai milik kakak yang pertama di hadapan kakakku yang kedua. Konflik berawal ketika A Dede, kakakku yang kedua pulang ke rumah dan kunci rumah yang selama ini dipegangnya diminta oleh kakak pertamaku, sambil bilang “Ini rumahku”. Barang-barang milik kakak kedua diambil dari rumah dan dibawa ke kakak yang perempuan ke Garut.

Sekarang kakak kedua meminta pada ibu untuk menjual saja rumah itu. Sampai-sampai ibuku berniat mau pulang untuk menclearkan masalah itu. Tapi kakak perempuan melarangnya. Alasannya karena aku. Kalau ibuku pulang lantas siapa yang akan memberiku bekal. Aku masih belum mandiri secara finansial. Kapan aku bisa mandiri. Pantas saja perempuan tak ada yang mau padaku. Karena aku belum kerja dan ‘kere’ banget aku ini. Tapi lihat saja nanti.

Lalu sekarang aku dengan ayahku. Kenapa aku malas untuk menemuinya. Ia sudah tak bisa ngapa-ngapain, karena kakinya yang dulu patah akibat tertabrak kambuh lagi. Katanya ke Garut naik angkot ngesod pakai pantat, karena sudah melepaskan jangka. Kenapa aku tidak merasa kasihan padanya. Apakah hatiku sudah sedemikian keras. Bagaimana hatiku ini untuk menemui bapak sendiri tak mau. Memang kesalahannya ia sudah tak memperhatikan aku ketika aku butuh figur seorang ayah. Ditambah lagi tak memperhatikan sehari-hariku makan tidaknya sehat tidaknya.

Tapi kenapa aku harus kecewa. Toh karena ini sudah menjadi takdir. Pasti tak ada ayah yang tak ingin memperhatikan anaknya sendiri. Apakah aku malu mempunyai ayah seperti dia. Ayah yang tak jadi apa-apa dalam sebuah instansi. Hanya jadi pengangguran berpuluh-puluh tahun dan hidupnya terlunta-lunta. Ia seorang pengangguran seumur hidup. Aku tak ingin jadi anak durhaka tapi belum siap untuk menemuinya. Karena tak ingin menemuinya, berarti dendam masih bercokol. Tapi ini bukan dendam atau tidak dendam, ada ruang hati yang masih belum menerima.

Ingin aku bercerita tentang masalahku saat ini pada seseorang. Tapi pada siapa aku berkata. Aku tak punya siapa-siapa dan haruskah dan pantaskah aku bercerita pada batu karang dalam gemuruh ombak di lautan. Seseorang yang selama ini aku merasa utuh ketika bersamanya apakah dia mau mendengar ceritaku. Mana bisa sekarang ini bukankah sedang bermusuhan. Semua orang pasti memiliki masalahnya sendiri. Mereka pasti sibuk dengan memikirkan bagaimana menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hidup penuh masalah dan biarlah masalah kupendam buatku sendiri. Biarlah tak ada yang peduli pada masalahku. Meski begitu aku ingin menolong siapapun bila ada orang lain yang bercerita dan butuh didengarkan. Apalagi seseorang yang kucintai dan kusayangi itu. Aku tak boleh keras kepala dan egois. Aku tak boleh marah karena ia telah menyakitiku. Pantas aku tersakiti tapi memang sepantasnya begitu. Karena aku bukan siapa-siapa, maka layak untuk disakiti. Aku tak akan marah lagi dan akan menampakkan paras ceria dan open minded pada siapa yang meminta pertolongan.

Di hari libur ingin aku menyendiri. Ingin kudekor ulang tata letak kamar kosanku. Ku hitung-hitung uang bekalku. Kemarin kakak perempuan datang ke kosan mengambil uang dari ibuku. Kuputuskan hari ini main ke Palasari. Aku hendak membeli Tafsir Al-Mishbabh 1 dan 11. Memilih-milih dan setelah cek di kosan ada yang sobek sampulnya. Selalu saja kalau pilih-pilih jadinya begitu. Karena kemarin menonton film AADC lagi jadi kepingin membeli buku Aku-nya Sjuman Djaya. Aku ingin belajar menjadi seperti karakter Rangga yang pendiam dan selalu penyendiri dan sering baca buku.

Memang karakterku seperti Rangga. Tapi aku bangga dengan karakterku sendiri. Apakah aku disebut aneh atau unik memang begitulah karakterku yang begitu adanya. Suka dengan karakterku silakan berteman denganku dan bila tak suka silakan pergi. Jangan kalau butuh baru dekat padaku. Lebih baik mengasyikan diri dengan hidupku sendiri. Paling tidak, tidak menyusahkan orang lain. Aku tak ingin karakter jelek dalam pandangan orang terhadapku. Karena aku begini-begitu adanya.

Bagaimanapun aku selalu berusaha untuk memperbaiki segala kekurangan dan kelemahanku. Aku selalu berusaha menampilkan yang terbaik menurutku. Dianggap terbaik atau buruk sampai terburuk sekalipun dalam pandangan orang, aku menyerahkan sepenuhnya pada pandangan itu sendiri. Aku yang dengan kelebihan dan kelemahanku, tak akan jadi sempurna seperti malaikat. Tapi adakah seseorang yang akan mencintaiku dengan kelebihan dan kekuranganku apa-adanya? Kuyakin ada makhluk perempuan tercipta untukku bersanding di mahligai pernikahanku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori