Oleh: Kyan | 11/12/2006

Menggamit-Gamit Satu Perasaan

Senin, 11 Desember 2006

Menggamit-Gamit Satu Perasaan

**

Pagi-pagi Reza sudah datang ke kosanku. Katanya mau kuliah Modal Ventura. Karena kemarin dia gak masuk. Ia katanya sudah kerja di BRI jadi waktu kuliah terganggu. Meski sudah manajemen waktu tetap saja semua gak bisa dilakukan. Ada yang harus dikorbankan dan bisa memilah-milah dalam menentukan prioritas. Karena dirasa semuanya penting, akhirnya dia gak sempat masuk pula kuliah Modal Ventura. Karena waktunya digeser. Memang dalam membuat kesepakatan baru, terkadang tak memikirkan akibat dan siapa yang dirugikan ketika melanggar kesepakatan lama.

Menunggu pun sangat merusak agenda orang lain. Makanya aku ingin selalu disiplin masuk kuliah jam sekian harus sudah ada di kampus lima menit sebelum dosen masuk. Idealnya harus 15 menit seperti dalam tata terbit ujian. Aku akan mencoba mau datang tepat 15 menit sebleum kuliah dimulai. Bila tak kunjung datang dosennya, aku bisa baca buku atau bercengkarama tentang  hal-hal yang bermanfaat.

Menikahnya Runi Khoerunnisa, di kelasku ada dua orang yang dikecewakan. Reza dan Yedi. Reza dan Yedi adalah dua lelaki yang mencintai satu perempuan yang sama, yaitu Runi yang akan menikah 7 Januari 2007. Bercerita tentang Reza, aku mendengarkan dengan khusyuk kisah perjalanan cinta Reza. Sungguh ia begitu tegar menerima semua yang telah dan akan terjadi pada dirinya. Seseorang yang sangat dicintainya dan itu adalah cinta pertamanya. Satunya lagi Yedi. Tapi kisah Yedi aku tidak tahu secara persis bagaimana kisahnya dengan perempuan yang akan segera menikah itu. Memang satu perempuan diperebutkan oleh dua lelaki. Karena cinta datang dengan sendirinya dan tak dipaksa.

Nasib kedua lelaki itu akankah sama denganku. Cinta yang kandas di tengah jalan, aku bisa merasakan jeritan tangis jiwa mereka. Karena sangat menyakitkan ditinggal sang kekasih. Karena peluang untuk mendapatkan kembali cintanya sangatlah kecil. Orang mau menikah dan itu sudah pasti harinya. Aku yang masih punya peluang untuk meraih cinta seorang yang sangat kusayangi masih terbuka lebar. Tapi sakit itu begitu besar. Aku menjalaninya saja dan menikmatinya rasa sakit itu. Karena sakit itu ternyata sangat membahagiakan bagiku. Aku sudah biasa bersahabat dengan kesedihan. Kuyakini kebahagiaan yang sejati akan kujelang.

Dunia itu berputar. Aku tak akan selamanya kecewa atau sedih dan kalut. Aku akan meraih ceria dalam bahagia dan kehangatan dalam dekapan cinta suci yang tanpa pamrih. Teringat kisah Nabi Musa ketika tiba di negeri Madyan, tanpa membawa apa-apa tapi akhirnya menemukan pernikahannya. Modalnya adalah menolong orang yang harus ditolong. Maka datanglah kebahagiaan demi kebahagiaan. Jodoh, pekerjaan dan perlindungan.

Aku rindu pada kisah panutan. Bagaimana kisah ayah dan ibuku dalam cinta tidak aku tahu. Sebab orang tua adalah cermin bagi si anak dalam menatap masa depannya. Begitulah pesan terakhir dari film Soulmate. Dian Sastro yang cantik itu memerankan seorang yang selalu teringat masa lalu keluarga dan dirinya. Seharusnya kehadiran pria bisa membawa perempuan dari masa lalunya menuju masa depannya yang penuh cahaya. Segala yang terendam dari kisah lalunya menjadi terlupakan dan merasa utuh ketika bersama dalam belaian mesra lelaki yang dicintainya.

Namun punyakah dia dan aku cinta sejati. Jika sekarang ini bersedih hati, di suatu saat nanti kesedihan akan tergantikan dengan kebahagiaan. Namun entah kapan itu datang. Ditunggu tidak ditunggu zaman akan silih berganti. Jika aku tak menerima keadaanku sekarang, zaman akan tetap berjalan meninggalkanku. Mengapa belum hadir cinta sejatiku, mungkin itu yang selalu engkau tanyakan pada dunia. Hukum mengatakan jika ingin menemukan cinta sejati, maka jadilah pencinta sejati. Tapi kalau dia tak mau apa jadinya.

Tak tahu pasti apakah ia mencitaiku atau tidak. Dan itulah permasalahan yang sesungguhnya. Sebab tak pernah menemukan kepastian dan hati tidak dapat dipalingkan, semua seperti membawa kemuraman. Haruskah aku tetap menantinya meski suara-suara menyuruhku mencari yang lain. Kenapa aku mengatakan tak bisa. Kenapa aku selalu teringat padanya. Kenapa aku selalu merindukannya. Kenapa aku hanya ingin kehadirannya dalam hidupku. Aku tak akan menyerah pada semuanya, karena aku bukan pencundang. Aku adalah seorang ksatria tanpa loba. Akulah pejuang, petarung, dan petangguh sejati.

Setidaknya dari cinta ini aku menemukan tempat berlabuh dalam setiap kesepianku, kebahagiaan sekaligus kehangatanku. Jikapun aku tak pernah dicintai setidaknya ia menghargai perasaanku. Dengan tidak seenaknya berkata-kata yang menyakitkanku. Tolong jangan tambah lagi bebanku. Bebanku sudah terlalu berat untuk kupikul. Mohon mau mengerti tentang keadaanku.

Sekarang ia sudah bersikap biasa di depanku. Entah apa yang menjadi gejolak di hatinya. Masihkah ia marah padaku karena sudah dibalik kata-kata kasarku padanya. Aku yang teluka karenanya, menjadi uring-uringan tak ingin sesuatu terjadi yang lebih menyakitkan lagi. Mungkinkah aku mati rasa jika terus mengalami kekecewaan karena perempuan. Aku tak sabar lagi jika terus-menerus lukaku kian menganga. Terus menggamit-gamit berpeluhkan luka lara yang menggelora. Semakin hari aku semakin sedih saja hidupku ini. Pantasnya aku lebih baik mati jika tak menemukan cinta sejati.

Dia mendengar dari temannya bahwa temannya pernah melihat lukisan wajahnya yang hasilnya dipampang. Ia menyuruhku mengembalikan foto itu. Ia tak mau wajahnya dipampang dimana-mana. Kukatakan aku tak memampang lukisannya dimanapun termasuk di kamarku. Temannya itu melihat sudah lama dan baru cerita tadi. Ia sangat sewot. Dia selalu saja egois. Dan itu yang membuatku dan orang-orang menjadi benci. Karena keegoisannya yang tak tertahankan. Benar saja dia harus dikeraskan lagi. Ketika aku diinjak harga diriku, aku akan balik menghinanya dengan sekeras-kerasnya.

Akhirnya sekarang ketika kutekan lagi keegoisan dirinya, akhirnya dia diam dan seperti tak ingin balik menyerang. Keegoisannya perlu ditumbangkan. Aku jadi tahu perempuan Jawa memang awalnya egois sangat egois. Tapi setelah dilawan akhirnya ia mengalah juga. Jadi jangan diam saja kalau diserang keegoisannya. Karena ia akan bertekuk lutut tunduk patuh pada keinginanku.

Begitukah jiwa semua perempuan. Ketika sudah bengkok dan berusaha untuk diluruskan tapi dengan cara kasar akhirnya bisa patah. Maka laki-laki harus meluruskan kebengkokannya dengan cara arif. Ada saatnya lemah lembut dan ada saatnya harus tegas setegas-tegasnya, bahkan keras. Menyelami jiwa perempuan tak akan ada habisnya. Selalu menemukan hal-hal baru yang menguatkan temuan lama. Sejuta kearifan sejak dulu sudah disampaikan mengenai perempuan. Namun hanya yang aku tidak tahu atau mungkin karena penampakkannya berbeda. Tapi sesungguhnya permasalahan manusia sebenarnya itu-itu saja.

Aku harus menerimanya apapun adanya. Aku tidak akan memperoleh IP nilainya sempurna. Sebab Praktik Asuransi Syariah aku mendapatkan nilai B. Salahnya sewaktu UTS aku banyak soal yang tak kujawab. Karena pada saat itu pikianku kusut dan tak bisa berpikir jernih. Memang takdirku harus mendapatkan B, harus kuterima. Sekarang satu nilai lagi yang belum keluar, yaitu Praktik BMT.

Aku harus memperjuangkannya supaya kuperoleh nilai A. Aku harus melobi dosen bersangkutan agar nilaiku bisa keluar. Aku tak ingin mengulang lagi karena sudah keburu waktu. Aku harus segera lulus dari MKS. Usiaku sudah menunggu tua. Aku harus segera kembali ke dunia kerja. Aku ingin cepat melanjutkan ke S1. Biarlah menjadi kelinci percobaan lagi, karena semuanya kembali pada diriku sendiri. Pokoknya aku menjalaninya secara pragmatis. Sekarang aku harus mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi.

Apakah aktivitas yang menyibukkanku terlalu sedikit. Selain kuliah, mengerjakan tugas ini dan itu, membaca buku, lantas apa lagi. Aktivitas segitu saja sangat menyibukkan. Buat membaca saja terlalu sedikit. Tapi itu pikiran tentang seseorang selalu ada dalam ruang hatiku. Katanya agar bisa melupakan dan menghapuskan segala kekecewaan oleh seseorang, libatkan dan sibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Saat ini peranku sebagai mahasiswa, organisatoris dan penggelisah. Aku ingin diriku bertambah peran, jadi pengajar, wiraswastawan dan penulis. Sebagai penulis baru sebatas menulis catatan harian dan merangkai kata kalau menyusun makalah.

Sebagai wiraswasta baru menghasilkan beberapa ribu pe harinya, bahkan tidak ada. Ingin punya rental kompuer dan bisnis yang berbau komputer. Ingin bisnis rongtone. Ingin belajar Bahasa Inggris, ingin yang mendukung perkuliahanku. Satu jalan yakni mempunyai komputer Pentium 4. Tapi sampai kapan aku bisa mengumpulkan uang sampai bisa mempunyai komputer baru.

Belum lagi hutangku harus bayar ke Dudi Rp 100.000,- Janji 2006 membeli Tafsir Al-Mishbah baru empat buku. Penting tidak penting membeli buku selalu jadi pikiran. Kalau sudah ada uang gak bisa diam ingin pergi ke Palasari. Pokoknya setelah kubeli Tafisr Al-Mishbah 15 jilid, uangku akan kupergunakan buat membeli komputer dan usaha. Membeli tafsir tanggung sudah tertulis sebagai target tahun 2006. Sedangkan membeli komputer adalah target 2007. Tapi sejak sekarang sudah sangat dibutuhkan.

Apalagi celah agar aku bisa mendapatkan penghasilan. Pendapatan dari komputer dan jasa pengetikan serta buku tak seberapa. Kalau bisa membuat artikel yang bisa dimuat di koran, bakal menghasilkan honorarium. Mencoba pula membuat cerpen atau novel. Bisakah aku dan mampukah aku membuat tulisan yang bisa dan layak dibaca orang-orang dan bisa memberi manfaat bagi pembaca. Aku sih belum mencoba menulis cerpen atau novel. Menulis puisi saja hanya buat sendiri atau untuk seseorang sesuai pesanan.

Ya Allah, tunjukkan jalan kepadaku agar aku bisa menjemput rezekiku. Aku selalu gelisah dan tak pernah diam menatap kecemasan. Untuk bisa mendapat penghasilan ingin aku bisa mandiri secara finansial. Aku selalu saja masih meminta  pada ibuku. Sedangkan aku sudah mau 24 tahun. Bagaimana nanti melanjutkan ke S1 yang SPP-nya Rp 600.000,- apakah itu bisa kuperjuangkan. Aku pasti bisa tapi selalu saja minta pada ibu, tapi sampai kapan. hanya Ibu yang sangat berarti bagiku. Tentu semua ibu bagaikan malaikat bagi anak-anaknya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori