Oleh: Kyan | 14/12/2006

Sebuah Cuplikan Dalam Novel

Kamis, 14 Desember 2006

Sebuah Cuplikan Dalam Novel

**

Kumulai meriset sebuah cerita novel. Aku ingin menghasilkan sebuah karya dalam hidupku. Rencana tahun 2007 semoga saja novel pertamaku sekaligus kelar pula Tugas Akhir kuliahku. Tapi sekarang masih bingung alur ceritanya harus bagaimana. Apakah sejarah masa kecilku dituangkan ke dalam novel tersebut. Masih sayang bila tulisanku diedit ulang. Sangat sayang jika cerita hidupku yang seperti novel, aku reka-reka ulang sehingga jauh dari keadaan sebenarnya.

Aku masih bingung tulisan yang akan kubuat. Sebagai novel atau biografiku sendiri. Namanya novel pasti fiksi, meski ada sebagian yang harus berdasarkan bukti fakta nyatanya. Setidaknya lika-liku kisahku bisa tertuang dalam sebuah kisah novel yang hendak kutuliskan. Bahan-bahan ceritanya sudah ada, tinggal menyempatkan waktu untuk melakukan riset.

Helvi Tiana Rossa bilang dalam pembuatan cerpen atau novel, yang lama itu risetnya, sedangkan penuangan ke dalam naskah cukup beberapa hari saja. Tapi itu bagi penulis besar, lantas bagaimana dengan penulis pemula. Ingin segalanya kutuangkan dalam tulisan. Segala kekecewaan dan kesedihan yang menjadi kisah hidupku ingin dituangkan ke dalam novel karyaku.

Ya Allah, mudahkanlah dan berilah petunjuk padaku untuk merampungkan segala jenis tulisan yang kubuat. Terutama pembuatan novel yang selama ini jadi geregetku. Aku bukan semata-mata menulis untuk menyambung hidup, tapi utuk mengisi hidup supaya lebih bermakna. Ingin aku menjadi penulis segala jenis tulisan. Orang-orang besar atau penulis-penulis besar, mereka tidak membawa gen kesuksesan warisan orang tuanya, melainkan mereka berlatih tak kenal henti dan tak pernah putus asa dalam menulis.

Begitupun dengan kisah cintaku, ingin menjadi sebuah novel. Seperti hari ini aku merasa dipenuhi dengan kecemburuan yang amat besar. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Aku tidak bisa menyentuh keceriaan dan kegelisahannya. Kulihat ia ceria dan tersenyum ketika ia menerima telepon. Entah siapa yang menelepon dirinya. Saudaranya, teman sekerjanya, atau seorang cowok.

Ya Allah, aku dihinggapi prasangka dan cemburu buta. Bukankah rasa cemburu itu membawa cahaya cinta. Apa yang kulihat membuatku semakin lunglai terkulai. Kenapa aku begitu tersiksa karenanya. Terapi apa untuk menyembuhkan rasa sakit ini. Rasa cemburu ini. Ya Allah, semua kukembalikan pada-Mu. Tanpa pertolongan-Mu kemana aku harus menggantungkan harapanku. Aku dan dirinya adalah milik-Mu. Segala perasaan ini pun, Engkaulah yang memberi rasa ini. Ternyata aku tersiksa dalam kemanisannya.

Meskipun bertambah satu kesibukanku, yakni membikin cerita novel. Tetaplah aku selalu teringat padanya yang wajahnya selalu terbayang di benakku. Ketika mengingatnya, aku merasa hati ini semakin perih. Aku merasakan kepedihan dan keperihan luka cintaku. Semakin dalam kurasakan cintaku padanya. Aku sangat merindukan belaian mesranya. Kenapa luka ini belum tersembuhkan juga. Hanya membuat hatiku terasa diris-iris. Aku sudah sakit jiwa karenanya.

Mohon ketenangan duhai ya Allah. Setiap sehabis salat Maghrib kubaca Tafsir Al-Mishbah. Aku tidak bisa konsentrasi penuh membaca. Pikiranku bercabang dan selalu disesaki dengan itu-itu saja. Aku telah dikacaukan dengan perasaan yang bergejolak di dada. Duhai, tahukah kau risaunya hati ini. Kau telah memberikan kegelisahan padaku. Ingin aku menangis di hadapanmu. Permasalahan keluargaku tak sampai membuatku ingin menangis, tapi hanya karena engkau aku jadi gila dibuatnya. Benarkah dengan segala cerita yang pernah ia utarakan pada teman-temannya bahwa ia akan segera menikah? Dan kabar terakhir akan melaksanakan resepsi di Bandung.

Sulit untuk aku tidak percaya. Tak mudah aku percaya akan segala omongannya. Dia yang telah jauh dan semakin jauh. Aku tak tahu lagi kabar terakhir tentangnya di tempat kerjanya. Dulu aku tahu ada seseorang yang suka padanya. Lagian dia lebih senang berada di tempat kerjanya. Kulihat tak pernah menemukan keceriaannya lagi kalau di tempat kuliah. Ia bisu membawa pikirannya sendiri.

Riset novelku sedikit bisa melupakan sejenak tentang segala kegundahanku. Namun tetap saja teringat karena cerita yang kubuat adalah kisah tentang aku dan dia. Tapi setidaknya bisa mengobati sedikit kepedihan. Jika aku bertemu dengannya semakin bertambah saja sakit hati ini. Tanpa ada angin atau hujan. Tapi bila tak bertemu dengannya aku sangat merindukannya. Cinta hanya bisa dirasakan dan aku telah merasakan rasa sakitnya. Tak terpikir olehku akan seperti ini kisah cintaku. Padahal seperti kemarin saja hari-hariku bersamanya.

Teringat sewaktu malam minggu di kosannya, dan hujan tak jua berhenti. Aku pulang jam sembilan malam dan ia meminjami aku jaket. Pernah kupakai jaket itu kemana-mana. Dan ketika mau dikembalikan, ia bilang sok aza pakai. Ingat pula sewaktu pulang bersama dari Maleer, yang saat itu hujan derasnya tapi kami terus berjalan. Kenangan itu akan selalu terpatri dalam benakku dan akan menjadi bagian dari cerita novelku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori