Oleh: Kyan | 16/12/2006

Kisah Janda Dalam Novel

Sabtu, 16 Desember 2006

Kisah Janda Dalam Novel

**

Kunikmati setiap khayalan cerita yang kutuangkan ke dalam novel. Rencana novelku kujadikan trilogi: Derai Air Mata, Sayap-Sayap Gundah, dan Khalifah Nestapa. Referensi kutambahkan trilogi Gola Gong yang sewaktu di Batam pernah kubaca. Kupikir setiap novel atau cerpen yang kubaca meskipun sekali baca akan sangat kubutuhkan lagi. Khususnya ketika aku meriset novel seperti sekarang ini. Kusimpulkan buku yang kubaca harus kumiliki. Meskipun sekedar novel yang bisa dibaca hanya sekali. Tidak ada yang sia-sia dengan apa yang telah kumiliki dan kulepaskan dari diriku. Segala sesuatu pasti terjadi atas izin-Nya.

Berulang kali aku dikatakan bodoh oleh teman-temanku. Kenapa hanya menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sekarang mendingan yang pasti-pasti saja. Semua mengatakan padaku lebih baik mencari yang lain. Masih banyak perempuan lain yang lebih cantik dan lebih pintar. Tapi cinta sejatiku kenapa hanya dia. Aku tidak bisa berpaling darinya. Saat ini aku sangat mencintainya. Akupun tidak mengerti dengan keadaan aku sendiri. Biarlah aku merasakan apa yang ingin kurasakan dan kunikmati segala kesedihan dan keceriannya.

Aku melihat dia banyak terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya. Aku melihatnya semakin cantik dengan gaun hijau tua. Ia memang pandai memilih warna busana yang dikenakannya. Apakah karena pada dasarnya ia cantik rupawan, sehingga dengan pakaian apapun yang dikenakannya selalu enak dipandang. Begitulah adanya dengan berbagai paduan warna-warna cinta.

Pulang kuliah sesekali aku menoleh padanya. Dan ia banyak diam entah sedang memikirkan sesuatu. Jadinya aku dibuat khawatir dengan dirinya. Akupun secara sengaja ketika mengobrol-obrol dengan teman-temannya sering menyinggung dia. Kukatakan pada teman-temanku benarkah cerita heboh itu. Memang sekarang ini aku sangat hina dan pantas untuk dihina oleh siapapun. Aku rela dihina karena begitu adanya. Tapi lihat nanti aku yang telah dihinakan akan memiliki segalanya. Uang, tahta, dan apapun yang kuinginkan. Aku percaya pada kemampuanku bahwa aku bisa meraih impianku.

Lebih baik aku diam saja. Aku berbicara hanya ingin meluapkan segala kekecewaanku saja. Supaya ia tahu akupun bisa dan mampu memberikan kebahagiaan pada seorang yang kumiliki. Maafkan aku duhai.. aku tak ingin menyakitimu. Tak pernah terlintas sedikitpun aku hendak menyakitimu. Aku hanya mencari obat bagi sakit jiwaku. Supaya aku tak sakit lagi dan hendaknya engkau mau membantuku mengobati lukaku yang pernah kau torehkan.

Suatu ketika kutanyakan pada temannya, kenapa dia gak kuiah. Ia bilang nanti hanya ikut kuliah kedua. Dan jam kuliah kedua, ia pun datang. Ia duduk di depanku. Tadinya akan duduk di belakang, tapi tak jadi. Kutanyakan dia kabar hari ini. Ia menjawab seadanya. Memang sekarang ini, ia makin banyak diam. Aku sangat menghkhawatirkan keadaanya. Apakah selama ini dia baik-baik saja. Apakah karena pekerjaannya telah membuatnya banyak pikiran? Karena begitu banyak pekerjaan yang segera diselesaikan? Sementara waktu telah mendesak. Aku melihatnya semakin sibuk saja dalam ritual pekerjaannya. Aku membantu bagaimana, sementara akhir-akhir ini aku telah jauh darinya.

Kuingat sewaktu aku di Jakarta, tak biasanya ia mengirim sms banyak. Ia bilang jusru ia merasa tak punya teman untuk diajak bicara. Kurasa ia sangat mengharapkanku menemaninya. Tapi itu hanya persepsiku saja. Tak tahu keadaan yang sebenarya. Akhirnya kuanggap biasa-biasa saja. Aku sering melihat sendiri ia termenung dalam kesendirian. Jarang pula berbicara pada teman-temannya. Kukira keceriaan yang dulu, kini tak ada, hilang ditelan masa. Ketika kutatap berlama-lama seolah-olah ia banyak memikirkan sesuatu. Ketika ia menoleh padaku pura-pura aku tak melihat siapa-siapa. Aku hanya menatap dengan tatapan kosong.

Sewaktu pulang sempat dia diam dulu di ruang kelas. Dia melihat dan menatapku penuh tanda tanya. Aku ingin meyapanya dengan sering. Ingin aku meneleponnya untuk sekedar menanyakan apakah keadaannya baik-baik saja. Tak kuasa aku melakukannya. Aku takut rasa perihku semakin dalam. Aku ingin melupakannya setelah kutahu ia telah mempunyai pilihan hatinya. Tapi aku tak bisa melupakannya. Aku tetap mencintainya. Entah sampai kapan aku tetap mencintainya.

Kurasakan dan kunikmati segala perasaan ini. Sisi lain dia amat sangat menyakitkan tapi sisi lain aku bersyukur bisa merasakan perasaan ini. Aku bisa merasakan cinta yang sejati. Bukan cinta yang diawali dengan nafsu hewani. Aku tak tahu cintaku ini amat dalam dan tak pernah tergantikan dengan permepuan lain. Makanya aku sering dibilang bodoh karena sesuatu yang berjalan tidak mereka inginkan. Perempuan yang lebih cantik darinya banyak, tapi ini masalah hati. Kenapa aku masih memikirkan yang itu-itu saja mungkin sebab akulah yang telah membelenggu diriku sendiri. Sebelum dia menikah dengan pria manapun, aku akan tetap mencintainya. Dan mungkin setelah menjadi jandapun aku akan tetap mencintainya. Dan akan kucintai seperti kisah novelku ini.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori