Oleh: Kyan | 20/12/2006

Rabu, 20 Desember 2006

Begitulah Kisah Cinta Reza Mohammad

**

Aku tidak dapat tidur malam ini. Aku hanya tidur sejam setengah dari jam lima sampai setengah tujuh. Di kosanku pada menginep Dudi dan Reza. Mereka sengaja mau mengerjakan tugas Kredit. Mata kuliah ini memang sering banyak tugas dan banyak menyita waktu. Sampai tugas kali ini mengaruskan mahasiswa tidak tidur semalam suntuk. Sempat tidur tapi hanya beberapa menit, kalau tidak jam. Semua perlu waktu dan pengorbanan.

Tapi tugasku jam sepuluh malam lebih sudah kelar sebenarnya. Aku hanya ikut bergadang karena aku berbagi cerita dengan Reza dan Dudi. Reza yang beberapa hari lagi akan ditinggal oleh seseorang yang amat dicintainya itu. Sang kekasih hatinya itu akan segera melangungkan pernikahannya. Ia sudah tak punya harapan lagi. Beberapa minggu sebelumnya ia jarang kuliah. Karena ingin membenahi dulu kekalutan hatinya ketika orang yang sangat dinantikannya telah dipinang oleh orang lain. Meskipun ia telah banyak berkorban, waktu dan materi yang tak terhingga.

Secara materi sepertinya orang lain tak akan mampu dan berani mengorbankan segalanya sebesar itu. Teramat mahal perjuangannya demi sebuah kisah sejati. Tapi akhirnya cinta pun tak bersemi. Iapun sadar, karena dirinya sekedar selingkuhannya. Kisah cintanya dan pengorbanannya demi cintanya pantas dicatat dalam lembaran sejarah. Sejarah hidupnya. Aku bisa merasakan segala penderitaannya. Meski ia terlihat ceria tapi kosong. Tatapan matanya masih kosong, karena harapannya dibiarkan kosong.

Akupun banyak bercerita. Semakin hari aku semakin merasa jauh. Aku melihat di saat perpisahan akan dijelang. Karena kuliah kita akan segera tamat. Aku melihat banyak orang semakin dekat dan mesra. Sedangkan aku semakin jauh. Aku jadi berpikir dulu kurasakan sangat mesra. Bahkan aku bahagia ketika bersamanya. Tapi sekarang aku hanya bisa menuliskan tentang cerita sedihku dalam buku ini.

Aku ternyata tak dicintai oleh siapapun. Tapi kenapa perasaanku terusik ketika orang-orang bercerita sebenarnya ia suka padaku. Hati kecilku pun mengatakan seperti itu. Tapi kenyataan yang terlihat sangat lain. Pikiran memang berbeda dengan kenyataan. Aku harus sadar dengan kenyataan. Aku tak boleh membohongi pikiran yang tidak sesuai kenyataan. Pikiran yang membohongi harus kubuang jauh. Aku harus melihat kenyataan. Aku harus memandang kenyataan dengan mata berbinar. Yang penting aku telah merasakan dan mengungkapkannya. Aku telah mendeklarasikan cinta sejatiku.

Sebab aku bahagia dan bangga memiliki cinta sejatiku. Aku berjanji akan mencintainya sampai kapapun. Semoga niat tulusku ini terdengar oleh penghuni langit. Aku mencintai bukan atas nama nafsu, bukan semata-mata aku mencintai –walaupun, tapi aku telah merasakannya saat ini detik ini bahwa saat nanti aku akan bercerita pada semua orang, bahwa saat ini ketika aku selalu berada dalam kesendirian dan kesepian, dalam pencarian kebenaran sejati, aku telah merasakan cinta yang sejati. Aku telah mencintai dia apa adanya. Hanya dia yang selalu kutatap dan kunanti sampai kapanpun. Tidak akan henti aku menunggunya.

Jikapun tak kuperoleh balasan, aku tetap mencintainya. Jika aku hidup bersamanya, aku berani berjanji akan mencintai dan menyayangi meskipun hari semakin senja. Meskipun hari telah pudar. Aku akan bersyukur dan bersabar. Jikapun aku hidup bersama orang lain, padanya akan kuceritakan bahwa aku pernah menemukan dan merasakan cinta sejati. Aku akan berterus terang padanya. Karena cinta sejati itu tak akan hilang dan pudar. Sampai kapanpun. Aku ditakdirkan hidup bersama siapapun, aku hanya menjalani takdir.

Ketika ada rasa kecemburuan, aku akan bermohon janganlah gundah. Aku akan mencintai perempuan yang menjadi istriku, menyayangi pernikahanku, dan akan berjuang untuk kuraih kebahagiaan. Aku akan berusaha untuk selalu menatap masa depan. Masa lalu hanyalah kenangan yang akan tersipan rapi di memori hatiku. Torehan luka dan nestapa akan menjadi pelajaran dalam menghimpun serpihan harapan-harapan yang tersisa.

Aku berjanji akan hidup hari ini. Bukan masa lalu juga bukan masa nanti. Aku hidup hari ini, ketika ruang hatiku untuk cinta sejatiku yang kurasakan saat ini. Entah hari esok dan seterusnya karena aku hidup hari ini dan aku mencintai saat ini. Esok yang kujelang, entah aku siapa dan akan dimana saat nanti berada, aku tak tahu apa yang akan terjadi.

Ruang rinduku hanya untukmu, manisku. Aku bahagia bersamamu. Aku sedih jika tidak bersamamu. Entah apa lagi yang harus kuungkapkan bahwa aku sungguh mencintaimu. Aku merasa masih belum ikhlas dan ridha, ketika engkau ternyata tidak mencintaiku. Padahal tidak seharusnya aku memaksamu. Engkau punya kehidupan sendiri. Engkau punya pilihan sendiri. Engkau punya alasan dalam langkahmu sendiri.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori