Oleh: Kyan | 22/12/2006

Dengan Pertunangan Nenk Titin

Jum’at, 22 Desember 2006

Dengan Pertunangan Nenk Titin

**

Semalam Nenk Titin di kosanku sampai jam sepuluh malam lebih. Ia memintaku menyempurnakan tugasnya. Aku selalu siap ingin membantunya. Karena ia sudah terlalu baik padaku. Setiap kali ada kesulitan menimpaku, ia selalu siap membantuku. Terutama soal keuangan. Aku sangat dekat dengannya, seolah-olah orang-orang menganggap bahwa kami ada hubungan khusus. Bahkan teman-teman pun sering bilang kenapa kamu gak sama dia saja.

Cinta itu datang dengan sendirinya. Sebelumnya ada yang telah hadir di hatiku. Hanya dia seorang yang menjadi tumpuan cintaku. Cintaku padanya tak akan mati dan henti. Akupun ikut merasakan kekecewaan ketika Nenk meminta kepastian dari seorang yang pernah dicintainya selama ini. Ingin dia mendapat kepastian dari seorang anak seniman itu. Dia pun ingin membuat tak jadi pertunangan dengan saudaranya. Dia memang telah bertunangan dengan sepupunya sendiri. Aku sering bilang padanya, emang dunia ini seluas daun kelor. Menikah dengan saudara sendiri.

Ia pun sesungguhnya tak ingin, tapi sudah terlanjur dan jika tak jadi dia takut dengan anggapan orang-orang. Karena pengorbanan materi dari tunangannya sudah tak terbilang. Dia ingin dan bisa membaut tak jadi pernikahan dengan saudaranya itu, asalkan telah ada seseorang yang akan meminangnya. Apakah aku harus membantu mencarikan pengganti. Biarlah ia menjalani waktu dan suatu saat nanti dia akan menemukan jodohnya sendiri.

Mungkin dengan tunangannya, ia akan merasakan kebahagiaan. Meski aku mengatakannya penderitaan. Dia yang mengalaminya mengapa aku yang kecewa. Aku tidak setuju saja kenapa bertunangan dengan saudara sepupunya sendiri. Aku hanya tak ingin sahabat-sahabatku dilanda kedukaan dan kekecewaan.

Cerita tentang Neng Titin akan menjadi bagian dari kisahku. Aku akan terus melanjutkan proyek pembuatan novelku. Aku harus memikirkan bagaimana konflik yang ingin disampaikan, klimaks dan antiklimaksnya. Bagaimana kalau klimaksnya ketika dirinya merasa tak dicintai dan ia ditinggal menikah. Antiklimaksnya kekasihnya itu meninggal atau bagaimana. Tapi ia tetap mencintainya dengan mengasyikan diri memadu impian jiwanya.

Meski kekasihnya sudah menikah ia tetap menunggu. Tapi apakah nanti akan dibilang cengeng oleh pembaca. Ia memadu impian menuruti nasihat-nasihat kekasihnya. Ia telah mendapatkan sayap baru untuk siap terbang tinggi menuju pangkuan-nya. Ia ingin sebuah pertemuan di surga-nya dan mantan suaminya menikah lagi dengan kekasihnya dahulu.

Sewaktu belajar persiapan UTS Kombis aku membantu Rizki membetulkan komputernya. Aku senang bisa bantu teman. Lagian aku bisa mengerjakan soal ujian, meski gak semua sempat aku kerjakan. Karena waktunya terlalu sedikit. Padahal aku gak henti-hentinya menulis apa yang ada di pikiran. Sepertinya aku perlu membuat manajemen waktu pas sedang ujian. Dalam mengisi jawaban mesti singkat dan padat. Kalau sudah satu nomor dikerjakan harus sampai tuntas. Karena suka gak sempat lagi ditengok. Waktunya terlalu sempit untuk mengecek lagi jawaban. Aku kesal karena gak sempat mengerjakan semuanya. Karena aku bisa mengerjakan semuanya.

Akh, dunia belum kiamat. Nilai ujian bukan segala-galanya. Pengalaman baru dengan Rizki bisa tahu rumah Siti Fatimah. Rizki mengajakku main ke rumah Sifa di Rancaekek. Aku mendapatkan tempat baru, ilmu baru, bisa ngoprek monitor. Sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Sekarang aku akan lebih banyak disibukkan dengan membuat cerita. Aku masih bingung dengan sistematika ceritanya. Intinya sebuah pengharapan, nyanyian rinduku ingin sekali gaya bahasanya seperti Kahlil Gibran. Aku takut nanti dibilang plagiat. Tapi ceritanya berbeda. Ini kisahku sendiri. Bahan ceritanya sudah ada, bahan teksnya berupa kumpulan puisi-puisiku. Tapi aku masih bingung degan jalan ceritanya. Mungkin sebelum kesana aku harus tahu lebih dahulu pesan apa yang ingin disampaikan.

Nah, aku belum merancang pesan-pesan yang ingin kusampaikan. Aku ingin menyampaikan pesan untuk berani mengungkapkan rasa, bahwa cinta itu harus dideklarasikan, tak boleh dipendam. Kita harus bisa bersahabat dengan kesedihan yang bertubi-tubi, dan aku ingin menyampaikan pengagungan terhadap ibu. Cinta tak harus memiliki, ingin meyakinkan diri bahwa terkadang kita tak bisa memiliki orang yang kita cintai. Kita harus bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, meski ia hidup bersama oang lain. Pokoknya kita harus bisa menerima segala kekecewaan hidup. Karena Tuhan pun punya rencana. Kita hanya menjalani takdir-Nya.

Aku masih bingung ceritanya bagaimana. Kalau tulisanku ingin laku dibaca orang, ceritanya harus menarik, enak dibaca, menegangkan dan menggetarkan. Cerita yang menggetarkan seperti aku membaca novel tetralogi Pramoedya AT. Aku harus bisa membaut orang lain masuk ke dalam cerita kita, seolah-olah pembacalah yang telah mengalaminya sendiri. Tapi bisakah aku membuat cerita sedahsyat itu. Tak segampang membalikan telapak tangan. Lagian sebelumnya belum pernah aku membuat cerita. Aku membaca novel pun baru hanya beberapa buku.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori