Oleh: Kyan | 26/12/2006

Merancang Budaya Masa Depan

Selasa, 26 Desember 2006

Merancang Budaya Masa Depan

**

Beberapa hari lagi mau menginjak hari baru di tahun baru 2007. Aku tidak tahu apa yang telah aku dapatkan di tahun ini. Semenjak kepergianku dari Batam ke Bandung, semestinya ada yang telah kudapatkan yang membawa perubahan dalam kematangan. Apakah aku semakin baik dari hari ke hari ataukah merugi karena sebuah keputusan yang tak benar. Tak terasa perjalananku sudah sampai di penghujung 2006. Akan kemanakah arah langkahku ini. Semoga aku tidak semakin terpuruk dengan segala keputusanku memilih ini dan memutuskan itu.

Dari idealis menuju pragmatis. Mungkin aku harus berpikir untuk menjadikan segalanya supaya bisa menghasilkan uang. Tanpa itu apakah aku bisa hidup tanpa uang. Lantas bagaimana dengan pengabdianku pada diriku yang masih bergantung pada ibuku. Aku ingin punya penghasilan sendiri. Aku ingin bisa menabung untuk persiapan masa depanku. Suatu saat aku akan lulus kuliah, atau kuliah lagi, atau menikah adalah beberapa dari jalan hidupku yang harus kutempuh. Masihkah jauh perjalanan ke jenjang pernikahan. Bagaimana bisa jika aku masih bergantung terus.

Di peta kehidupanku aku akan menikah di tahun 2010. Apakah tidak terlalu lama atau bahkan terlalu mepet. Tiga tahun lagi aku bisa persiapan atau merancang segalanya menuju target. Dan aku bisa dan mampu melakukannya. Dan adakah pula perempuan yang mau padaku. Apakah dia mau menungguku. Dia itu siapa. Apakah di tahun itu kedua kakakku sudah pada menikah. Kuyakinkan diriku di tahun itu aku sudah mandiri secara finansial. Masa aku selalu bergantung terus. Aku yakin diriku semakin hari semakin baik. Aku akan baik-baik saja.

Kuliah hari ini digabung. Jarang sekali tiga kelas digabung. Mendiskusikan tentang isu kontemporer. Kalau tak baca buku, koran, atau tidak menonton berita tak akan ada inspirasi yang menyelimuti pikiran. Setiap hari aku harus menemukan hal-hal baru. Apapun harus bisa menjadi inspirasi bagiku. Dilanjutkan dengan kuliah Statistik, cuma diberi tugas. Dan terakhir syukur alhamdulillah judul lapoan tugas akhirku akhirnya di proof juga oleh bapak Jurusanku, Pak Anton Athoillah. Aku mengucapkan syukur karena penyusunan TA-ku berjalan lancar. Di waktu liburan dan di jadwal bimbinganku, aku harus sudah selesai bab Pendahuluan tanpa koreksi. Aku harus mempersiapkan surat pengantar untuk minta data ke Bank Jabar. Semua harus dikerjakan dari sekarang.

Aku harus sudah lulus tahun 2007 dan langsung melanjutan ke S1. Tidak apa-apa mendapatkan gelar sarjana dari UIN. Karena kesuksesan bergantung pada usahaku, bukan pada almamaterku. Diriku sendiri yang bisa mengarahkan masa depanku baik atau suram. Semoga takdirku berjalan ke arah yang semakin baik, tentu dan pasti. Karena Allah tak mungkin memberi takdir yang salah pada umat-Nya. Baik dan buruk hanyalah penilaian manusia. Allah pasti memberikan yang terbaik bagiku dan semuanya.

Bila aku maju, maka negara pun akan maju. Aku adalah noktah-noktah yang mewujud menjadi sebuah bangsa dengan segala ragam budayanya. Negara yang berada di Asia Tenggara adalah Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Malaysia maju karena kebijakan negaranya dibuat untuk mampu mempertahankan budaya Melayu-nya. Melayu sangat kental dengan Islamnya. Memang Singapura maju karena perdagangannya dan masih kental pula dengan budaya Melayunya. China maju karena bisa mempertahankan budaya Kong Hu Chu-nya. Begitupun Jepang, bisa mempertahankan budaya Shinto-nya. Sedangkan Indonesia selau saja ekonominya terpuruk dan angka kemiskinannya masih tinggi. Indonesia selalu terpuruk disamping karena masalah internal, apakah ada kekuatan eksternal yang berusaha untuk mengganyang keadaan ekonomi kita.

Contohnya Soroush mengatakan Indonesia harus belajar ke India. Sepertinya kita tidak peraya diri dengan kekuatan yang kita miliki. Di samping itu jika dulu ketika zaman revolusi, digembor-gemborkan untuk belajar ke Barat. Namun sekarang rupaya kita kebablasan, terlalu taklid buta terhadap Barat. Jadinya aku harus berpikir pragmatis. Berusaha setiap apa saja yang aku miliki agar bisa menghasilkan uang. Bagaimana tidak lucu ketika ingin mandiri dan ingin dicintai oleh perempuan. Ingin menikahi seseorang sementara belum punya penghasilan apa-apa.

Sekarang ingin kubuat novel, konsekuensinya kuliah terganggu. Aku jadi lebih terkonsentrasikan terus mengutak-atik rancangan novel. Apakah tidak lebih baik kalau tulisanku adalah cerpen yang cuma beberapa lembar saja. Atau membuat artikel atau puisi. Semua harus kerja keras untuk bisa semuanya. Aku harus membaca buku tentang bagaimana menulis cerpen dan artikel yang bisa dimuat di media itu seperti apa. Aku hanya bisa menulis puisi cinta saja. Itupun puisi yang tawar tanpa rasa, bahkan tanpa iba.

Kalau aku jago bahasa Inggris, mungkin aku bisa jadi penerjemah. Selain akan mendapat wawasan, juga bisa memberikan ilmu pada orang lain. Sekarang ini aku tidak bisa apapun. Lantas sesungguhnya apa potensiku yang bisa aku kembangkan. Supaya aku bisa menghasilkan materi. Sampai kapan aku masih menggantungkan diri dari belas kasihan. Aku ingin berdikari dan bagaimana caranya. Aku tidak ingin mendapat tekanan batin seperti ini.

Aku jadi lebih mengurung diri di kamar, memikirkan supaya bisa berpenghasilan. Katanya tidak harus keluar rumah sangat bisa menghasilkan uang, tapi nilai silaturahim dan olahraga gak ada. Apakah nanti aku bakal cocok bekerja di bank yang kerjaannya harus menerima dan mengunjungi nasabah. Harus ada pertemuan ini dan itu. Sempatkah nanti aku merenung seorang diri di kamar seperti saat ini.

Ketika pulang kerja pasti istri atau anak-anak yang sudah menunggu sedari tadi ingin mendapatkan perhatian dari ayah dan suami. Maka semua harus dinikmati apa yang sedang dijalani saat ini. Sekarangpun ketika dilanda kegelisahan ingin punya penghasilan, ingin bisa menulis, aku harus menikmati keadaan saat ini.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori