Oleh: Kyan | 27/12/2006

Ingin Dianggap Kekasih, Dia Sudah Punya Kekasih

Rabu, 27 Desember 2006

Ingin Dianggap Kekasih, Dia Sudah Punya Kekasih

**

Tiba-tiba aku ingin tahu kabar tentangnya. Ragu-ragu untuk kutelpon dia. Akhirnya jadi juga kau menelpon seseorang. Setelah sekian lama aku tak ingin menghubunginya, akhirnya jiwa ini tertaklukan. Karena aku pernah berjanji pada diriku sendiri aku tak akan meneleponnya lagi rupanya lelaki suka tidak tahan dengan keegoisan. Tapi aku tak bisa tak melakukan untuk tidak merasa sendirian. Karena hatiku selalu terpaut padanya. Karena aku sangat sayang padanya dan mungkin aku mencintainya.

Sewaktu kutelpon, dia sedang berada di kantor tempat kerjanya. Sepertinya di belakang dia ada yang ikut menyimak pembicaraanku. Apakah mereka rekan kerjanya dan tahu tentangku, tentang hubunganku.  Kutanyakan kabar padanya. Kudengar sebelumnya bahwa dia sakit tapi ternyata dia baik-baik saja. Di absen tidak masuk kuliah, dan tidak tahu siapa yang menuliskannya sakit. Padahal sebenarnya dia baik-baik saja. Semoga saja tidak ada yang mendoakan sehingga menjadi sakit beneran.

Mungkin ada yang menguping pembicaraan kami. Tahukah mereka dengan sosokku yang ingin selalu mencintainya. Tak pernah sekejap pun ingin berpaling darinya. Aku tidak ingin mencintai tanpa harus memiliki. Aku ingin meraih apa yang aku inginkan termasuk cintanya yang mendekapku. Bagaimana bisa menggapai impian, kalau untuk mendapatkan perempuan saja tak becus. Bahkan sudah ingin menyerah, mengalah dan berhenti berharap pada cinta yang tertolak.

Sepertinya dia tidak ingin banyak bercerita tentang hubungan pribadi. Mungkin dia malu di tempat kerjanya. Kukatakan bahwa takdir berada di ujung usaha manusia. Semua sudah ada yang mengatur memang. Tapi aku ingin tahu tentang ya atau tidak-nya dia. Aku belum pernah tahu apakah dia pernah punya rasa padaku. Apakah selama ini biasa-biasa saja. Maksud sebagai teman, apakah teman biasa atau teman spesial. Ia selalu bilang padaku: teman, my friend, teman dan teman. Aku tak menerimanya dengan jawaban itu. Tak puas aku mendengarnya hanya sekedar itu.

Mengapa pula aku ingin dianggap bahwa aku ini sebagai teman spesialnya. Kenapa aku ingin mendapat tempat di hatinya. Bukankah aku tak bisa memaksa seseorang supaya mencintaiku. Apakah sudah takdirku hidup untuk seorang diri. Sudah jelas dia tak mengharapkanku hadir di jendela jiwanya, masih saja ingin meluluhkan hatinya. Kenapa aku menyakiti diriku dan dirinya dan membiarkan diriku terlunta-lunta. Aku tak bisa melupakannya. Aku terlalu mencintai dirinya karena diriku.

Apakah tak ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Adalah masa depan semestinya yang kupikirkan. Akan dibawa kemana masa depanku. Apakah cuma begini-begini saja. Bukankah manusia berharga karena berkarya. Ia dapat berkarya yang bermanfaat bagi orang lain, sementara aku belum bisa menghasilkan karya apapun. Jadi mana ada perempuan yang mau padaku. Mungkin begitu kesimpulannya.

Dan kali ini tidak biasanya dia meneleponku. Padahal secara bersamaan aku sedang menulis sms untuknya. Tapi sudah biasa kalau dia meneleponku pasti ingin meminta bantuan. Memang, buat apa menelepon kalau tak ada keperluan. Ia sering bilang hanya buang-buang waktu saja. Ia meminta padaku mencari referensi buat makalah. Kemarin aku meneleponnya, ia balik menelepon sekarang.

Sudah sekian lama hubunganku dengannya vakum tanpa kata tanpa bahasa. Beku. Aku tak memulainya untuk membuka sekat pembatas itu. Dimanapun kata orang-orang bahwa laki-lakilah yang harus memulai. Perempuan terlalu tinggi egonya dan ia lebih menikmati perasaannya sendiri. Dimanapun sikap perempuan kutahu begitu. Aku menyibukkan diri saja mengerjakan makalah. Meskipun belum kelar tapi kusempatkan berangkat ke kampus untuk ikut kuliah Komunikasi.

Aku pulang dengan segera ketika Dosen Komunikasi mengakhiri kuliahnya. Biasanya kami ikut berlama-lama mengomongkan ini dan itu yang tak tahu penting dan tidak penting bagiku. Tapi sebenarnya terasa nikmat pula untuk diperbincangkan. Sekedar gosip ilmiah. Memang katanya mahasiswa ketika berbicara harus ilmiah, jangan asal celetuk saja.

Dan baru saja aku mau pulang, ada yang menghampiriku. Ada anak Unpas mau bertemu dengan BEM FE. Kalau di UIN paling ke Syariah dan yang klop ya dengan MKS sebagai padanan jurusan ekonomi bagi kampus konvensional. Rupanya ia memberikan sebuah surat undangan. Mereka meminta partisipasinya dalam lomba penulisan artikel yang temanya membangun paradigma mahasiswa yang progresif di zaman globalisasi. Aku merasa tertarik ingin ikut serta dalam lomba tersebut. Aku ingin mencoba ikut lomba penulisan artikel. Selama ini aku belum pernah dan sangat benar untuk dicoba ikut serta. Masa aku tidak bisa menghasilkan tulisan ilmiah.

Gagasannya sudah ada tinggal menuangkannya dalam tulisan. Aku harus belajar menulis. Menulis adalah keterampilan meskipun banyak orang yang lebih  pintar, tapi tak pernah menyempatkan waktu untuk menulis. Meskipun idenya begitu membludak sama saja bohong kalau tak mampu mensistematikakannya pada sebuah tulisan.

Ketika aku sedang enaknya mengerjakan makalah, hapeku berdering. Cintaku yang tak dianggap memintaku balik menelpon. Laki-laki selalu saja tunduk pada perintah perempuan. Aku sering mengalaminya ketika perempuan berkata-katanya tanpa sadar. Perempuan manapun. Mungkin perempuan mempunyai pembawaan daya magic dari sananya, sebagai bahan dasarnya untuk dapat memikat laki-laki. Ia bilang mau datang ke kosanku mau pinjam buku. Ia memintaku menyiapkan makanan.

Dan ia langsung berkata padaku bahwa ia mau memperkenalkan padaku cowoknya. Apakah benar ia sudah punya cowok. Ia telah menemukan lelaki idamannya. Aku tak percaya. Aku tak ingin percaya meskipun itu hal sebenarnya.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori