Oleh: Kyan | 01/01/2007

Nasib Perjalanan Hidup dan Cinta

Senin, 01 Januari 2007

Nasib Perjalanan Hidup dan Cinta

**

Hari raya Idul Adha jatuh di hari penghujung tahun 2006. Aku tidak ikut salat Ied karena ketiduran. Kalau tidak salah aku sudah dua hari Raya Idul Adha tak mengikut shala Ied. Meski hukumnya Sunnah Muaqqad, tapi tidak sengaja aku tidak ikut salat. Tadi selepas salat Subuh aku tertidur lagi, ‘tewas’ di hamparan sajadah.

Jam enam limabelas aku terbangun dan segera mandi. Dan aku ragu apakah di masjid sudah mulai salat Ied atau belum tidak jelas terdengar dari pengeras suara Toa. Mungkin karena pagi ini Cibiru dilanda hujan, maka tidak lagi terdengar suara gema takbiran. Padahal aku sudah memakai sarung dan bawa sajadah. Tak jadi deh aku pergi ke masjid. Karena sudah lapar aku masak mie dan menulis yang telah terlewati beberapa hari. Aku terus menulis saja.

Ini menjelang malam tahun baru 2007. Bagaimana dengan hidupku. Bagaimana dengan langkahku hendak dibawa kemana. Aku ingin mempunyai sebuah karya kebanggaan. Mungkin aku ingin jadi penulis. Aku ingin jadi pengusaha. Aku ingin jadi insan akademis. Aku ingin ada sesuatu yang berharga dari hidupku. Terpenting dari semua itu aku ingin menjadi pencinta sejati.

Aku ingin meneguk anggur cinta yang membahana menghangatkan jiwa. Ingin memeluk dan mendekap jiwa yang resah. Ingin mengecup bibir kehidupan yang menggerimis memerih-merih suasana hati. Aku ingin bermimpi bertemu sang Dewi yang menawan hati. Aku ingin menikmati malam dan siang di taman kebebasan. Jiwaku ingin bebas merdeka. Aku ingin menyingkirkan penghalang yang mengkungkung jiwa bebasku. Aku ingin dan ingin…

Aku ingin cinta. Aku ingin dia. Tapi sulit kugapai dan kutebak hasrat hatinya. Selalu kutelan kegundahan dan ketaksenangan mendengar hal-hal yang mengecewakan. Sampai kapan nasib baik berpihak padaku. Sampai kapan kutemukan cinta sejatiku. Mengapa sulit kubangun komitmen yang kini telah berdiri kokoh. Namun akan segera hancur karena fondasi ketakpastian.

Ternyata ia membawa kekecewaan. Rapuh dan resah yang bergejolak di dada . Aku ingin tahu kekurangan apa yang dipersepsikan dirinya. Aku memang penuh kekurangan, tapi menurutnya bagaimana. Semoga segala kekecewaan menjadi stimulus agar aku semakin baik. Semakin hari aku ingin bertambah baik. Perbaikan nasib agar aku tak mengecewakan keluarga dan sahabatku. Aku harus berkorban atau terkorban, lantas apa yang kukorbankan. Bahkan impian bisa aku korbankan demi cinta. Sebab cinta bisa membawaku menjadi pribadi yang utuh. Tapi dimanakah cinta.

Aku akan menghadapi hari baru di tahun baru. Tentang bagaimana hari pertama di tahun yang baru. Aku harus semakin baik dan aku akan semakin baik. Aku akan semakin dewasa dalam kematangan. Aku akan semakin tangguh dalam menempuh kekecewaan dan kesedihan. Aku telah bersahabat dengan berbagai rupa kesedihan. Aku sudah kebal dengan segala penderitaan. Kini aku tak akan menangis lagi menghadapi segala ujian. Tak akan kutangisi jika orang-orang yang kusayangi pergi meninggalkan.

Akan kuterjang badai dan taufan kemunafikan. Akan kulawan segala kesewenang-wenangan. Akan kumuncratkan makian jika harga diriku diinjak-injak. Akan kutebas leher orang yang berani melawan kebebasanku. Akan kupatahkan leher dan kakinya, akan kubunuh orang yang telah berani merenggut mimpi dan cintaku. Tak akan segan aku berteriak lantang. Tak akan kubiarkan anak cucuku menderita gara-gara aku tak bisa melawan. Semua penderitaan sudah kumakan dan kusemburkan pada wajah-wajah kemuanfikan. Aku tak akan diam. Aku tak akan gentar dan beku.

Kusunggingkan senyum mengawali hari depanku. Perjalanan hari ini akan menciptakan karakter masa depanku. Perjalanan selangkah di saat ini akan menciptakan karakter masa depanku. Aku tidak tahu akan seperti apa hari depanku. Akan bahagiakah atau semakin menderita dengan semua ini. Semoga Tuhan memberiku nikmat yang tak bertepi padaku. Pada belahan jiwaku, pada anak cucuku tak akan kubiarkan mereka semua menderita gara-gara ulahku.

Maafkan ayahmu anakku. Semoga engkau bisa tabah menghadapi segala gelombang yang menekan. Segala apapun yang kuberbuat hanya demi kalian. Semoga kita bertemu di surga-Nya. Pegang erat optimisme meski hatimu dilanda kecemasan dan kesedihan hidup. Nanti akan tahu buah dari kesabaran yang berlapis itu. Meskipun sakit tapi akan terasa manis.

Dalam tahun 2007 ini aku akan lulus dan kuliah ke jenjang sarjana. Aku akan mengeluarkan karya petamaku. Aku akan mengembangkan rumah buku Ayasophia. Aku akan menjadi penulis. Aku yakin aku bisa meraih semua mimpiku. Aku bakal punya komputer Pentium Empat. Aku akan belajar bahasa Inggris lewat komputer. Aku akan membuka bisnis ringtone dan walpaper. Aku akan segera mewujudkannya.

Aku akan menghemat bekal pemberian ibuku. Aku tak akan menderita lagi. Meskipun dikecewakan oleh cinta. Tak akan kubiarkan berlama-lama larut dalam kesedihan. Kini aku bangun dari tidurku. Aku harus bangun dari tidurku yang lelap. Aku akan membuat sebuah karya yang mengguncang dunia.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori