Oleh: Kyan | 03/01/2007

Pertemuan Dalam Temaram

Rabu, 03 Januari 2007

Pertemuan Dalam Temaram

**

Namanya Bagus, atau biasa dipanggil Den Baguz. Akhirnya kuketahui cowok yang sedang dekat dengannya. Tak salah aku menebaknya, karena dulu sekali ia pernah bilang. Kenapa ketika awal mengetahuinya aku enjoy-enjoy aza dan merasa tidak tersaingi. Apakah karena aku telah merasa ia akan memilih diriku. Nyatanya sekarang ia lebih terpaut padanya. Kudengar dari teman-temannya ia menyimpan fotonya. Aku membuat kesimpulan. Memang sudah jelas faktanya bahwa aku tidak dicintainya.

Entah apa yang kurasakan ketika tahu diriku tak pernah dicintai olehnya. Tentu aku sangat sedih dan kecewa. Aku susah untuk menerima kenyataan ini. Ternyata, hidupku harus berjalan seperti ini. Sekarang kupikirkan bagaimana caranya agar aku bisa melupakan dia. Tapi selagi aku bisa bertatap muka dengannya, aku tak bisa melupakan dan cintaku padanya tak akan pudar. Akupun tak ingin menyerah pada keadaan. Tapi kalau dia sudah jelas tak respek padaku, aku tak bisa memaksa sesuatu berjalan sebagaimana kumau.

Merasa dibuat kecewa setiap orang pasti pernah mengalaminya. Sakit yang kurasakan, setiap orang pernah mengalaminya. Aku manusia yang tak berdaya dan sudah tak menjadi pilihan. Mungkin sejak saat ini aku tak akan membicarakan lagi cerita cinta dengannya. Biarlah hal-hal yang biasa-biasa saja. Aku akan tetap bercengkrama dan berbuat baik padanya. Sifat baikku padanya akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin selama ini aku tak pernah berbuat baik terhadapnya. Jikapun aku pernah berbuat baik, mungkin ia akan simpati padaku.

Diriku saja yang tak pernah berbuat apa-apa. Apakah sekarang harus kutunjukkan segala perngorbanan untuknya? Apa yang mesti kukorbankan untuk membuktikan kesungguhan cintaku padanya? Aku sungguh  mencintainya. Jika ia lebih memilih orang lain, biarlah aku hidup sendirian saja. Tak akan kucoba lagi untuk jatuh cinta. Biarlah kunikmati sendiri. Biarlah aku terus berjalan sendirian. Tanpa teman dan sahabat, tanpa seseorang yang hadir di hatiku.

Rasa sedih yang tak berujung sudah menjadi takdirku untuk kujalani. Semoga esok lusa akan kutemukan keceriaan kembali. Aku tak akan larut dalam kesedihan ini. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Aku harus punya prestasi. Aku akan punya prestasi yang menggemparkan. Akan kubuktikan pada semuanya bahwa aku bisa dan tak terkalahkan. Prestasi hidup yang semua orang bertekuk lutut. Sejak sekarang tak akan kuceritakan keluh kesah dan kesedihanku. Aku akan diam bila dunia bicara cinta. Aku akan konsentrasi pada pencapaian prestasi.

Pertemuanku dengannya harus sudah dianggap biasa dan tak boleh ada rasa. Jangan ada sesal ataupun dendam padanya. Di hadapannya dan teman-teman aku harus menampakkan keceriaan dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Meski pertemuan dengannya hanya menimbulkan torehan luka yang dalam dan kelam. Janganlah aku menatapnya dengan mata berbinar. Kulihat rona di wajahnya kepudaran yang selalu dilingkupi kegundahan dan keterkungkungan. Hanya aku kasihan padanya. Sampai kapan ia terbebaskan dari rantai ilusi yang menghimpit bumi dan langit hidupnya.

Aku hanya bisa tengadah bercengkrama dengan kebisuan dan memohon supaya waktu berjalan sebagaimana biasa. Tak ada yang kupikirkan selain diriku dan dirinya. Supaya tersatukan dalam jiwa yang menyayat dunia dan merobek langit, memilinkan persatuan langit dan bumi. Aku harus menyatukan dua dunia untuk duduk mesra mendendangkan lagu jiwa yang lirih terdengar ke segala penjuru dunia. Pertemuan tidak di dunia, tapi pertemuan di alam baka jauh lebih mesra dalam pangkuan singgasana Tuhan. Kita akan hidup abadi.

Kunikmati hari-hari kesedihanku. Kuakui kelemahan diriku. Aku tak akan mengaku kalah sampai ajal menghadang. Kuoptimalkan hidupku untuk kuraih kembali matahari yang menderang. Aku akan tetap memandang mata air cinta kesahduan dan seulas senyum di bibir kelembutan. Akan kubangun singgasana kekuasaan yang menjulang menyembulkan ketakpercayaan. Akan kubangun istana kemegahan di bawah bintang berkilauan di atas puing-puing kesuraman.

Aku ikhlas dan ridha. Semua terjadi atas kelemahanku. Semua berkehendak karena takdir yang menimpaku. Kudengar nama Angel Nazifa di bawah rembulan kelam. Kupanggil-panggil dengan mesra namun tak ada sahutan yang kudengar. Dia berdiri mematung seakan telah mati berdiri. Membeku menatap ke ruang kosong. Ia telah mati terbelenggu dan kuratapi kematiannya. Aku telah ditinggalkannya seorang diri. Aku akan mati di sampingnya demi sebuah pertemuan di surga-Nya. Aku duduk berdekapan di bawah sinar terang purnama. Aku menangis keharuan memandang manusia-manusia yang dirundung duka. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak lantang mengungkap kesedihan diriku dan orang-orang tertindas. Akan kulawan segala kesenang-wenangan. Kita sama-sama manusia yang bisa menikmati sinar mentari tanpa terhalangi oleh kedurjanaan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori