Oleh: Kyan | 08/01/2007

Pernikahan Runi, Pilu Hati Kawanku, dan Kampung Lahirku

Senin, 08 Januari 2007

Pernikahan Runi, Pilu Hati Kawanku, dan Kampung Lahirku

**

Di tempat ini aku dilahirkan. Di sebuah kampung di lereng pegunungan. Kubayangkan masa kecilku di sini. Aku adalah putra daerah yang mengadu nasib melawan kesenang-wenangan perkotaan. Mengembara dari desa ke kota untuk menyibakkan peta kehidupan dalam memenuhi mimpi-mimpi yang tak pasti dan cinta yang sejati. Kurasakan keheningan dan kesenyapan di pesisir pegunungan Iroqous batu-batuan pualam yang menopang rumah-rumah kami. Keharmonisan alam terus merembes ke alam sukmaku. Semoga kepedihan yang kualami dapat terobati dengan terlihatnya fajar yang menyingsing membawaku ke alam baru.

Kuhapus air mata kepedihan. Seulas senyuman menyungging tertahan memperlihatkan optimisme hidup. Kuhentikan sejenak derap langkahku. Aku takut mengarah pada tangga kesombongan dan kemunafikan. Kutelisik kembali relung-relung jiwa kalbuku. Sebenarnya apa yang telah kulakukan sampai saat ini. Apakah ingin mengisi hari-hari dengan buaian fatamorgana cinta ataukah cinta yang menyatukan asa dan cita, yang ternaungi dalam singgasana kedigdayaan di mata kesombongan dan kerapuhan. Wahai air mata tak tertahankan, hapuslah air matamu dan kecuplah mimpimu.

Allohu Rabbi, limpahi hati kami dengan farfum kelapangan dan nerimo apa yang telah menimpaku sebagai takdirku. Berilah aku keikhlasan dalam menerima apa yang terjadi. Disebut takdir karena sesuatu telah terjadi. Kenapa rasanya sulit sekali aku menerimanya. Aku ingin mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku ingin menunjukkan bukti kesungguhanku. Sulit sekali menyadari bahwa baik menurut Allah, pasti baik pula menurutku. Secara jangka pendek akan menghasilkan jangka panjang.

Sementara berpikir manusia selalu berpikir jangka pendek. Karena dalam berpikir jangka panjang manusia tak bisa membayangkan. Manusia hanya bisa pasrah pada alam bawah sadar. Manusia selalu ngeyel merengek meminta apa yang bisa diminta. Menginginkan dia jadi milikku, harus jadi milikku. Sebab hanya itu persangkaannya. Padahal dia belum tentu baik menurut takdir yang berlaku. Mungkin Allah telah menyediakan bagiku yang lebih baik bagiku. Lebih baik dari dia. Tapi aku tidak bisa membanding-bandingkan. Tapi aku pasti menemukan yang terbaik untukku. Janganlah sekarang aku gelisah jika ia tak mencintaiku. Sebab akan ada seseorang yang lebih cantik, lebih pintar dan lebih mau menerimaku apa-adanya. Jodohku adalah cerminan jiwaku. Baik atau buruk semua kembali padaku.

Maka kudengarkan tangisan mereka. Karena aku belum bisa apa-apa. Aku hanya bisa baru sebatas mendengarkan saja. Beginilah nasib rakyat daerahku. Mengelana ke kota dengan upah sangat minim. Buat ongkos pulang saja tak akan cukup. Mengadu nasib di kota Jakarta hanya gaji sebulan Rp 150.000,- sampai Rp 300.000,- Memang mereka hanya lulusan SD, tapi pengabdian mereka melebihi anak kuliahan. Mereka patuh pada majikannya. Mereka tak ingn berontak kecuali berontak ke dalam dirinya. Meratapi nasib dirinya yang tak pernah berubah. Begitulah nasib mereka. Siapa yang memperjuangkan nasib mereka. Selain dirinya juga siapa yang peduli pada kemanusiaan.

Aku harus masuk ke dalam kumpulan orang-orang yang sedang memperjuangkan mereka. Aku harus bisa menulis untuk menyampaikan pada orang-orang bahwa bangsa kita masih terjajah. Kita harus menjadi tuan bagi tanah air kita. Kita menjadi buruh yang terhormat. Pemerintah yang menjadi dedengkot birokrat harus membuat kebijakan yang memihak rakyatnya. Bukan mengorbankan rakyatnya demi kepentingan diri dan golongannya. Aku harus ambil bagian dalam perjuangan ini. Berjuang untuk kampung halamanku

Keheningan malam di tempat kelahiran. Kesunyian yang mencekam. Terasa hidup yang statis. Menginginkkan dinamika hidup, janganlah diam. Sebuah senyuman, keriangan, ketulusan, kegembiraan, tangisan, dan jeritan tak akan pernah henti datang silih berganti. Berbagai akal semesta semuanya sama saja. Persepsi manusia saja yang membeda-bedakannya. Aku ini manusia. Tak akan lepas dari persepsi yang telah dibuat akal manusia. Aku sudah merasakan semua rasa: Keterasingan, kekecewaan, ketakpercayaan, kepiluan, kepedihan dan keharmonisan diantaranya. Semua menyatu dalam dadaku. Aku sedang merasakan semua itu dalam senyap dan hening. Aku harus membuka tabir keikhlasan supaya gairah terbangunkan di angkasa hatiku. Aku ikhlas melepaskan pertanda.

Hidup nerimo takdir. Tapi aku selalu bersungguh-sungguh dalam mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku selalu meraih apa yang kubutuhkan. Tak pantaskah aku menerima sesuatu yang dapat memberikan kebahagiaan padaku. Aku memantaskan diri dan masyarakat sudah sepantasnya menerimanya. Semua kembali kepadaku, bukan pada yang lain. Rahasianya hanya ada pada diriku. Maka kutulislah sedikit demi sedikit sepenggalan cerita untuk mengungkap semuanya. Kusampaikan fakta-fakta dan kesadaran manusia dari tahun berganti masa. Saatnya aku bicara pada mereka tentang kemajuan dan kepentingan kampung halamanku.

Aku harus mewujudkan niat menulis novelku yang harus kuselesaikan segara. Tapi untuk saat ini hal yang mendesak adalah menulis prosa tentang besarnya cintaku untuknya. Aku harus mewujudkannya segera tanpa ditunda. Karena menunda hanya akan terhapuskan oleh lupa. Akan aku ceritakan perjalanan cintaku dengan bahasa yang paling puitis. Akan aku lukiskan cerita suka dan duka dalam menjemput cinta sampai akhirnya aku rela melepas semuanya. Sampai akhirnya kuputuskan untuk rela dan menjadikan dia cinta pertama dan terakhirku. Kuputuskan buku cintaku kututup rapat dan pikiranku beralih pada dilema intelektualitas.

Apakah manusia sanggup hidup tanpa didampingi seorang yang terkasih? Aku bisa memilih perempuan mana yang akan kujadikan pendamping hidup. Tapi apakah besarnya cintaku akan sebesar cintaku seperti sekarang ini pada sayap malaikatku. Bisakah aku terbang tinggi hanya dengan sayap yang patah. Hanya dengan satu sayap, burung tidak akan terbang secara sempurna. Tapi mungkinkah itu pilihan takdirku. Takdir yang kupilih adalah takdir yang menurutku terbaik bagi hidupku. Meski menurut orang lain konyol. Aku ingin memperlihatkan kesungguhan diriku dan orang lain di hadapannya. Aku tidak main-main dengan cinta.

Hari kemarin telah berlangsungnya pernikahan teman kuliahku. Satu sisi ada kebahagiaan dan sisi lain ada kepedihan jiwa. Sungguh takdir itu pahit. Bisakah kepedihan itu berubah jadi kemanisan. Meski ada sungging senyum, di hati terdalam kawanku, Reza mungkin hatinya menjerit. Tak tahan melihat orang yang disayanginya bersanding dengan pria lain. Suatu saat nanti apakah aku sanggup mengalami. Bagiku belum terjadi, tapi sejak hari ini telah kurasakan hembusan badainya. Jika aku berpikir, jika aku menginginkan dia datang di saat pernikahanku, maka aku harus datang ke pernikahan orang-orang yang kucintai. Meski itu berat bagiku.

Aku ingin menunjukkan padanya dan semua orang bahwa aku bisa menerima. Aku bisa menjadi sesuai yang ia inginkan. Cuma butuh waktu untuk sampai disana. Aku ingin ia merasa menyesal tidak memilihku. Akan aku buat ia menyesal seumur hidup. Aku bukan dendam, tapi ingin menunjukkan bahwa aku bisa membahagiakan dirinya. Justru aku berterima kasih padanya. Karena telah menyadarkanku bahwa di saat aku belum punya apa-apa, dan sadar bahwa aku harus segera punya apa-apa. Untuk tidak selalu terhinakan dan dihinakan.

Apakah aku telah memperlihatkan kepedihanku. Biarpun kututup-tutupi tetap saja orang-orang memperlihatkan rona wajahku yang terselimuti berbagai kepedihan. Susah aku memakai baju keceriaan, sedangkan tubuhku terus digerogoti virus kesedihan yang bertubi-tubi. Yang ada hanya ratapan dan penyesalan. Mengapa aku tak menyinari benih cinta itu. Mengapa aku sia-siakan kesempatan itu. Mengapa dulu tak kuterima tawaran menjadi marketing di Mihdan. Aku telah menghapuskan keceriaannya. Mengapa aku selalu mengecewakannya. Terlalu banyak aku mengecewakannya. Terlalu banyak aku menyakiti dirinya. Maksudku baik, tapi akhirnya dapat memudarkan cintanya padaku.

Dulu aku berpikir, aku ingin menjadi diri sendiri. Aku ingin bebas dan aku tak ingin mengecewakan ibu. Ibu menyuruhku kuliah bukan kerja. Meskipun pada kenyataannya akupun kerja sambilan sampai bisa menghasilkan uang. Aku punya penghasilan meski tak cukup untuk kebutuhan sendiri. Tapi ini menunjukkkan aku bisa berpenghasilan. Aku adalah pekerja keras. Aku mempunyai semangat juang tinggi untuk meminimalisir meminta-minta belas kasihan orang lain. Mungkin ia terlalu baik buatku. Meski aku berlumuran dosa, aku selalu berusaha selalu menjadi semakin baik. Hari demi hari. Tak akan kuulangi lagi melakukan hal-hal yang mengecewakan. Aku telah menyesal.

Satu hari dalam tiga hari. Bandung, Garut, dan Tasik. Aku, Nenk Titin dan Veri pulang bareng dari Bandung ke Garut menghadiri pernikahan Runi, lalu ke Tasik. Sebuah pengalaman perjalanan yang tak terlupakan. Di jalan aku banyak bercerita untuk melupakan semua kegetiran hidupku. Suasana panas menyengat, kami bertiga cuma bisa naik mobil Elf untuk bisa sampai di terminal Tasik. Kami harus berdesak-desakkan lagi karena muatannya diluar kapasitas. Sampai satu jok berdua.

Aku duduk di pangkuan Veri. Tapi bayarnya tetap saja sama. Sopir dan kondektur tak memikirkan aman berkendaraan. Inginnya hanya huntung besar dengan kelebihan penumpang. Namun aku bisa selamat dan sampai di Terminal tasik yang baru dibuka. Veri bilang diresmikan sebulan yang lalu. Veri pulang ke Cigeureung, Neng Titin ke Manonjaya, dan aku pulang ke Cikatomas-Tawang. Sampai di kampung halaman jam sepuluh malam. Ini perjalanan yang melelahkan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori