Oleh: Kyan | 10/01/2007

Dalam Hening Hasrat Ingin

Rabu, 10 Januari 2007

Dalam Hening Hasrat Ingin

**

Sekarang aku sudah di Bandung lagi. Berkat jasa pencipta generator dan teknologi transportasi semakin canggih, maka jarak berpuluh-puluh kilometer dapat ditempuh dengan beberapa jam saja. Begitu cepatnya informasi di daerah A dapat diketahui segera oleh daerah B. Siapa pencipta teknologi informasi dan transportasi. Kutahu pencipta mesin uap adalah James Watt. Inti dari mesin adalah hukum mekanika atau hukum energi. Dunia memang sangat berhutang pada Newton.

Sedangkan aku hanya bisa menikmati sambil merenungkannya. Untuk menggemparkan yang berdaya guna bagi dunia aku harus menciptakan apa. Sebelumku menemui ajal kematian, aku hanya ingin membuat sesuatu yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Aku bukan pencari popularitas, tapi ingin aku bermanfaat bagi semua orang. Namun kadang aku sering dibuat kesal setelah mencoba memulainya. Karena keinginan setiap orang tak bisa dimengerti dan sulit untuk diarahkan sesuai keinginan kita. Susah aku tegas dan selalu ada rasa kasihan.

Hari semakin malam dan kesunyian semakin menekan. Kudengar detak jantungku kurasakan getaran perasaanku. Kudengarkan gemerisik suara hatiku. Lampu temaram menemani malamku. Masih terdengar nenekku menyenandungkan kudung-kidung malam dengan suara lirih. Menenangkan hati sang anak cucunya. Tangisan menceriakan bayi mungil menghiasi bebunyian jangkrik yang selalu memberi kehangatan malam. Ketenangan, ketentraman, dan kenyamanan hidup yang harmonis. Menyatu dengan alam tanpa harus terlihat kuasa-menguasai.

Hidup harus penuh persaudaraan. Aku memiliki banyak saudara. Aku belumlah kehilangan mereka. Tapi mereka tidak tahu apa yang ada dalam diriku. Aku hanya berani berkata-kata pada teman-teman kecilku. Suasana keakraban masa kecil kini muncul kembali. Semua telah berjalan dan waktu yang terus menggulirkan. Nasib manusia selalu berbeda-beda. Tak tahu mereka memiliki nasib seperti apa. Akupun tak tahu nasibku akan dibawa kemana. Hidup yang tenang kurasakan di kampung kelahiran. Tapi aku masih punya ambisi dan semangat hidup untuk membangun singgasana keberkahan. Pembela kaum lemah, membantu sesama, dan memakmurkan bumi.

Aku ingin menyatu dengnan dunia. Bertarung dengan perjalanan waktu. Kalah atau menang hanya anggapan sebagian manusia. Tak ada kalah atau menang, tapi semuanya sama, setara, dan bekerjasama untuk keharmonisan dan kedamaian pikiran dan jiwa. Hidup ini penuh mimpi, tapi bukan mimpi yang cakar-mencakar, membunuh kedirian. Dan kemanakah hati nurani melangkah. Kemanakah langkah hidup menderap. Tak ada kegagalan atau kesuksesan, keminderan atau kepercayadirian, kebahagiaan atau kepedihan, kesenangan atau penderitaan. Semua hanya persepsi manusia yang menanggalkan perjalanan jiwanya. Aku harus bisa melepaskan dari semua persepsi itu.

Aku tidak mengatakan lengan, kaki, kepala, bahu secara sendiri-sendiri. Tapi aku menyatakan inilah tubuhku. Inilah aku. Semuanya bercampur baur seirama dalam tarian semesta. Berdzikir bersenandung dalam musik kehidupan dalam altar Cahaya Maha Cahaya. Sejumput ketermanguan menghilangkan kepenatan hari-hari hidup. Menanggalkan hasrat ingin kuasa-menguasai, dalam hening dalam diam. Kepasrahan kupanjatkan dalam keheningan yang semakin senyap dan pekat.

Semoga dunia mengerti bahwa aku ingin memiliki sesuatu. Bela-belain melakukan tirakat dan tapageni dengan tidak makan demi menempuh kesunyatan. Sementara tak sedikit orang ingin enaknya saja. Mengerti gak sih mereka dengan keadaanku. Penderitaanku sekarang aku ingin memiliki sesuatu yang bukan cinta. Tapi aku cuma bisa meminta uang pada ibuku. Karena tak ada sumber lain selain pada ibu. Aku harus berpikir pragmatis dengan menjadi segala sesuatunya demi uang.

Berbahayakah berpikir pragmatis. Aku ingin berpikir tanpa mengorbankan idealisme. Harus kemana lagi dan harus kepada siapa lagi aku meminta uang. Lantas bagaimana realisasi meminta kepada Allah dan bersabar itu. Aku selalu merasa bingung dengan kekurangan.  Karena aku ingin masih tetap hidup. Aku tak sabar ingin segera mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku ingin membeli komputer Pentium 4, agar aku bisa menambah penghasilan. Aku ingin mandiri secara finansial. Dulu sampai sekarang aku belum bisa apa-apa. Hidupku begini-begini saja tanpa perubahan. Badanku saja yang semakin kurus dan pengetahuanku tidaklah berarti apa-apa.

Sekarang aku mau menghadapi UAS, tapi aku belum melakukan apa-apa. Tapi aku harus mengomptimalkan diri. Aku harus bersungguh-sungguh. Cobaan yang bertubi-tubi semoga tergantikan dengan sesuatu yang menyenangkan. Semoga hari yang kujelang akan meraih kebahagiaan. Yakin Allah Maha Adil. Karena seberapa jauh aku bersikap dan bertindak berani pada hidup dalam menempuh bahagia. Seorang lelaki harus berani menempuh segala kegetiran. Seberapa jauh aku melatih keberanianku. Keberanian berhubungan dengan kepercayaan diri. Sebab keberanian adalah dilahirkan dari tantangan. Dan sukakah aku dengan tantangan.

Lantas keberanian yang terukur seperti apa. Samakah berani dengan nekad. Kurasa berani adalah melakukan sesuatu dengan rencana dan impian. Apakah orang menganggap aku berani ataukah bernyali ciut. Semua berhubungan dengan sikap mental. Apakah aku terdidik dengan lingkungan yang mengunggulkan keberanian, tantangan atau rasa aman. Ingin mencari aman katanya itu oportunis. Karena semuanya harus dengan perhitungan. Tapi harus percaya pula pada keajaiban. Miracle.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori