Oleh: Kyan | 13/01/2007

Mimpiku Menerobos Ketertolakan

Sabtu, 13 Januari 2007

Mimpiku Menerobos Ketertolakan

**

Hidup tidak hidup, bangkit tidak bangkit, waktu akan terus berjalan. Kusadari problematika akan terus menggerayangi perjalanan hidup. Merasakan pahit dan getir, sayatan-sayatan pedih akan terus kulalui. Namun semuanya sementara. Sebab akan kudapatkan satu senyuman menawan kembali di suatu ketika. Kuharapkan begitu. Hidup tidak hidup, bangkit tidak bangkit, jarum jam akan terus berputar. Apa aku akan tetap tinggal di Bandung dengan stagnan. Rencana hanyalah rencana ingin ke Pare dan kembali ke Batam dan Singapore. Sejak dulu hidupku mobile. Seorang petualang kontemporer dengan bekal yang harus disediakan hanya ilmu yang bukan di buku atau pada benda-benda lain.

Tapi alat yang harus kusediakan selain handphone adalah komputer. Aku mesti mempunyai laptop. Bisakah aku punya laptop. PC pentium empat saja belum mampu kubeli. Bagaimana caranya agar laptop bisa kubeli. Harus punya uang dari mana, kecuali dengan kerja dan menabung. Mengumpulkan uang dua juta saja merasa kelabakan. Untuk mampu membeli laptop harus puasa berapa tahun. Sekarang ibuku pun sudah tak ingin kerja lagi. Beliau sudah sepuh. Beliau ingin menikmati hari tua. Maka aku harus segera punya penghasilan. Bisakah aku melanjutkan S1 dengan biaya sendiri. Aku akan berbisnis.

Belajar di Pare tentu memakai biaya. Siapa yang mengirimkan aku biaya. Jika aku punya usaha sendiri yang bisa ditinggalkan. Bisnis dari perbukuan tidak bisa diandalkan. Aku harus merambah ke bidang lain. Coba kalau menjadi penulis mungkin bisa menulis di manapun. Bisakah ketika di Pare, aku sudah memiliki laptop. Kalau sekarang mampu menerbitkan buku atau sudah jago menulis artikel mungkin bisa mendapatkan honorarium.

Masih jauhkah aku dari mimpi-mimpiku. Apakah aku belum bersungguh-sungguh untuk mengejar mimpi-mimpiku. Untuk menjadi penulis, selain sering latihan menulis, membaca karya orang, juga membaca bagaimana kiat-kiat menjadi penulis. Aku harus membaca dan membeli buku-buku yang memberikan tips-tips untuk menjadi penulis handal. Tapi aku masih merasa kekurangan dalam referensi tentang bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Harus kubaca kembali buku kiat menulis yang telah kupunya. Masa perkembanganku hanya sebatas menjadi penulis catatan harian saja. Masih tak tahu akan kujadikan apa nantinya setumpuk tulisan harian ini. Sudah ada buku yang membahas Diary menjadi fiksi. Aku harus membacanya!

Sekarang ternyata aku masih menampakkan wajah kekecewaan. Aku masih belum bisa menghadapi keadaan dengan lapang dada. Setiap pembicaraanku selalu saja dipandang orang sebagai bentuk ketidakikhlasan. Memang kejadian itu membuatku sangat terpukul atau bencana terbesar dalam hidupku. Tapi aku tak bisa larut atau mendramatisir peristiwa itu. Sangat mengecewakan tapi bukan berarti harus terlena dan lunglai tak berdaya menghadapi keadaan. Aku harus menyembuhkan lukaku sendiri, karena bukan orang lain yang menyembuhkan. Aku tak boleh diam dan menyerah pada keadaan. Aku harus bergerak ke arah yang lebih baik. Harus kutunjukkan pada semua orang bahwa aku ceria, sukses dan bahagia. Akan kubuktikan bahwa aku bisa membahagiakan orang yang aku cintai. Aku bisa dan mampu mewujudkannya.

Bagaimanapun caranya agar aku tak manampakkan muka ketakceriaan. Apakah aku harus lebih banyak diam. Apakah harus banyak bercanda. Apakah aku harus menjadi seperti orang lain. Tidak menjadi diriku sendiri. Aku harus menampakkan wajah ketenangan dan keteduhan. Namun itu semua harus terlahir dari jiwa yang tenang. Jiwaku harus tentram dan nyaman. Aku tak perlu merasa sakit dengan semua omongan orang lain. Aku tak bisa mendiamkan supaya mereka tak membicarkan lagi sesuatu yang membuatku semakin sakit dan pedih.

Aku harus memberikan secercah senyuman pada setiap orang yang memandangku. Biarlah orang menganggapku seperti kekanak-kanakkan atau cengeng. Ingatlah ketika orang-orang memandangku dewasa dan kenapa setelah kejadian itu aku seperti anak kecil. Diberi ujian cinta yang tertolak, murang-maringnya tak henti. Karena aku manusia bukan malaikat. Semoga dengan kejadian ini aku semakin dewasa. Sebab aku telah banyak menemukan hikmah yang dapat kupetik. Janganlah terlalu mencintai seseorang karena belum tentu ia bakal jadi jodoh kita. Jangan terlalu mengagung-agungkan seseorang.

Apakah tidak boleh berambisi. Haruskah kujalani hidup dengan biasa-biasa saja. Biarlah cita-citaku terpatri dalam langkahku. Bila ambisi dan cita-cita kuungkapkan pada setiap orang, dapat dipastikan bakal ada komentar yang baik ataupun buruk. Kuncilah rapat-rapat mulutmu. Sampaikanlah cita-cita dan ambisi itu dalam setiap jejak langkahmu. Aku harus begitu, harus tuli dengan pendapat orang. Tapi pendapat baik dapat menjadi pertimbangan dalam melangkah. Semua kembali pada diri. Orang hanya bisa memberikan pendapat dan celotehan. Orang hanya bisa memberi petunjuk dalam diam dan dukungan. Menerobos kesuksesan hanya diriku yang bisa menempuhnya. Akulah pelakunya. Aku bukan penonton yang kacangan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori