Oleh: Kyan | 15/01/2007

Percikan Semangat Menyayat Sembilu

Senin, 15 Januari 2007

Percikan Semangat Menyayat Sembilu

**

Ini hari pertama UAS semester lima. Aku tak begitu semangat untuk belajar. Tapi aku masih bisa menjawab soal-soal ujian. Bukankah aku pintar dan cakep. Tapi satu kekuranganku kata orang, bahwa aku tidak menarik bagi perempuan. Aku tak paham dengan tafsiran kata itu. Menarik dalam pengertian apa. Fisik atau kepribadianku yang terlalu polos, atau badanku yang kurus.

Terlalu lurus saja hidup tuh, tak ingin berkelok-kelok. Sampai tak ada perempuan yang ingin menjelajahi kehidupanku. Apakah karena aku membosankan yang terlalu. Apakah aku garing dalam setiap pembicaraan. Tidak bisa menjadi pribadi yang humoris. Ini selalu saja tegang menghadapi siapapun. Apakah semua itu bisa aku perbaiki. Aku harus selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dari segala kekurangan yang bisa aku perbaiki. Apakah semuanya bisa aku perbaiki? Bukankah mereka tidak rela menerimaku apa-adanya diriku?

Bagaimanakah bernegosiasi dengan takdir. Terkadang semua yang menimpaku membuat diriku lemah. Dimanakah sikap optimisku bila melihat kelemahanku. Dimanakah semangatku. Dimanakah keberanianku. Bagaimana caranya untuk membangkitkan semangatku sehingga keberanian dan tekadku muncul. Nekad dan berani beda tipis, tapi jangan takut melakukan kesalahan bila yang menjadi pilihan adalah yang terlarang. Sampai kapanpun kesalahan akan bisa dimaafkan selagi aku bersungguh-sungguh untuk memperbaikinya. Manusia hidup untuk belajar. Wajarlah aku melakukan kesalahan dan kekhilafan.

Aku bingung mesti bersikap bagaimana di hadapannya. Kutampakkan wajah keceriaan dan persahabatan. Tapi kondisi jiwaku susah untuk kusembunyikan. Kondisi jiwa memberi pengaruh pada kondisi raga. Ah, lebih baik aku diam dan tak berbicara apapun. Karena berbicarapun akan menimbulkan bencana. Pembicaraanku harus disaring. Seperlunya dan kiranya bermanfaat. Bagaimana memerangi perasaanku sendiri. Nikmati saja, biarkan air mengalir apa adanya dan selalu berpasrah diri pada-Nya. Aku masih mempunyai percikan api semangat yang siap dinyalakan dan dibangkitkan, sehingga bisa menerangi gemerlap semesta raya.

Aku memantik api suci yang akan selalu dibawa kemanapun aku pergi. Percikan api yang terpatri dalam diriku selalu memercikkan harmoni. Aku selalu tersenyum ketika memandang menerawang semesta hasrat. Aku mempunyai impian dan aku bisa mendaki menaiki tangga impian kesempurnaan. Biarlah aku gagal dalam kisah cintaku, tapi jangan sampai gagal dalam karir, dalam menata diriku. Fokusku harus kubangun keharmonisan sosial. Perjalanan cintaku yang kandas jangan sampai meluluhlantakkan istana kerajaan singgasana hatiku.

Kujalani saja perjalanan hidupku. Jejak langkahku kemanapun arahnya ke kanan ataupun ke kiri kuikuti saja. Kata hati dan jiwaku sambil berpadu bahasa langit. Aku tak bisa berkecil hati ataupun berbesar hati. Hatiku seperti dulu sampai sekarang masih merupakan cipratan api cahaya. Cahaya yang mengandung percikan api seakan-akan menjadi api yang bergemuruh, akan menerangi gegap gempita angkasa, meruang semesta. Cahaya akan selalu menerangi ruang hidupku. Di dalam hatiku ada percikan yang siap membakar segala hasrat.

Kudengar dan kulihat pemandangan sekeliling. Kurasakan jiwa-jiwa yang kehausan anggur jiwa. Sebenarnya dengan semua orang mempunyai cawan yang siap diisi dengan kata-kata yang meluber dan memuntahkan. Cahaya cinta adalah energi yang tak bisa dihilangkan atau dimusnahkan. Akan selamanya menggegap gempita dan tetap membahana hingga sampai pada wajah-Nya. Semua akan kembali dalam pelukan-Nya. Tak usah cemas, ketir apalagi ketus ketika memandang ketakmanisan manusia. Tuhan memiliki rencana-Nya yang selalu terdeklarasi manis dan pahit yang hanyalah dalam anggapan yang sepenggal-penggal pikiran manusia. Tapi bila dilihat secara keseluruhan, niscaya akan tampak ke-mahakuasaan dan ke-mahaadilan Tuhan.

Semua tidak akan rugi. Dan yang rugi hanyalah kenistaan yang melumuri dirinya dengan keangkuhan dan ketakpercayaan. Aku harus percaya dan aku percaya bahwa erjalanan akan semakin mendaki dan meninggi menggapai taman impian hati. Tak usah resah ataupun gelisah, ketika menghadapi segala kekecewaan hidup. Aku tak perlu sedih dan pedih. Jikapun kurasakan maka rasakanlah. Sampai pedih itu semakin pedih yang akan berakhir dengan keceriaan dan kebahagiaan. Sebab semua akan berakhir dengan keceriaan, kesuksesan dan kebahagiaan. Percayalah pada itu.

Kuhadapi yang ada di hadapanku. Kupandangi apa yang ada di hadapanku. Aku bersungguh-sungguh menatap dengan mata berbincar. Kukepalkan tangan kananku dan kuacungkan untuk melawan kesewenang-wenangan. Kurebahkan telapak tangan kiriku dan kupegang dadaku. Dan kurasakan masih tersisa percikan api yang bercahaya, yang selalu menerangi perjalananku. Kutundukkan kepala sambil kudengar getarannya dengan bahasa diam. Dan kulepaskan segala hal yang membelenggu. Kini aku bebas dan lepas.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori