Oleh: Kyan | 18/01/2007

Badai Akan Segera Berlalu

Kamis, 18 Januari 2007

Badai Akan Segera Berlalu

**

Kupandangi dari balik tirai rintik-rintik yang memantik. Gemiricik hujan di luar kamar terdengar begitu sendu. Setiap tetesannya membahasi tanah kerontang merembes ke dalam pori-pori, menyembulkan kembali memori ingatan masa kecilku. Saat hujan kami kegirangan dan saat sekarang merasakan sedih tidak kepalang. Begitu setiap tetesan air mataku yang membahasi pipi sukmaku harus memberikan kesegaran bagi jiwa yang ketandusan. Hatiku harus seperti suburnya bumi setelah menerima hujan. Tetesan air mata tak pernah henti. Tangis jiwa belumlah berhenti.

Sampai kapan aku terselimuti kepedihan. Sampai kapan aku memandangnya dengan wajah kesenduan. Aku masih saja merasakan hati yang teriris-iris dan serasa jiwa ditusuk sembilu. Salahku telah melangkah pada ruang yang dikira sangat menawan. Rupanya ranjau yang membunuh karakter dan masa depan. Duh cinta, memang cinta kepada-mu membuatku terbang tinggi untuk menggapai taman firdausi. Cintaku kepadamu telah memabukkanku yang pertama kalinya. Namun aku tak pernah sadar, luka dan pedihnya adalah yang paling perih untuk pertama kalinya. Akankah luka yang menganga ini akan kualami kedua kalinya atau ketiga kalinya. Pedihnya yang pertama adalah paling pedih yang tak terlupakan.

Ya Allah, Engkau maha tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Pedih hati ini menerima kenyataan hidupku. Engkau yang telah memberi perasaan ini. Aku dibuatnya tersiksa, begitu sangat tersiksa. Aku yakin Engkau akan memberi kesudahan yang baik. Sedang kualami saat ini adalah yang terbaik bagiku. Tapi seolah-olah aku tak sanggpu menanggungnya. Berikan secercah harapan pada kedalaman batinku untuk aku sanggup menghadapinya. Berilah aku kesabaran dan perlihatkan padaku jalan lurus-Mu. Sampai kapan Engkau memberi ujian yang bertubi-tubi padaku. Sampai kapan semuanya akan berhenti. Jangan sampai aku tak sanggup lagi menanggungnya. Janganlah Engkau beri ujian yang lebih berat lagi. Memang kusadari semuanya adalah baik dan terbaik bagiku. Maka penuhilah jiwaku dengan kesabaran yang berlapis-lapis. Aku selalu menghamba pada-Mu.

Andai dia bukan jodohku. Yakinkanlah hatiku bahwa ia bukan jodohku. Jangan sampai terbesit di pikiranku laksana baja dengan meyakini aku mampu memilikinya. Jika itu bukan yang terbaik untukku, segeralah perlihatkan padaku yang terbaik padaku. Gantilah kedukaan ini dengan keceriaan. Semaikanlah di hatiku kesabaran dan kekhusyuan bermunajat pada-Mu. Semuanya adalah milik-Mu. Aku, dia, dan mereka akan kembali pada-Mu. Engkau Maha Pencipta dan Pemelihara. Engkau yang bisa membolak-balikkan hati siapapun. Jadikanlah hari-hariku menyenangkan, menceriakan dan membahagiakan.

Ketika dia telah memilih yang lain, kenapa cintaku padanya tak pudar. Kenapa aku masih menggenggam api kecemburuan ketika ia bermesraan dengannya. Mengapa aku harus tersiksa begini dan apakah pilihanku hanya ini. Aku terlalu mencintainya hingga akhirnya membuatku terbelenggu dengan cintanya. Sakitnya hati, gejolaknya jiwa yang membakar ragaku menyisakan tulang-belulang kurus kerontang. Mengapa duniaku dirasakan sempit dan tak bisa memandang bunga yang lain. Adakah bidadari pagi menyambutku di kala bangun pagi. Hidup dan mati seolah-olah gemerincing yang tak memberi rasa dan asa. Selalu memberikan kesepian dan kepedihan. Aku tak boleh diam dan tersiksa. Aku harus bangkit dari tidur gelisahku.

Ya Allah, bagaimana caranya agar aku bisa ikhlas melepas kepergiannya. Aku tak memiliki apa-apa selain hanya sebatas amanah dari-Mu. Semuanya dan wanita itu adalah milik-Mu. Semua adalah berupa-rupa harta pusaka yang datang dan pergi. Kurasakan betapa bermaknanya dia, kedatangannya setelah semuanya meninggalkanku sendiri. Betapa bermaknanya sebuah pertemuan setelah ia memutuskan ingin berpisah. Ingin ia membiarkan dirinya pergi dari sisiku. Namun kukatakan bahwa hidup adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada konsekuensi. Aku telah memilih akan selalu mencintai dan menunggu. Kubiarkan diriku tersiksa dan aku menikmatinya dengan sangat sendiri.

Aku menikmati saja segala keperihan yang semakin menggungung. Jiwaku hancur berkeping-keping menyisakan serpihan-serpihan harapan masa depan. Kunikmati saja hidup ini. Segala ujian kuhadapi dengan biasa saja. Aku selalu bersungguh-sungguh tapi tak kuperoleh semangat yang menggebu-gebu untuk menjadi pemenang. Kubiarkan semua berjalan seperti air mengalir. Kurasakan hitam dan putih. Mau tak mau disadari atau tidak, dalam kesudahan tak memberi warna kelabu. Akan selalu menjalani dan merasakan kelamnya hitam dan beningnya putih sesuci jiwa mutmainnah.

Tapi kungin diriku tetap bisa melangkah, berjalan, berlari, dan mendaki sampai ketinggian gunung Tursina. Walau terseok-seok dan terjatuh dan terluka. Kusadari perjalanan pasti berjalan sesuai rencana-Nya. Mengerti tidak mengerti manusia harus bisa menerima apa yang sudah terjadi. Badai pasti berlalu. Ketenangan akan selalu tersemai di dalam hati. Dan takdir akan mengada menuju Cahaya Maha Cahaya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori