Oleh: Kyan | 20/01/2007

[Rika Purnamasari] Menjadi Kenangan Terakhir

Sabtu, 20 Januari 2007

[Rika Purnamasari] Menjadi Kenangan Terakhir

**

Marhaban Ya Muharram. Hari ini tahun baru hijriyah 1428 H. Aku sedikit merasakan semaraknya. Di depan asrama aku melihat pawai obor menyambut malam tahun baru. Telah berlalu 1.428 tahun sejak Rasul hijrah ke Madinah. Islam telah tumbuh, bangkit, berjaya, tertidur pulas, dan sekarang awal dari kebangkitan kembali. Aku harus menjadi pioner estapet perjuangan dakwah sentuhan Islam yang rahmatal lilalamin. Aku ingin menjadi pejuang terdepan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun terkadang rasa kemalasan menggerogoti hari-hariku, tapi komitmenku pada Islam tak terhingga sampai ujung waktuku.

Aku bangga sebagai muslim dan akan kuperlihatkan Islam yang seutuhnya. Islam adalah agamaku. Meyakini Islam adalah aturan untuk dunia. Aku ingin terus belajar Islam, terus mencari makna sejati Islam. Hanya Allah yang bisa memberikan petunjuk dalam menemukan Islam yang sejati itu. Bisakah aku berkata, kalau ingin tahu Islam lihatlah diriku. Apakah cuma Rasul yang bisa atau pantas berkata seperti itu. Menurutku semestinya semua muslim bisa mengatakan itu.

Hari ini pula pertama kalinya aku ditelepon oleh temen SMU-ku. Seorang perempuan yang sampai berlama-lama, setengah jam lebih dia meneleponku. Namanya Rika Purnamasari Wijaya. Sudah beberapa hari dia pulang dari Makasar dan besok ia akan balik lagi ke sana. Dia sudah jadi Koas kedokteran. Ia bakal jadi dokter. Ia menyuruhku datang ke rumahnya malam ini. Aku yang di Cibiru Bandung Timur dan dia di Padalarang, sudah termasuk luar kota. Apakah ini sebuah kesempatan untuk lebih dekat dengannya.

Kuingat sewaktu SMU dulu ia telah menitipkan salam untukkku. Sering terlihat ia menatapku dengan sayu. Katanya dia orang kaya, karena ke sekolah saja sering membawa mobil sendiri. Apakah niatku lurus ketika terbesit di pikiran ingin dekat dengannya. Setidaknya aku bisa dekat, mempunyai teman seorang dokter. Siapa yang tidak bangga memiliki istri seorang dokter. Apakah aku pernah memiliki hati untuknya. Jikapun ada hati, pantaskah aku untuknya. Seorang lelaki miskin mendapatkan calon seorang dokter.

Ah…, ini hanya bayang-bayang dalam khayalan. Mungkin ia menelepon karena sedang ingat saja padaku dan selebihnya ia lupa apa yang sudah terjadi. Mungkin ia hanya ingin dekat saja sebagai seorang sahabat. Mungkin ini sebuah persinggahan semata. Saat ini aku masih tetap tak bisa melupakan orang yang selama ini kucintai. Aku belum bisa menerima kenyataan bahwa ia telah menjadi milik orang lain. Dari dalam diriku masih ada suara-suara yang berkata, aku masih memiliki harapan untuk mendapatkan cintanya. Apakah aku terobsesi dengannya. Terobsesi dengan sebuah cerita novel atau filem yang selalu memberi kesudahan yang membahagiakan. Setelah dalam penantian dan penderitaan yang bertubi-tubi.

Ketika masuk ruang ujian, aku melihat dia sedang dipijitin oleh teman-temannya. Kutanya dia kenapa, sakit apa. Kubilang padanya kalau gak kuat, lebih baik pulang saja daripada nanti harus merepotkan teman-teman yang sedang ujian. Aku sering dan saat itu lama aku menatap wajahnya. Memang kulihat keelokannya nampak semakin pudar. Tapi cintaku padanya mungkin tak akan pernah pudar. Aku banyak memandang dia, karena kalau gak sekarang kapan lagi aku bisa menatapnya. Masa kuliah akan segera berakhir dan detik-detik perpisahan akan kami jelang setelah masa UAS ini berakhir.

Sudah kebiasaan kalau ujian aku selalu menjadi yang terakhir menyerahkan jawaban. UAS sekarang dia pun pasti dan selalu menjadi yang kedua dari terakhir. Kecuali ujian Akuntansi Keuangan aku keluar bersama mereka. Kurasakan kini resahnya jiwa harus melepas kepergiannya. Akankah kurasakan lagi cinta yang lebih besar dan dahsyat dari cintaku saat ini padanya. Biarlah waktu hari-hariku kujalani apa-adanya. Derita dan cerianya.

Pagi-pagi harus segera mandi dan harus ke Cicadas untuk mengirim uang ke kakakku lewat bank BNI. Aku sudah cape-cape mengumpulkan, tidak makan, menghemat ingin membeli komputer. Tapi aku harus merelakan karena demi keluarga. Rumah yang di Batujajar harus segera diselesaikan dan akupun berhak tinggal disana. Meskipun secara hukum rumah itu atas nama kakakku. Dalam akte kepemilikan rumah tertera nama dia. Akankah suatu saat nanti rumah ini bakal jadi biang pertengkaran dalam pembagian warisan.

Inginku tak menuntut apa-apa. Aku hanya ingin memiliki segalanya hasil keringatku sendiri, asalkan sekarang aku dibiayai sekolahku dan dipenuhi semua keinginanku untuk mendukung bagi masa depanku. Tapi jika itu hakku akan kuperjuangkan untuk mendapatkan hakku. Buat apa banyak menuntut.

Melihat adegan-adegan kekerasan dan kesadisan dari internet membuat jiwaku miris. Ada orang yang digorok sampai buntung kepalanya, ditembak kepalanya dan ditimpa batu hingga kepalanya sampai remuk. Dimanakah nilai kemanusiaan. Dimanakah hak asasi manusia yang menjunjung tinggi hak hidup. Apakah nyawa manusia sudah tak berharga lagi. Sering menonton adegan-adegan sadis, keras, dan bagaimana pengaruhnya bagi jiwa secara psikologis. Apalagi ditonton anak kecil, dewasa saja tak tahan melihatnya lagi. Tayangan televisi sangat membahayakan.

Ingin anak-anakku memiliki kelembutan, dengan mendampinginya ketika menonton berbagai tayangan. Dan sering berdialog dengan dunia anak-anak. Lagu-lagu cinta yang katanya cengeng, menurutku itu baik untuk melatih jiwa supaya menjadi lembut dan halus, ramah dan teduh. Tapi memang lagu cinta yang bagaimana dulu yang berbahaya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori