Oleh: Kyan | 24/01/2007

Dalam Ruang Kehadiran

Rabu, 24 Januari 2007

Dalam Ruang Kehadiran

**

Tumbuh untuk berkembang, berkembang untuk berbunga, berbunga untuk hadir, dan hadir untuk mengalir. Mengalir mengikuti tarian Geisha sampai ke tepian. Hidup tidak hanya sampai disini. Masih ada waktu tersisa untuk memberikan yang terbaik dalam hidup yang sempit ini. Mencoba menikmati hidup untuk menjalani rencana-rencana Tuhan yang tak berkesudahan. Maka hiduplah aku hari ini. Tapi sekarang sudah berbeda. Kau dan aku tegak berdiri menatap dunia masing-masing.

Diantara kami jika saling memandang hanyalah membawa pada kedalaman dan kepedihan. Kujalani hidupku bersama keterasingan dan kau pun akan merasa terasingkan jika kau mendengar hati yang mendayu itu. Sebuah pertemuan hanyalah membawa kesakitan. Aku tak bisa dan tak boleh mengelak dari kenyataan. Aku harus bahagia jika dirinya bahagia. Untuk yang tercinta, aku harus memberikan yang terbaik dan tanpa pamrih. Demi cinta janganlah memberikan harapan yang kosong dan jangan kau sembunyikan dalam irama muski hingar-bingar. Mampukah aku menawarkan segenggam harapan yang tertinggal dalam ruang.

Pulang ujian aku pergi ke Cinunuk untuk memperpanjang kartu member Ahad-Net. Setahun kurang sedikit aku tak bersilarutahim ke bisnis multilevel syariah ini. Semangat keIslamanku, semangat ke Indonesiaanku, nasionalismeku, aku tetap ingin menjadi mitra Ahad-Net. Suatu saat ingin mengembangkan ke luar Indonesia. Karena Ahad-Net adalah perusahaan Indonesia yang hanya mendistribusikan produk-produk Indonesia. Mampukah bisnis ini mengangkat nama Indonesia, mensejahterakan Indonesia. Bisnis bukan semata untung rugi, tapi harus memiliki landasan patriotisme Islam dan Indonesia khususnya. Aku bangga menjadi mitra Ahad-Net. Memang tak ada istilah dekat atau jauh, tapi prioritas. K-link adalah jaringan bisnis muslim, tapi dimiliki oleh orang Malaysia, sedangkan Ahad-Net murni dari Indonesia. Memang sekarang zaman globalisasi, tapi prioritas diri untuk kebangsaan. Bisakah berdiri di atas kaki sendiri, memiliki karakter sendiri.

Perjalanan hidupku kunikmati sampai hari ini. Aku mampir sengaja ke kosan Uly Ajnihatin. Kuberanikan diri meskipun ragu-ragu untuk datang. Aku hanya mau mengambil buku yang sudah dua tahun dipinjam. Sempat melihat ke dalam kamarnya. Dua lukisan yang kuberikan untuknya dipajang juga. Semoga lewat lukisan itu, dia bakal mengingatkan sepanjang lukisan itu masih ada. Mungkin ingatnya padaku semakin pudar seiring semakin pudarnya lukisan itu. Ingatku padanya akan tetap terpatri dalam diriku. Pernah aku berjanji bahwa ia menjadi cinta pertama dan terakhirku. Munginkah waktu berjalan seperti apa yang kumau. Akankah aku menikah dengan orang yang kucintai. Semoga aku menikah dengan seseorang yang kucintai dengan lebih dalam, lebih dahsyat, lebih besar dari sebelumnya. Dari cinta yang kurasakan saat ini.

Bila berbicara tanpa hati dan perasaan. Dengan pikiran aku berkata-kata dan bercanda tawa ceria di depan teman-teman. Tak usah memusingkan atau memikirkan sesuatu yang telah terjadi. Semua sudah berlalu dan kuakhiri semua cerita tentang cinta melankolis ini. Hanya menjadikanku sebagai pribadi yang rapuh. Aku mampu dan menjadi kuat dengan diriku sendiri. Mengharap sesuatu dari luar diriku hanya akan menuai kekecewaan.

Jangan pernah mengharapkan orang-orang berbelas kasihan padaku. Orang lain kadang memberi kadang tidak. Mensyukuri apa yang kupunya dan berjuang keraslah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Menebar senyuman menabur benih-benih kebaikan di segala penjuru taman hati. Niscaya suatu saat benih-benih itu akan tumbuh salah satunya, berkuncup dan berbunga, hadir dan mengalir. Bersabar dan berdoa dengan jiwa mutmainnah.

Hari demi hari aku mengikuti ujian UAS. Pulang ujian kusempatkan kumpul dengan teman-teman di depan kampus. Kebersamaan adalah lebih baik. Tapi sering merasa kesendirian dalam kebersamaan. Kebersamaan dalam kesendirian. Semua merasa kedukaan akibat kebersamaan. Kebersamaan telah membawaku ke alam kesendirian. Aku tak harus menyalahkan siapa-siapa. Aku tak bisa memaksa siapa-siapa.

Hidup dalam perjalanannya merupakan bayangan dari perjalanan hidupku. Baik atau buruk bergantung padaku. Tidak hanya kebutuhan, tapi harus diperjuangkan sesuatu yang kuinginkan. Menuju baik atau buruk, aku harus melangkah, selangkah demi selangkah dengan kesabaran dan ketenangan. Tergesa-gesa hanya membawa pada kekhilafan. Tapi jangan takut bila terperosok juga pada bermacam-macam kesalahan dan kekhilafan.

Dalam perjalanan yag serba cepat. Manusia dipaksakan harus bergerak serba cepat. Berjalanlah meski tertatih-tatih. Manusia tidak bisa diam sejenak hanya sekedar untuk menikmati detik demi detik perjalanannya. Tak tahu secara psikologis akan berdampak seperti apa pada manusia. Bagaimana human sisi kemanusiaan, dimana manusia telah dijadikan mesin produksi kapitalis. Tak bisakah aku diam sejenak untuk sekedar merenungi diri, menelisik diri, dan memahami alam hakikat.

Aku merasa dikejar-kejar sesuatu dalam gelap. Bagaimana agar aku bisa mengabdikan diri buat diriku sendiri. Aku ingin menuai prestasi. Untuk sampai kesana, ada perjalanan yang panjang yang harus ditempuh. Agar sampai di sana perlu pengorbanan. Tidak bisa menempuh perjalanannya hanya dengan gratis. Prestasi besar merupakan kumpulan perjalanan prestasi-prestasi kecil. Jangankan prestasi besar, prestasi kecil pun aku belum meraihnya. Hanya prestasi-prestasi yang sepenggal-penggal.

Menjadi teringat seorang pelukis kaki-mulut yang menceritakan kisahnya ketika kepercayaan dirinya hilang setelah masuk kuliah. Pada awalnya dia selalu di rumah dan mendapatkan pendidikan dan pengajaran melalui home schooling. Sehingga dirinya mendapatkan kepercayaan diri secara penuh, seperti yang lainnya sebagai anak yang normal. Bila bicara kekurangan, orang lain pun memiliki kekurangan. Ia tak merasa rendah diri dengan kekurangan tak memiliki tangan dan kaki.

Dirinya merasa hanya memiliki kekurangan tak ada tangan dan kaki yang berupa anggota fisik yang materi. Sedangkan orang lain mungkin saja memiliki kekurangan yang ruhani, sehingga justru itu yang lebih berbahaya. Tapi karena suara-suara dari luar, dia harus berkelahi dengan pemikiran-pemikiran dari luar dirinya. Kepercayaan dirinya menjadi pudar setelah ia masuk bangku kuliah. Dimana ia sering mendengar teman-temannya berkomentar tentang kekurangan dirinya. Seberapa kuat pertahanan dirinya, tetap komentar orang-orang selalu terdengar pahit dan aromanya masuk merembes secara pelan-pelan masuk kedalam pori-pori hati. Ia sering merasa sakit hati setiap merasa dan mengingat kata-kata yang pernah dilontarkan temannya.

Begitupun aku dan mungkin semua orang akan merasakan hal yang sama. Ketika dirinya dikomentari negatif oleh teman-teman, aku sering merasa sakit hati. Ketika mendapat kata-kata yang pedas dan menusuk, ingin segera membalasnya meskipun itu sebuah kenyataan. Mungkin itu kata-kata yang kritis. Tapi bila disampaikan secara tak benar, bukan merekonsruksi malah membikin jatuh tak berkesudahan. Aku gak terlalu peduli, dan gak usah peduli pada setiap omongan orang. Jangan terlalu mendramatisir apa yang belum menjadi kenyataan dan apa yang bukan kebenaran.

Jalani saja, jalani dan hadapi secara biasa-biasa saja. Kalau bisa tulilah dengan komentar orang. Tuli dan buta pada hal tertentu adalah sikap yang baik. Memang hak orang-orang untuk berkomenar apapun. Karena toh itu mulutnya mereka. Aku tak bisa melarang secara mutlak supaya tak berbicara. Karena bisa jadi ocehan atau celotehan orang-orang dapat bermanfaat bagiku. Aku harus membangun pertahanan dalam diri. Aku harus bisa menginfiltrasi setiap pembicaraan orang. Tak usah sakit hati, down dengan komentar orang.

Aku tetap ajeg, aku tetap ceria memandang tengadah ke langit dalam memaknai setiap bahasanya. Aku harus tetap berbuat baik pada siapapun. Tidak mengharap balasan. Memberi dengan lebih banyak dari seharusnya dan menerima sedikit dari seharusnya. Memberikan hak-hak mereka semua tanpa dikurangi sedikitpun. Kalau perlu hak-hak sendiri yang dikorbankan demi memenuhi hak mereka. Pikiranku harus mengacu pada itu. Bahwa bersikap adil itu harus, dan ihsan adalah sikap lebih tinggi lagi. Keegoan diri telah melebur pada ego kemanusiaan. Meskipun akan dirasakan ketiadkadilan di dunia, namun ada pengadilan di masa depan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori