Oleh: Kyan | 25/01/2007

Menulis Karena Yakin Bermanfaat

Kamis, 25 Januari 2007

Menulis Karena Yakin Bermanfaat

**

Membaca buku Fenomena Ayat-ayat Cinta yang ditulis sang adik Habiburrahman El-Syirazi tuntas sudah. Sangat mengasyikan membaca buku fenomenal Novel Ayat-ayat Cinta. Sungguh menggugah dan tak ingin berhenti membacanya. Di balik rencana yang menurut manusia sebuah kesialan, akhirnya ada rencana “Besar” yang membahagiakan. Untuk aku bisa menulis, sebelum aku merampungkan novel perdanaku, ada baiknya aku belajar dulu menulis cerpen. Panduan teknis bagaimana menulis cerpen harus kubaca dan kumiliki. Tadinya jika aku punya uang ingin membeli buku tafsir atau komputer ter-upgrade, sekarang targetku menjadi lain.

Apakah aku tidak konsisten. Padahal komitmenlah yang mengantarkan pada pintu gerbang kesuksesan. Aku harus memprioritaskan mana yang lebih penting. Antara belajar menulis, menabung untuk membeli komputer, dan Tafsir al-Mishbah. Tafsir yang telah kupunya pun belum semuanya kubaca. Orientasi bisa dirubah asalkan menjadi lebih baik. Ingin aku menjadi penulis, seberapa jauh tekadku. Segala sesuatu tergantung niatnya. Sebuah keinginan besar yang menggemparkan. Ini kesungguhan yang tak pernah pudar. Dan melakukan segala suatu yang terbesit di hati menjadi sebuah tindakan.

Aku baru sebatas menulis catatan harian dan selangkah lagi bisa menulis cerpen. Aku telah punya keinginan kuat untuk terus menulis, meski kadang masih kalah dengan keinginan membaca. Membaca mengalahkan semangat menulisku. Lebih asyik membaca daripada menulis. Semoga ini jadi pertanda bahwa aku haus akan ilmu. Kukira aku harus memahami bagaimana menulis cerpen yang baik. Aku harus banyak membaca cerpen karya pengarang besar. Aku yakin suatu saat aku akan menjadi penulis besar. Aku telah melakukan langkah-langkah kecil menuju puncak kesuksesan.

Aku harus menata diri. Jangan ada waktu yang tersisa. Jangan malu untuk bertanya dan belajar terus kepada orang-orang yang lebih tahu dan banyak pengalaman. Jangan pernah malu untuk berbuat kebaikan. Mengaku kalah pun bukanlah sesuatu yang rendah, apalagi nista. Justru mengaku kalah berarti telah mampu mengalahkan ego diri yang selalu ingin menang sendiri di atas penderitaan orang lain.

Sekarang kujalani hari-hariku. Tadi pergi ke kampus langsung ke Fakultas untuk meminta surat pengantar wawancara ke Bank Jabar. Aku harus segera menyelesaikan tugas akhirku. Disana aku bertemu Eka dan Lia. Aku harus bisa menjaga kehormatan di hadapan perempuan yang memudarkan dan melenyapkan nafs-nafs kotor. Pulangnya mampir ke kosan Wati untuk mengambil buku yang dia pijam. Disana kami belajar bareng mengisi tugas Akuntansi Keuangan yang mau dikumpulkan besok.

Yakin semua yang terjadi adalah baik. Baik untuk perjalanan terbaik bagi setiap yang mengalaminya. Untuk menulis sebuah novel pembangun jiwa, tidaklah didapat dengan gampang. Di dalamnya telah banyak lika-liku perjuangan. Sang pengarang telah melahap karya-karya besar. Orang besar menulis karena keyakinan yang ditulisnya benar dan jika dibaca orang bakal bermanfaat. Untuk menulis tidak hanya menulis biasa tapi memerlukan riset panjang dan njelimet. Sampai tujuh tahun kang Abik menyelesaikan novel ini.

Akupun perlu membaca karya-karya besar dan itu perlu modal. Ingin aku membeli buku-buku bagaimana cara menulis cerpen. Koleksi buku-bukuku harus diperbanyak buku sastranya. Dengan sastra yang menggugah, bukan sastra picisan. Meskipun semua sastra adalah untuk menggugah pada arah kehidupan. Terlepas ke arah yang baik atau buruk, dalam Alquran terdapat perkataan-perkataan yang baik dan perkataan buruk. Perkataan baik untuk mengantarkan penulisnya menjadi orang besar. Semua orang perlu sastra, karena ia adalah kelembutan, olah jiwa dan rasa. Ingin menjadi penulis, tapi tak banyak buku-buku yang kupunya tentang bagaimana cara menulis. Bisakah target 2007 aku bisa menulis cerpen dan dimuat di media. Selain lulus kuliah, aku ingin ke berlanjut ke S1 dan telah jago menulis.

Bisakah aku mempunyai pasif income. Dengan menulis akan meraih segalanya. Buku-buku sastrawi dipelajari benar-benar, sehingga buku hanya dijadikan pegangan tanpa makna. Kita menulis bukan untuk dirinya. Menulis karena ingin menulis. Membaca pun adalah untuk menulis. Apakah setiap dinding kamar terjaga dan terpatrikan cita-cita yang membumbung tinggi. Aku ingin membaca Tafsir al-Mishbah. Tahun ini aku ingin punya komputer bagus. Tapi dengan keuangan terbatas ada dua pilihan ketika ada uang.

Dengan punya komputer bisa bisnis apa saja yang berhubungan dengan komputer. Tapi aku pun ingin banyak membaca buku-buku tentang bagaimana cara menulis. Aku ingin menulis karya besar. Tentunya perlu riset lama dan besar. Tak bisa segala sesuatu dengan gampang. Penulis Ayat-ayat Cinta melahap karya-karya sastrawan besar, nasional dan internasional. Aku ingin hidup, makanya aku menulis.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori