Oleh: Kyan | 27/01/2007

Semua Bayangan Bersamanya

Sabtu, 27 Januari 2007

Semua Bayangan Bersamanya

**

Malam minggu menonton film Titanic di Trans TV. Sebenarnya baru kali ini aku menontonnya secara utuh. Dan benarlah film yang sungguh dahsyat dan menggetarkan. Tentang kekuatan dan kedahsyatan cinta. Sebuah pilihan hidup di ujung hidup. Berjuang supaya waktu berjalan sebagaimana kita mau. Mencoba bernegosiasi dengan takdir. Kuingat setahun lalu, setelah malamnya menonton Titanic, hari Senin aku pulang kuliah bersama dia. Dia main ke kosanku yang katanya mau pinjam buku. Dia membuntutiku dan mengikutiku segala keinginanku.

Mungkin saat itu saking cerianya, tak tahu lagi apa yang kurasakan saat itu. Bisa bercengkaram dengannya. Aku tak menganterkan dia pulang. Namun setelah lima menit dia pulang aku menyusulnya. Kukagetkan dia dari belakang dan satu senyuman dari bibir merahnya menebarkan drama cinta. Aku bahagia bersamanya. Kuingat lagi suatu ketika di sore itu, ia mau pinjam buku ketika pulang bersama ke kosanku. Kusuruh ia salat Ashar dulu di kosanku. Karena hari sudah jam lima soe. Tapi ia menolak, akupun tak enak memaksanya.

Semua tentang kenangan bersamanya. Pertemuan pertama di gerbang kampus, marahnya dia ketika buka bareng, pertama main ke kosannya. Saat rintik hujan pulang bersamanya dari Mihdan, saat hujan deras menunggu di Kepatihan. Saat dia mengulurkan tangannya padaku mau menyeberangi sungai, saat di warnet, dan saat semuanya adalah hanya bayangan.

Sudah aku dikecewakan dia berulang kali. Tak lagi kupinjami dia buku. Tak kutoleh panggilannya. Lalu baikan lagi, bercengkrama lagi, penuh kemesraan lagi bersamanaya. Di kampus, di kosannya, di kosanku, dimanapun. Begitu banyak kenangan bersamanya. Tapi hari ini yang tersisa hanyalah kenangan bersama yang pahit dan manis itu bercampur aduk. Apakah dia pun mengingat sebagaimana yang aku ingat. Apakah dia merasakan pula apa yang kurasakan. Semua telah berakhir.

Hanya keajaiban yang bisa membuat kenangan itu terulang kembali. Akankah kudapatkan cinta yang baru. Terlalu banyak yang harus kulupakan. Saat bersamanya terlalu sering. Teralu manis dan telah kudapatkan banyak hal bersamanya. Tapi kujalani saja takdirku hari ini. Mengingat satu hal, mengingatkan kembali semua hal. Apakah kenangan itu tertuliskan di catatan harianku. Setumpuk bukupun tak akan cukup untuk menuliskan cerita bersamanya.

Kala itu perjalanannya tak kuhayati dengan sungguh-sungguh. Namun saat sudah berakhir semua kenangan mengemuka. Memoriku telah menyimpan semuanya tanpa disadari. Semua terasa bermakna ketika harapan sudah tak akan terulang kembali. Sebuah pertemuan terasa berarti kala sebentar lagi berpisah. Pertemuan dengannya hanya menambah luka. Semakin pedih dan menyayat hati. Nafu-nafsu kotor bergumul dalam diri. Ia telah menjadi milik orang lain, kenapa aku masih jatuh hati padanya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk memudarkan dan melenyapkan api cintaku padanya. Tidak bisa secepat kilat menghilangkan guntur asmaraku yang masih menggelegar di semesta asaku.

Kurasa cintaku padanya tak akan pudar dan lapuk dimakan usia. Akan menjadi kenangan dalam perjalanan hidupku. Akan selalu menjadi motivasi bagi pencapaian cita-cita dan harapanku. Biarlah aku menanggul kesepian, asalkan ia tak menanggung derita. Ketika hidup bersama lelaki pilihannya itu dia bahagia dan aku pun bahagia. Aku tak bisa memberikan seperti apa yang lelaki itu berikan. Kusadari dan kuakui aku belum bisa memberikan apa-apa.

Namun pertemuan dengannya hanya menorehkan luka. Ia yang telah menorehkan luka di hatiku. Ia yang telah menyayat kulitku tiada henti, mungkin sampai aku mati. Aku tak bisa membohongi diri melepaskan beban penderitaan cinta ini. Kuceritakan diriku dan kubuat diriku senang bercanda tawa ceria di mata teman-teman. Namun hatiku tak bisa dibohongi. Saat kesepian datang, darah kedukaan semakin mengalir dengan derasnya tiada henti. Tapi harus kusadari aku tak boleh menambah penderitaan orang. Karena orang-orang terdekat pun mengalami hal yang sama. Sama-sama mengalami kepedihan hati.

Teman-temanku  mempunyai cerita cintanya sendiri-sendiri. Reza ditinggal nikah oleh perempuan yang didambanya, Runi. Aril ditolak cinta sama Aeni. Sani menjadi pihak ketiga dan mencintai Sinta yang sudah punya komitmen dengan lelaki pilihannya. Semua perempuan yang cantik telah memiliki dan dimiliki. Sedangkan aku dan orang-orang terdekatku menjalani kepahitan cinta. Kenapa harus jatuh cinta, kenapa tidak bangun cinta. Kenapa jatuh cinta kepada teman sekelas pula. Kenapa itu bisa terjadi padaku dan mereka. Benar kata mereka bahwa cinta tumbuh karena telah melakukan hal-hal secara bersama-sama dalam suka dan duka. Semua saling merasakan apa yang sudah dan ingin dirasakan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori