Oleh: Kyan | 29/01/2007

Selamat Tinggal Masa Lalu

Senin, 29 Januari 2007

Selamat Tinggal Masa Lalu

**

Di bawah cahaya temaram rembulan kuucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal masa laluku. Kau telah memberikan kenangan terindah bagiku yang tak mungkin terlupakan. Semua tersimpan rapi di memori otakku. Suatu ketika akan aku munculkan kembali saat diperlukan mengingatmu. Suatu ketika akan kutuangkan pada lembaran kertas agar menjadi sebuah cerita yang menarik dan dibagikan sebagai pengalaman. Menjelang tiga tahun sejak aku kembali ke Bandung, setelah setahun setengah di Batam, aku telah menemukan pengalaman baru. Tentang suka duka hidupku, perjalanan cintaku, masa lalu yang suatu saat momentnya akan terulang kembali.

Apa yang kulakukan dan kutulis saat ini, juga akan terulang kembali, akan kulakukan kembali, dan akan kutulis kembali. Karena dunia selalu berputar. Bentuknya akan selalu sama. Tapi sikapku terhadapnya harus berbeda. Sudut pandangku harus berbeda. Aku akan lebih dewasa lagi bersikap terhadapnya. Hari semakin hari, aku tak menyesali atas semua yang telah berlalu. Karena itu semua adalah takdirku. Ia adalah manzilah perjalanan hidupku.

Aku telah mencintai seseorang dengan begitu sangat, dan saat ini seseorang itu telah berkomitmen dengan lelaki lain. Kupikir jika itu yang terbaik untuknya, karena ia akan menemukan kebahagiaan bersamanya. Kini aku telah melepaskannya pergi. Aku sudah memiliki kebahagiaan sendiri mencintainya dengan tidak memilikinya. Aku akan tetap mencintainya sampai kapanpun. Aku akan tetap menatapnya sebagai inspirasiku. Aku pun tak ingin terbuai dan ingin kulepaskan masa laluku. Semoga aku menemukan bunga yang lebih indah dalam pengaduanku. Dalam sujud panjangku yang mengiba pada Tuhanku.

Aku ingin menggenggam cinta yang lebih besar lagi. Lebih dahsyat dan menggema ke segala penjuru bumi. Aku yakin akan mendapatkannya suatu ketika. Hanya saat ini belum saanya dan entah kapan. Meski sekarang sedang dalam kepedihan dan kegetiran hidup, kuyakinkan diriku akan kudapatkan kembali kebahagiaan yang besar. Aku selalu berdoa untuk perjalananku ini. Aku berdoa untuk dia yang kucinta, semoga dia selalu bahagia bersama lelaki pilihannya. Aku bisa menemukan kebahagiaan yang dia renggut dariku. Kutemukan kembali nampan keceriaan dalam momen-momen yang indah, lebih indah, lebih dahsyat, dan lebih memukau bagi setiap yang mendengar dan membaca kisahnya.

Dia hanya sangat ingin aku ini sebagai teman. Dia menginginkan aku selalu ada di sampingnya ketika dia merasakan kesulitan. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai teman yang dapat memberikan solusi. Tadi sore saja ketika aku lagi beres-beres kamar, ada yang yang mengetuk pintu kamarku, ada yang datang dan tak kusangka yang datang itu adalah dia.  Dia yang pernah memberikan keceriaan padaku. Dia yang pernah membuatku bahagia, namun akhirnya dia telah menyakitiku. Dia telah memberikan kepedihan yang sangat dalam. Dia meminta tolong padaku untuk mengedit tugas Pancasila dan sekalian mengeprint-nya.

Dia di kosanku sampai malam. Dari jam lima sampai jam sembilan malam. Aku mengantar dia sampai depan di jalan raya. Sewaktu jalan ke depan tadinya ingin sekali membicarakan hal-hal privasi. Tapi kupikir semua sudah berakhir. Biarlah kepedihan itu kutelan sendiri. Ingin aku menyampaikan padanya bahwa aku sangat sayang padanya. Tapi kubiarkan waktu berjalan.

Dia bercerita tentang masalah pekerjaannya. Kujawab saja kenapa selalu salah menghitung HPP, kan ada pacarmu. Dia jawab, “Dia jarang ke kantor dan kalaupun ketemu selalu saja bertengkar.” Owh begitu rupanya sedang ada masalah hubungan mereka. Nampaklah bayangan saat itu. Masih jelas bayangan ketika dia menelepon sang pacarnya itu, yang tiba-tiba ada sesuatu yang merembes dengan suhu 100 derajat, bahkan lebih. Panas melihat orang yang kucintai berbicara mesra dengan orang lain.

Kenapa juga aku mesti cemburu. Bukankah sekarang sudah tak ada apa-apa lagi dengannya. Bukan sudah, tapi belum pernah. Harus kubuang segala pengharapanku bahwa ia akan berpaling lagi padaku. Kini dia kuanggap bukan lagi seperti perempuan yang kubaca di novel Rumah Kaca—nya Pram. Sudah tamat kubaca novel Rumah Kaca—Pram. Memang perempuan selalu kuanggap unggul. Ini sebagai tanda penghormatan untuknya. Sejak dulu perempuan di Nusantara unggul di mata pria. Perempuan selalu menjadi inspirasi bagi kemajuan bangsa. Perempuan adalah tiang negeri.

Bahwa di balik kemajuan seorang lelaki, di balik kemajuan bangsa, disana ada perempuan yang selalu ada, selalu memotivasi, selalu menginspirasi. Begitu sebaliknya keterpurukan negara dan seorang pribadi, gara-gara perempuan. Begitupun aku karena perempuanlah yang menghancurkan diriku. Aku tak bisa konsentrasi menata hidup, hanya karena dikecewakan oleh perempuan. Tapi aku harus sabar dan tawakal.

Mau registrasi kuliah, aku belum punya uang Rp. 300.000,- harus kupinjam kepada siapa. Kalau mengajukan keringanan jadi Rp. 150.000,- akan kucoba. Dua hari lagi aku mau ke Book Fair. Aku ingin mencari buku-buku tentang kepenulisan. Aku ingin menjadi penulis handal. Menjadi penulis brilian, membaca dan menulis adalah modalnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori