Oleh: Kyan | 31/01/2007

Bukanlah Perempuan Primitif

Rabu, 31 Januari 2007

 Bukanlah Perempuan Primitif

**

Hari terakhir bulan Januari adalah bulan kepedihan bagiku. Jika hari ini ke bank apakah disana lagi sibuk mau tutup buku. Ah, aku tak peduli karena hari ini aku harus pergi ke Bank Jabar untuk memberikan surat pengantar wawancara dan magang. Ternyata aku diterima dengan ramah dan jawabannya lima hari kemudian. Begitu keluar dari kantor Bank Jabar kurasa daerahnya tidak asing. Kuingat dari sini dekat ke Palasari. Tapi uang di dompetku cuma Rp. 40.000,-. Aku sudah tak punya uang lagi.

Kususuri jalan dan sampailah aku Palasari dan sampailah aku pasar buku Palasari. Rencanaku ingin melihat-lihat buku tentang menulis cerpen. Kutanyakan ke pramuniaganya supaya dicarikan lewat komputer. Cuma ada buku Bambang Trim, “Saya bermimpi jadi penulis.” Aku berkeliling dan kutanyakan pada setiap toko buku tentang menulis cerpen. Sempat pula menanyakan buku karya Hamka, “Tenggealmnya Kapal Van Der Wijk” dan “Di Bawah Lindungan Kabah”. Kemasannya jelek tapi mahal. Buku-buku sastra memang mahal. Tak jadi kubeli meski aku butuh. Lagian uangnya dari mana.

Kudapatkan juga buku-buku sastra terbitan Grasindo yang sedang didiskon 40 persen. Banyak buku tentang puisi dan cerpen. Ingin sekali aku memilikinya buat panduan menulis puisi dan cerpen. Lagi-lagi aku tak punya uang. Aku masuk ke toko BBC dan teringat GIP yang menerbitkan buku tentang menulis cerpen, yang kulihat sewaktu main ke kantor cabang GIP Cibaduyut. Akhirnya kutemukan juga buku menulis cerepen. Ada pula buku novel yang buatku ini sangat menarik. Novel yang ditulis Victor Hugo, “Les Miserables”. Jadinya aku membeli buku ini dan hanya membeli ini.

Sempat aku salat Ashar dulu di Masjid Palasari. Rencana mau langsung pulang, tapi mumpung liburan masuk lagi ke BBC. Kususuri setiap rak buku satu demi satu. Banyak sekali buku yang ingin kubaca. Di akhir penyisiranku kudapati buku-buku sastra jadul terbitan Balai Pustaka. Yang kucari sejak tadi tentang menulis cerpen ada empat buku. Lagi-lagi aku tak punya uang buat membelinya.

Keinginan untuk banyak membaca dan menulis memang membutuh biaya yang tak sedikit. Di kosanku sudah banyak buku tapi kurasa belum cukup untuk membuatku menjadi penulis. Ingin kutekuni diriku menjasi seorang penulis, dibandingkan jadi bisnisman MLM. Mungkin karakterku cocoknya jadi penulis. Tapi untuk tercapainya jadi penulis masih banyak lika-liku yang belum kulalui. Tak terasa sudah jam tiga lebih, di luar terlihat semakin gelap. Aku langsung pulang pakai angkot.

Hujan deras. Tapi tidak seperti kemarin yang sampai kebanjiran. Sudah sore begini pasti bakalan berdiri di Damri. Sudah jadi langganan. Tak lama kemudian Damri jurusan Cibiru datang. Aku langsung naik. Muatan penuh sesak dan kuamati sekeliling. Banyak yang berdiri dan ada sesuatu yang menarik perhatian di dekatku. Terpesona dengan perempuan cantik yang tak jauh dari tempat berdiriku. Banyak gadis pakai kerudung koas, pasti para siswi Mualimin Persis.

Selalu menarik perahatianku perempuan dengan kerudung ala Turki. Sangat terlihat anggun dan menawan hati. Sangat suka aku dengan perempuan yang dibalut kepalanya dengan kerudung ala Turki. Tentu aku sangat menginginkan perempuan berjilbab yang cantik berseri. Ia yang berwawasan luas dan komitmen tinggi pada Islam. Tapi gaul dan fungky. Setidaknya sedikit faham dengan minatku yang doyan pada buku-buku Filsafat Tasawuf dan Sejarah peradaban umat manusia. Buat apa yang cantik yang kosong. Laki-laki harus mendapatkan kepuasan seksual dan intelektual darinya. Jika hanya kepuasan seksual saja yang didapat, berarti itu perempuan primitif. Maka pergi saja tidur dengan pelacur.

Kucari-cari perempuan intelektualis tidak seperti mengaduk-aduk buku. Apakah perempuan yang selama ini sedang kucintai sudah memenuhi kriteria ini. Telah kudapatkan tapi dia keras kepala dan selalu ingin menang sendiri. Jika dia lebih memilih komitmen dengan lelaki lain, kulepaskan dari hatiku. Secara pelan tapi pasti meski sakit dan pedih, seperti menarik siluet bambu dari pantatku. Semoga di hari depan kudapatkan perempuan yang lebih sempurna, yang lebih mengerti aku sebagai seorang anak korban keluarga broken home.

Keluargaku berantakan. Sekarang ingin kutata diri, ingin jadi pribadi sukses, ingin kuraih apa-apa yang kucita-citakan. Ingin kubuktikan bahwa aku bisa meraih segalanya. Sekarang aku sedang menyusun batu bata keberhasilan. Untuk kubangun istana masa depan yang gemilang. Kucatat perjalanan hidupku sebagai seorang penulis hebat. Para penulis hebat menulis sebanyak sepuluh lembar setiap harinya. Wajar dia menjadi seorang penulis andal. Ibnu Sina pun setiap harinya menulis beberapa lembar.

Tulis apa saja yang ingin kutulis, apapun itu jangan sampai terlewati. Begitu nasihat dari Mas Pram. Ingin aku belajar menulis darinya. Aku harus membaca karya-karyanya. Lagi-lagi memerlukan uang untuk membelinya. Di perpustakaan buku-buku bermutu seperti itu tak ada. Perpustakaan tak ubahnya hanya sebagai musium. Aku sudah lama tak berkunjung ke perpustakaan daerah. Untuk mendapatkan keheningan pikiran, akan kucoba main ke perpustakaan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori