Oleh: Kyan | 02/02/2007

Bermian-Main Dalam Rintik Uang

Jum’at, 02 Februari 2007

Bermian-Main Dalam Rintik Uang

**

Kenapa semuanya harus kupandang mengecewakan bagiku. Tak bisakah kupandang segala bisa menceriakanku. Aku selalu saja sedih dan tak memiliki apa-apa yang bisa membahagiakanku. Apakah aku tak pandai bersyukur? Bagaimana caranya agar kupandang segalanya bisa membawaku ke arah yang lebih baik. Semoga yang sekarang kepedihan yang kuterima suatu saat nanti bisa membawa kenikmatan padaku.

Tak peduli orang bilang apa bahwa aku cengeng sekarang ini. Kurasakan saat ini semua dan kujalani hari-hariku untuk kugapai semua mimpi-mimpiku. Sesuatu yang aku impikan harus menjadi kenyataan. Sekarang aku banyak membaca agar memiliki keluasan pandanganku dan cara berpikirku. Tidak lagi berpikir sempit dan dapat melihat berbagai kemungkinan dalam setiap situasi. Sebagaimana katanya padaku, “Jangan memiskinkan diri, jangan memiskinkah hati”. Kuhaturkan terima kasih padanya atas semua nasihat yang ditujukan padaku..

Jangan sampai kupandang bahwa menulis cerpen itu susah. Suatu saat aku bisa menulis cerpen. Memang aku bisa menulis apapun. Aku harus percaya pada diriku sendiri bahwa aku sudah punya bahan cukup untuk bisa menjadi penulis. Orang-orang berkata padaku menulislah terus jangan pernah berhenti menulis. Menulis apa saja yang ingin kau tulis. Banyak orang, para penulis terkenal sebelum dia menelurkan karya-karya yang spektakuler, ia berada di bawah tekanan, dalam zona tidak nyaman. Bahkan ia terlilit hutang dan kemiskinan.

Begitupun sekarang aku lagi dilanda kesulitan ekonomi. Hari Senin harus sudah punya uang Rp.300.000,- buat membayar SPP. Kucoba untuk bersikap tenang dulu, mungkin atau pasti bakal ada jalan untukku mendapatkan uang. Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Meskipun aku sering tidak makan, tapi tidak membuat lapar-lapar amat. Malahan sering tiba-tiba rasa lapar itu hilang. Apakah itu nanti bakal berbahaya bagi kesehatanku, yang penting sekarang aku sedang sehat dan tak kurang suatu apapun dengan kesehatan.

Uangku yang recehan tinggal seribu cukup buat membeli bubur ayam. Tetap bersyukur karena yang penting hari ini bisa makan. Esok atau lusa tak tahu aku bakal makan apa atau aku akan berada di mana, mencoba fokus pada hari ini yang sedang berjalan. Begitulah nasihat yang kudapat dari nonton Titanic, film yang sangat fenomenal dan menggemparkan itu. Lebih baik rayakanlah hidup hari ini, syukurilah apa yang telah kupunya hari ini.

Tak baik bersedih hati di saat aku bisa merasakan keceriaan memiliki teman-teman yang peduli. Hari ini aku telah memiliki apa-apa apa yang telah diinginkan selama ini. Jika dibandingkan dengan orang-orang yang belum memiliki apa-apa sebenarnya aku lebih beruntung. Bersyukur apa yang telah ada dan tersnyum mengembang memandang keceriaan dan menertawakan atas apa yang telah kujalani. Semua yang kuimpikan dengan penuh ambisi satu-persatu mulai terkabulkan. Sebab tanpa ambisi dan semangat menggapai cita-cita tidak akan terwujud.

Berambisi untuk diriku sendiri dan tak diceritakan pada orang-orang. Jika kuceritakan malah mendapat stigma negatif. Aku berusaha dan berdoa semoga semua yang kuimpikan dapat kucapai. Sekarang menjalani saja seperti yang harus kujalani. Mengoptimalkan dan memaksimalkan segala daya dan upaya. Bagaimanapun dan apapun kata orang, yang membahagiakan ataupun menyakitkan tak terlalu banyak berpengaruh pada pilihanku. Biarkan orang-orang berbicara berkoar-koar aku tulikan telingaku pada cerita-cerita tanpa dasar. Hatiku jangan dibuat sulit. Kujalani saja dan kurenungi setiap penggalan perjalanan hidupku. Aku hanyalah puzzle bongkahan titik dari semesta alam.

Memang tak bisa membebaskan sepenuhnya pengaruh dari bagian-bagian di luar diriku. Memang aku begini ini adanya sebagai makhluk sosial. Mungkin aku tak akan menjadi sempurna sebagaimana anggapan orang. Hanya aku bisa sempurna menurut pemahaman diriku sendiri. Memang aku penuh dengan kekurangan dan apa adanya sebagaimana yang tampak. Semoga saja Tuhan menganugerahkan rahmat padaku. Keceriaan yang memenuhi ruang hatiku.

Sungguh aku benar-benar bersyukur akhirnya kutemukan jalan. Akhirnya punya juga aku uang untuk menyambung hidupku yang ngos-ngosan. Amy, teman sekosanku bayar kosan Rp.60.000,- untuk bulan Januari. Tak kuingat dia membayar kosan untuk Desember atau Januari. Sebelumnya aku sudah pinjam uang ke Aril Rp.10.000 buat ongkos ke Garut. Mau berusaha ke kakakku supaya ada uang buat membayar SPP.

Selepas salat Jumat aku bergegas mempersiapkan apa yang mesti kubawa. Kubawa buku “Antologi Cerpen Nobel” dan “Yang Jelita yang Punya Cerita”. Meski biasanya kalau ke Garut suka tak sempat atau tak banyak luang waktu untuk membaca. Tapi aku harus lebih banyak bercengkrama. Aku suka lebih banyak diam mendengarkan tapi akupun harus lebih banyak bicara.

Aku ingin banyak belajar berbicara yang baik dan benar, yang bisa dipahami dengan mudah setiap kata-kata yang kuucapkan. Terkadang aku berbicara terasa kaku dan sulit memilih kata-kata yang tepat untuk dapat mewakili isi pikiranku. Kenapa aku tak biasa banyak bicara, beginilah akibatnya. Tak kusesali tapi aku akan banyak belajar lagi. Tidak malu untuk belajar omong di hadapan orang untuk mengutarakan pandangan. Tak malu dicemoohkan orang dan peduli apa dengan setiap omongan orang. Jangan sampai merasa tersakiti dengan omongan orang lain.

Sampai di Garut jam setengah lima sore. Meskipun aku takut melangkah tapi pada siapa lagi aku memohonkan bantuan. Orang-orang yang kuminta tolong sedikit sekali. Meskipun kuakui teman-temanku banyak sekali. Tapi aku tak ingin menambah beban mereka dan mereka pun mempunyai beban masalahnya sendiri. Sedangkan aku kalau mempunyai masalah, mencoba untuk mencari penyelesaian dengan cara menuliskannya. Menulis karena aku ingin menulis masalah-masalahku. Diriku dipaksa agar terus menulis. Meskipun keinginan menulis masih terkalahkan dengan keinginan membaca banyak buku.

Kuingat hari pertama di pameran buku. Aku ke sana untuk sekedar melihat tren ke arah mana dunia perbukuan. Bagiku ingin banyak melihat buku-buku sastra. Tapi aku yang tak punya uang untuk bisa membeli buku. Aku langsung teringat tabunganku masih ada Rp. 40.000 lagi. Langsung ingat masih ada ATM yang pecahan Rp. 20.000 di Dago. Aku langsung ke sana dengan berjalan kaki meskipun jaraknya sangat jauh. Dari alun-alun menyusuri jalan Braga dan jalan Merdeka, dan sampai juga di Dago dekat kampus ITB.

Sampai disana aku dibuat bingung. Aku tak menemukan lagi keterangan angka Rp. 20.000,-di ATM Danamon. Lalu aku sempat ke luar lagi. Lalu aku masuk lagi dan baru kulihat angka Rp. 20.000,- Alhamdulillah. Akhirnya aku masih bisa membeli buku dengan uang sebesar itu. Aku berjalan pulang sepanjang jalan Dago. Mampir dulu ke Gramedia. Lalu aku melanjutkan jalan dengan berjalan gontai untuk menikmatinya tanpa beban. Di Gramedia sempat kubaca buku tentang Ahmadinejad yang berani menentang Amerika. Sekedar keliling-keliling mampir ke toko kaset. Tak sabar ingin cepat sampai di Landmark Braga tempat pameran buku.

Jalan sendirian dan perutku lapar. Sampai di Landmark, belum begitu banyak pengunjung. Maklum hari pertama dan pengunjungnya tidak begitu banyak seperti pameran komputer. Selama ini yang sering kukunjungi adalah pameran buku dan komputer. Nanti ingin pula kucoba mengunjungi pameran lukisan. Belum pernah kudapat informasi ada pameran lukisan di Bandung. Kunginkan mempunyai lukisan seorang bidadari yang menawan hati.

Setiap kali ada buku yang ingin kubaca, agar dapat kubaca kembali suatu saat harus kubeli itu buku. Kalau kupinjam pada siapa, karena belum tentu buku tersebut ada di perpustakaan. Aku ingin membeli novel Brownies karya Fira Basuki. Ingin membeli buku catatan harian Anne Frank. Keduanya belum dapat kupenuhi. Tapi akhirnya kudapatkan juga buku yang selama ini kucari-cari. Buku yang berjudul “Emak” yang ditulis Daoed Joesoef. Diskonnya cuma 10 persen, tapi tetap kubeli. Banyak buku yang harganya sepuluh ribuan. Aku membeli prosa, antologi cerpen nobel dan Anna Karenina Leo Tostloy, sastrawan kenamaan Rusia.

Selebihnya aku cuma baca-baca dan melihat-lihat dari konter ke konter. Suatu saat nanti aku bakal bisa membeli buku apapun. Membeli buku yang kubutuhkan. Ingin lebih banyak buku-buku sastra. Buku sastra yang digemari orang-orang. Kebanyakan yang sekarang menjadi penulis, sejak kecilnya mereka sudah banyak membaca buku-buku cerita dan terbiasa menulis catatan harian. Sedangkan aku hanya sekarang saja aku sering membaca buku-buku sastra.

Kenapa sewaktu kerja di Gramedia, tidak begitu suka dengan sastra. Dulu aku lebih suka buku-buku Islam dan psikologi. Karena dulu aku belum mengerti manfaat membaca buku-buku sastra. Sekarang aku sedikit tahu manfaat buku sastra. Maka sekarang aku ingin mengoleksi buku-buku sastra dari zaman dulu sampai sekarang. Pokoknya buku yang sempat membludak dan menjadi perbincangan orang-orang. Dan targetku di tahun 2007 ingin kumiliki buku Tafsir al-Mishbah yang ditulis Pak Quraish Shihab. Tapi sekarang malah beralih ke sastra. Karena ingin bisa menuilis, supaya bisa menghasilkan uang yang dengan uang aku bisa membeli lagi banyak buku. Aku ingin punya penghasilan segera. Karena untuk kuperoleh penghasilan memungkinkan yang bisa kulakukan adalah menjadi penulis.

Aku belum pernah membuat sebuah tulisan dan memahami bagaimana penulis-penulis besar menulis. Aku wajib membaca karya-karya mereka. Ingin kubaca buku penuntun teknis bagaimana menulis. Tapi apakah aku benar-benar ingin menjadi penulis? Tekadnya sama seperti ingin mencintai seseorang yang selama ini kucintai. Kupikir setiap orang harus bisa memuaskan diri sendiri dan sebagai cara menghilangkan beban yang mengganjal untukku tiada lain cara kecuali dengan menulis. Aku membaca dan menulis demi hasrat memenuhi itu.

Kutengok hawa luar sepertinya mau hujan. Sebelum benar-benar hujan aku buru-buru pulang. Aku pulang dengan uang di dopetku tinggal Rp. 3.000,- Masih cukup buat ongkos Damri. Sejak pagi aku belum makan, cuma makan bubur seribu. Ditambah pula di Damri aku harus berdiri sejak dari Alun-alun Bandung. Aku tak ingin menunggu lama, menunggu Damri yang kosong. Aku harus cepat sampai di kosan. Mana perutku sudah tak tahan ingin segera mendapat suplai makanan.

Sampai di Cibiru masih hujan. Aku berjalan sampai hujan-hujanan. Kurasakan air mengguyur sekujur tubuhku. Kunikmati saja dinginnya air merembes ke pori-pori kulitku. Katanya dalam air hujan akan dirasakan adanya Tuhan. Senang sekali aku berjalan tanpa terburu-buru hanya karena hujan. Justru aku senang sekali bisa menikmati hujan. Teringat masa kecil yang sering hujan-hujanan. Dengan penuh keceriaan tanpa beban hidup aku berjingkrak-jingkrakan memainkan rintik-rintik hujan. Sekarang begitu banyak beban di pundakku yang harus kutanggung. Hidup yang harus kujalani berliku, tanpa tahu akhirnya akan seperti apa. Melangkah di atas takdirku. Semoga takdir baik berpihak padaku.

Sudah banyak buku yang kumiliki. Semestinya dapat memperkaya wawasanku. Apakah aku sudah serba tahu. Sudah menguasai buku-buku yang telah kumiliki. Katanya lebih baik membaca buku tiga kali buku yang sama daripada membaca banyak sekali buku yang berbeda. Intinya buku yang telah dibaca harus dikuasai dan harus lebih banyak lagi buku-buku yang harus kubaca dan kutelaah dengan lebih dalam. Seperti Chairil Anwar  yang membaca buku hasil curian dibaca sampai larut pagi. Sementara aku membaca buku sampai larut malam tapi bangun selalu kesiangan.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori