Oleh: Kyan | 03/02/2007

Seperti Orang Tolol Dalam Bersabar

Sabtu, 03 Februari 2007

Seperti Orang Tolol Dalam Bersabar

**

Ketika orang lain membaca sebuah karya besar, orang lain telah membuat karya yang bisa menjadi kebanggaan dirinya. Bahkan mungkin melampauinya sebuah karya yang lebih agung lagi yang bisa bermanfaat di mata orang lain. Lantas aku belum punya apa-apa dan apa yang mesti kupersembahkan pada masyarakat. Keberadaanku jangan sekedar menambah beban orang-orang atau hanya memenuhi ruang bumi ini. Tapi aku harus bisa bermanfaat bagi orang lain.

Aku jangan sekedar berpikir baik dan benar hanya dalam pikiran. Aku harus meralealitaskan sebagaimana yang kupikir baik dan benar. Aku harus melakukan sebuah tindakan dan tidak diam saja tanpa sebuah gerakan. Aku jangan sampai mengatakan pada orang-orang, “Jangan asal ngomong, lakukanlah!” Tapi biarkan tangan dan kakiku atau setiap jengkal tubuhku yang berkata-kata. Aku harus bertindak segera melakukan sebuah upaya.

Begitu banyak mimpi, ambisi, cita-cita, harapan, keamanan, kekuasaan dan lain hal yang selalu terngiang di pikiranku. Demi sebuah itu sampai tak sempat tersenyum dengan keadaan saat ini. Berhenti sejenak untuk memikirkan kata hati, sudah sejauh manakah perjalanan hidupku ini. Sudah sejauh mana pendakianku. Apa yang telah kudapatkan dari semua ambisi pribadiku. Aku tak ingin lagi menderita dengan segala yang menimpa. Tak ingin kuulangi penderitaan masa kecil, masa remaja, masa dewasa dan masa depan suram teralami oleh anak cucuku. Aku harus mempersiapkan segala sesuatu bagi kebahagiaanku, anak dan cucuku.

Tapi ada sesuatu yang harus kukorbankan. Tak tahu apa yang mesti kukorbankan. Hidup penuh pengorbanan dan ada yang terkorban mau tak mau. Meskipun pedih dan tak mau menerimanya. Tapi sebuah pilihan harus memilih. Bisakah kuraih segalanya tanpa berkorban apapun. Mustahil dapat kuraih semua impianku jika aku tak berjuang dan berkorban. Makanya sekarang aku tak menemukan lagi cinta yang lebih besar lagi. Aku tak berkorban lagi untuk mendapatkan cinta yang lebih besar itu. Kupikir jika aku punya uang lebih baik kubelikan buku untuk bisa meluaskan pandanganku.

Dan apakah perempuan pun terkesima dengan cara pandanganku yang penuh kearifan dan ketawadhuan. Sudah bijakkah aku ini dalam menyikapi segala hal. Ditinggal pergi orang yang kucintai, cengengnya minta ampun. Aku masih seperti anak kecil dan itu sangat kurasakan sendiri. Sesejatinya laki-laki jika urusan perempuan, dia tak bisa berpikir logic. Bahkan dia seperti orang tolol yang penuh kegilaan. Tapi justru karena itu ia menginginkan kenormalan.

Tapi seenaknya orang ngomong ini dan itu. Tapi bagi yang menjalaninya sangat berat. Siapapun bisa bijak dan adil jika dalam pikiran, tapi melakukannya sungguh sangat berat. Terasa berat menerima kenyataan yang terjadi. Orang ngomong dengan begitu gampangnya harus begini dan begitu, melakukan ini dan itu. Tapi coba saja ia sendiri mengalami yang belum tentu ia mampu bertahan menerima efeknya. Kubiarkan saja orang berbicara macam-macam sampai membudah. Tak perlu dipedulikan dan aku tak boleh tersinggung atau sakit hati. Bukan aku menyerah tapi kujalani saja apa yang terjadi.

Aku hanya insan pendosa. Aku bukan malaikat. Kubiarkan saja orang-orang mengatakan aku bodoh, tolol, dan cengeng. Tidak apa-apa kalau mereka mengatakan aku ini miskin, rapuh, dan gila hanya karena masalah sepele. Silakan orang ngomong apapun tentangku aku tak peduli dan tak perlu sakit hati. Tidak merasa iri dengan apa yang telah dicapai dan dimiliki orang. Tidak merasa unggul dibandingkan orang. Aku hanya menjalani hidup ini. Tak perlu sakit ketika teman-teman mengatakan dengan kata-kata yang bisa menyakitkan. Aku tak mudah tersinggung dan kuhadapi saja dengan senyuman. Bila saat ini tak memiliki, tapi suatu saat nanti mungkin akan memiliki. Apa yang kumiliki saat ini, esok lusa akan lepas dariku, akan hilang dari kepemilikanku. Aku cuma sekedar dititipinya.

Tak perlu berkecil hati dengan ketidakpunyaan dan tak perlu sombong dengan apa yang telah kupunya. Semua adalah titipan yang harus dijaga dan bermanfaat. Tak perlu dongkol ketika semua hilang dan pergi begitu saja. Silakan pergilah semuanya. Biarkan kutermenung sendiri di kamar sepi tanpa ada yang peduli. Karena hidup manusia akan selalu berubah. Meskipun diam, ia akan dipaksa untuk ikut berubah dan berputar mengikuti irama tarian bumi. Aku jangan sok pintar dan merasa serba tahu. Aku harus bisa menghargai pendapat orang dan merasa serba tahu. Aku harus bisa menghargai pendapat orang. Bagaimanapun argumen orang aku jangan gampang terpancing dengan omongan orang.

Berkomentarlah jika diperlukan atau diminta. Jika tidak diminta tak usahlah berkelakar panjang lebar. Hidup telah mengajarkan janganlah banyak bicara, lebih baik diam. Meski terkadang sangat sulit untuk tidak menimpali atau tak memberi tanggapan pada omongan orang. Aku harus bisa menghargai pendapat orang. Biarkan orang berbicara, berkelakar sampai tuntas. Tapi untukku jika dipersilakan, maka berkata-katalah! Aku tidak sakit hati, tapi aku sehat dan bahagia menerima semuanya.

Sekarang aku sudah berada di Bandung lagi. Tinggal di Garut membuatku malas untuk mandi. Saking dinginnya sekedar mencuci muka pun serasa enggan. Padahal seorang muslim harus senantiasa dalam keadaan bersih. Di Garut kalau ingin makan tinggal mengambil. Memang enak tapi melenakan. Sampai kapan meminta-minta terus. Sampai kapan aku bisa mandiri. Sampai kapan aku bergantung pada orang-orang. Tidak mandiri dalam penghasilan buat membayar SPP saja sekarang kelabakan.

Memang aku tidak akan mendapatkan jika tidak meminta. Tapi jangan meminta dan menyusahkan orang-orang. Tapi memintalah langsung pada Tuhan. Makanya aku meminta untuk saat ini. Tapi akupun harus melihat situasi dan kondisi kakakku yang juga sedang pailit. Dia cuma memberiku uang Rp.50.000,- ia bilang ibu sudah mengirim Rp.200.000,- jadi buat SPP sudah cukup. Semoga permohonan keringanan 50 persen dikabulkan. Alhamdulillah ada jalan untukku bisa membeli lagi buku.

Aku lebih baik sedikit makan daripada gak membeli buku. Kenapa pikiranku selalu terpautkan pada buku. Tak ingin kehilangan buku. Apakah aku beli membuku hanya untuk gengsi sebagai gaya hidup sok intelektualis atau apa. Niatku untuk memperkaya wawasan dan tidak lagi dikatakan bodoh. Adalah murni demi mereguk sebidang ilmu. Untuk memperoleh ilmu memang bisa juga dari media lain. Tapi inginnya aku dari buku. Keinginanku ingin dari buku, tidak dari yang lain. Sebab aku termasuk pelajar visual. Aku ingin melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku tak ingin di bawah tekanan dan penindasan. Aku ingin hidup bebas. Aku ingin menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Dan untuk mencapai ke arah itu ada sesuatu yang harus kukorbankan. Bohong sebuah cita-cita tanpa pengorbanan. Hanya ongkang-ongkang kaki dan berpangku tangan. Aku akan terus berjuang tanpa mengenal lelah pada rintangan. Seperti hari ini telah kulewatkan kebosanan. Setelah sekian lama bersabar membaca halaman demi halaman novel “Petualangan Mencari Tuhan” akhirnya tamat juga. Memang alur ceritanya garing dan tak begitu seru. Tapi karena sudah terlanjur aku sudah memulai membacanya, maka pantang untuk menghentikan bacaan bila sampai tidak tamat. Setelah selesai sangat bermanfaat, yaitu kuperoleh pembuktian adanya Tuhan dan alam semesta yang tidak diciptakan secara kebetulan. Terlalu banyak hal yang begitu kompleks dan rumit untuk mengangkat bahwa semua diciptakan secara kebetulan.

Allah Maha Pencipta dan Maha Pemelihara. Allah akan selalu memberikan pertolongan. Terbukti olehku adanya Tuhan. Aku masih bisa membayar SPP dan membeli buku di pameran. Karena kuyakini yang kulakukan adalah kebaikan. Kuyakini adalah kebaikan buatku dan semuanya. Sesuatu yang tidak aku harapkan malah datang. Sesuatu yang aku harapkan malah tak kunjung datang. Terkadang aku harus ikhlas rela melepas kepergian segala hal yang teramat sangat aku cintai. Hidup selalu penuh dengan ketidakpastian dan sering bertepuk sebelah tangan.

Dengan hidup yang tidak pasti, manusia harus semakin kreatif,  dituntut untuk selalu bisa mengatasi segala problema hidup dengan free will-nya. Manusia oh manusia makhluk tingkat tertinggi yang selalu berpikir yang penuh dengan banyak persoalan. Menjadi seorang yang arif, berlapang dada menerima segala kenyataan yang ada. Mampu menyikapinya dengan tenang dan berani mengakui kesalahan, meminta maaf dan belajar dari kesalahan. Makhluk yang berani bertanggung jawab.

Aku seorang lelaki harus kuat dan tahan banting. Mampu menjadi pemimpin, sopir bagi diriku sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Ketika aku selalu berusaha untuk membuat yang terbaik bagi keluarga secara otomatis sedang memperbaiki masyarakat dan negara. Kuncinya aku harus selalu berusaha untuk memperbaiki diri, menggali potensi, dan mendidik jwa. Aku ingin menjadi seorang yang baik, ayah yang baik, dan anggota masyarakat yang setia. Keadaanku seperti ini, yang terkadang susah untuk bersikap tegas, mengambil sikap dalam menghadapi sesuatu. Plin-plan bagaimana bisa menjadi seorang pemimpin yang arif bijaksana. Tapi aku percaya aku bisa menjadi seseorang yang dibanggakan.

Memang saat ini rasa percaya akan masa depan terasa memudar. Sering muncul pertanyaan akankah aku akan menjadi seorang yang sukses. Ketakutan menjadi orang gagal karena punya satu alasan, yakni hubungan keharmonisan dalam keluarga. Aku dengan ayahku ada yang tidak harmonis. Sudah lima tahun aku tidak menemuinya. Aku tidak ingin menemuinya. Jika kupikir secara logika, kenapa aku selalu tak sempat menemuinya. Durhakakah aku ini. Memang dia telah menyia-nyiakan masa depanku. Aku merasa beliau telah tidak peduli padaku. Namun kuyakini inilah takdirku. Aku tidak marah pada siapa-siapa. Aku tidak marah pada ayahku. Aku tidak menyalahkan ayahku. Tapi kenapa aku tidak ingin menemuinya tapi itu pertanyaan yang tak dapat kujawab.

Karena jika punya uang buat ongkos ke sana lebih baik uangnya kupakai buat membeli buku untuk pencerahan pikiran, untuk menjadi tuntunan hidupku. Dalam hidupku aku merasa ayahku tidak memberikan itu. Aku mendapat paduan hanya dari buku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori