Oleh: Kyan | 05/02/2007

Sudah Murah Masih Minta Keringanan

Senin, 05 Februari 2007

Sudah Murah Masih Minta Keringanan

**

Ingatanku masih pada ayahku. Karena ketika ada kesulitan uang, seharusnya seorang ayah dapat memberikan solusi. Tapi hubungan dengan ayahku yang tidak harmonis membuat masalah harus kuselesaikan sendiri. Tapi semua janganlah menjadi ganjalan bagi pendakian masa depanku. Kuyakini aku tidak salah. Aku akan selalu mengabdi pada ibuku dan ayahku dengan caraku sendiri. Aku ingin konsentrasi pada pencapaian masa depanku yang ingin kucapai dengan gemilang.

Aku sedang mengumpulkan serpihan-serpihan yang tersisa untuk kubangun masa depan yang memiliki tujuan. Bukankah hidup tanpa tujuan akan terombang-ambing. Tapi hidup yang punya tujuan, ia akan mengerahkan pikiran untuk sampai di sana. Mewujudkan mindset, pola pikir untuk mencapai tujuan, meski tujuan itu serasa mustahil. Tapi dengan keyakinan bahwa kita bisa sampai disana, maka sampailah disana. Per-cayaha-lah.

Hari ini hujan sangat lebat. Hari ini aku masih belum bisa registrasi. Bakal bisakah aku membayar dan bagaimanapun caranya. Hari ini pula pikiranku gak pasti. Aku, Aril dan Sani cuma muter-muter kampus. Masalah yang harus selesai sekarang hanya bisa diselesaikan besok. Harus memaksa pada siapa, jalur birokrasi yang tak beraturan dan lambat. Otorisasi dan pendelegasian sangat penting, tapi jangan sampai menghilangkan substansi. Bukankah itu semua demi sebuah kedisiplinan.

Meminta diskon 50 persen pembayaran SPP, suratnya belum keluar. Pokoknya suratnya harus keluar. Soalnya uangnyua telah aku pakai buat membeli buku. Sudah kubeli buku Emak-Daoed Yoesoef dan cara menulis ala sastrawan dunia, Writing and Being-nya Nadine Goldimer, Gitanyali-Rabindrat Tagore dan Belenggu-Armijn Pane. Uang Rp.150.000,- sudah habis buat membeli buku. Sisanya Rp.150.000,- buat bayar SPP. Sudah murah masih meminta keringanan, itulah aku. Untuk urusan ini aku belum mampu bersikap Ihsan, yakni memberi lebih banyak dari yang seharusnya dan menerima sedikit dari yang seharusnya.

Lebih mementingkan kepentingan orang lain dan sampai mengorbankan kepentingan diri sendiri. Masih belum terlihat kemanapun aku memandang, selalu kepentingan orang lainlah yang terlihat. Mampukah aku melihat dengan cara berpikir begitu. Aku percaya aku bisa mengerahkan acuan pikiranku menuju arah itu. Aku harus sadar bahwa hidup manusia dalam sebuah kelompok. Supaya dapat berjalan harus ada aturan tata tertib dan niai-nilai yang disepakati bersama serta dijunjung tinggi oleh semua anggota kelompoknya. Aturan bukan untuk mempersempit ruang gerak dan pikiran, tapi untuk kebaikan bersama. Mengharuskan setiap anggota masyarakat mematuhi aturan yang telah dibuat bukan atas nama paksaan. Tapi sebagai rasa bertanggung jawab dirinya di hadapan luar dirinya.

Sebuah cita-cita memerlukan strategi dalam mencapainya. Bukan semata-mata aku meminta keringanan SPP, tapi memang aku lagi butuh uang. Dan dengan itu aku jadi tahu birokrasi dan berhubungan dengannya. Aku bisa belajar bagaimana menghadapi orang-orang. Terkadang aku tak ingin memaksa-maksa jika secara sadar aku belum memenuhi semua aturannya. Ingin segera kubilang, “Ya sudah kubilang kalau emang tak bisa”. Apakah ini sebuah tanda keputusasaan? Tak ingin terus memperjuangkan, tapi di sisi lain aku sering dibilang keras kepala dan egois.

Apakah aku telah salah menempatkan kapan harus egois. Kapan harus menerima apa yang ada. Egois sebagai bukti identitas diri. Jangan sampai keegoisan diri memangkas hak-hak orang lain. Tak ada hak-hak orang lain yang dirampas dan jangan sampai adu fisik, berembuk. Diusahakan melalui jalur yang sopan dan aksi fisik sebagai langkah terakhir. Cara-cara primitif yang lebih mengandalkan otot daripada otak harus ditinggalkan. Begitupun dengan berbagai demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Apakah hanya sekedar tren melakukan demontrasi yang diakhiri dengan kekerasan. Tapi tetap ada yang harus diperjuangkan. Harus punya tujuan dan jangan sekedar main-main. Hari ini ada yang demo tentang kritisasi membayar SPP dan Praktikum yang amat besar menurutku. Angkatan dibawahku membayar SPP Rp 900.000,- sedangkan angkatanku cuma Rp 300.000,- Ketika semester pertama saja di jurusanku mesti membayar sejuta lebih. Tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan biaya masuk TK.

Untuk mahasiswa baru katanya selama lima semester harus bayar Rp.900.000,- Kupikir memang mahal dan terlalu berlipat tigaratus persen. Tapi sisi lain kusadari bahwa akademik sedang membutuhkan uang semenjak IAIN berubah jadi UIN. Tentu mesti ada banyak yang harus diperbaiki, mulai dari bangunannya yang perlu ditambah, fasilitasnya dilengkapi, dan dosen-dosennya dicerdaskan. Tapi jika keadaannya tetap tidak berubah, fasilitas yang didapat mahasiswa baru masih begitu-begitu saja, masih sama dengan mahasiswa lama sama saja bohong. Lantas uang mereka dikemanakan. Mungkin belum terkumpul. Seharusnya kampus harus bisa menjelaskan secara transparan kenapa harus membayar segitu. Menimbang, mengingat, dan memutuskannya. Arus komunikasi antara kampus dan mahasiswa harus lancar.

Mungkin pula sengaja kampus membiarkan tidak membeberkannya. Sebagai upaya membangun kritisasi mahasiswa. Apakah mahasiswa akan diam saja dan cuek-cuek saja. Ingin kubuat artikel supaya bisa dimuat di Majalah Suaka. Tapi sebelumnya mesti ada investigasi dan mengumpulkan data dan informasi. Aku tidak bisa seenaknya, berprasangka buruk atau membuat asumsi-asumsi.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori