Oleh: Kyan | 07/02/2007

Pergi ke Mizan, Bank Jabar, dan Pameran Buku

Rabu, 07 Februari 2007

Pergi ke Mizan, Bank Jabar, dan Pameran Buku

**

Untuk menyenangkan pikiranku akan kuceritakan yang manis-manis saja dahulu. Hari ini dan kemarin aku bertemu perempuan-perempuan yang parasnya sungguh cantik sekali. Meskipun secara fisik, dasarnya semua perempuan pasti cantik. Sewaktu di Bank Jabar, yang menerimaku adalah perempuan berparas cantik. Di jalan kutemukan gadis cantik, di pameran bertebaran para perempaun cantik. Di mana-mana kutemukan perempuan cantik, yang mungkin melebihi kecantikan orang yang selama ini pernah kucintai. Pernah kucintai berarti sekarang tak cinta lagi. Buat apa toh sudah jadi milik orang lain. Lelaki manapun tak mau perempuannya direbut orang lain. Harus kubuka mata lebar-lebar dan kupandangi sekeliling sampai ujung penglihatanku bahwa selalu ada perempuan secantik yang kucari-cari selama ini.

Hari ini masih bisa bertemu teman-teman kuliah. Aku ke kampus meminta tanda tangan Dekan buat Surat Pengantar Penelitian ke Bank Permat Syariah. Agendaku jelas hari ini. Aku mau ke Bank Permata semoga uang buat ongkosnya mencukupi dan ternyata mencukupi. Sampai di Permata Buah Batu sudah masuk waktu Duhur. Kecewa karena data keuangan tak bisa dipublikasikan. Mereka merekomendasikan ke HRD Bank Permata di Astana Anyar. Dari Tegallega kususuri jalan Astana Anyar. Kupikir sangat jauh karena jalan yang mula kususuri adalah akhir bukan awal jalan Astana Anyar. Ditandai nomor ruko yang berjejer dua ratusan. Sedangkan Bank Permata No.22

Ternyata sebelumnya aku pernah ke sana, ini mungin tujuh tahun lalu. Kutemukan juga gedungnya. Setelah kurasakan amat lelah. Aku bertemu pak Purnowo selaku pimpinan HRD. Beliau baik sekali dan menyarankan menemui pak Rahmat, Branch Manager Bank Permata Syariah cabang Bandung. Dari sana kususuri lagi jalan Astana Anyar sampai ke ujungnya, lalu belok ke kanan menuju Stasiun Bandung. Kurasa lelah dan ragu untuk kuteruskan lagi. Tapi akhirnya sampai juga di BIP. Aku masuk kantor Bank Permata Merdeka. Memang Office Channeling di Bank Permata sudah berjalan. Pantas direkomendasikan untuk dapat dijadikan tempat penelitian.

Semoga aku diberi kemudahan meski kuyakini bakal ada banyak kesulitan yang menimpaku. Aku tak boleh patah semangat untuk menghadapinya. Penderitaan dan kesusahan itu biasa kualami, masa menghadapi orang perbankan aku tak bisa menaklukannya. Aku bisa menghadapi dan menaklukannya. Aku tak akan menyerah sampai kudapatkan apa yang kuinginkan, kubutuhkan, dan kucita-citakan. “Mimpi-mimpi itu akan jadi kenyataan”. Begitulah nasihat Emak dalam buku Emak karya Daoed Yoeseof.

Alhamdulillah, agenda harianku berjalan sebagaimana mestinya. Jika aku kerja nanti bisa gak masuk jam sembilan pagi. Aku selalu gak bisa berangkat pagi. Kerjaan pagi setelah bangun pagi adalah salat Subuh, mengaji Alquran, menulis, masak, dan mempersiapkan hal-hal yang mesti dilakukan hari ini. Itu memerlukan waktu sampai jam delapan. Mungkin bangunnya harus lebih awal. Sudah lama aku gak bisa salat malam. Salat Subuh saja selalu kesiangan. Bisa gak aku salat subuh tepat pada waktunya. Aku selalu terhambat jika ingin tidur jam 7-9 malam. Kebiasaan sebelum tidur membaca buku tafsir dan menulis sebentar tidak ingin aku tinggalkan. Tapi kalau tidur kurang serasa gak bisa konsentrasi. Benarkah tidur harus sebanyak 7-8 jam. Kata pakar kedokteran begitu. Bisa gak aku biasakan lagi bangun sebelum subuh. Begitu beratnya untuk memulainya dan semoga aku bisa.

Perjalanan pertama ke Mizan menukarkan buku yang cacat. Aku melihat-lihat sampel buku yang telah diterbitkan yang tersusun dengan rapi di rak buku. Aku ingin memiliki rak buku yang permanen. Koleksi bukuku sudah cukup banyak. Diam sejenak di sana dan baca koran. Kuperoleh info bahwa BI Rate sudah 9,25 persen. Setelah jam 11 aku berangkat ke Bank Jabar. Di sana ketemu Uswah dan Siti Mufrodah. Mereka sedang magang di sana sudah tiga hari. Mereka dan orang-orang sana mematahkan semangatku. Pelaksanaan Office Channeling di Bank Jabar baru berjalan November 2006. Datanya belum lengkap.

Aku tetap ingin di Bank Jabar soalnya tempatnya di Bandung. Tapi mereka merekomendasikan ke Bank Permata Syariah. Karena di sana teknologinya sudah mapan. Harus kucoba ke sana. Aku tak boleh patah semangat. Harus selalu kuusahakan. Nanti juga bakal ada solusi. Bakal ada jalan. Aku mau ke sana dan harus ke sana. Aku tak ingin pokok masalah tugas akhirku tak kuubah. Aku tetap ingin OC untuk aku belajar konsisten. Kalau konsisten akan kudapatkan hal baik. Dalam pencapaian sesuatu harus konsisten bila ingin meraihnya.

Pulang dari Bank Jabar, ternyata angkot Gede Bage-st.Hall lewat Braga. Aku turun di depan gedung Convention Hall, tempat pameran buku. Aku ke sana lagi setelah dua kali dalam satu pameran ini. Sebelumnya sudah janji dengan Anggita, temen SMA bahwa dia mau kesana. Ternyata gak ketemu dengannya. Mau menghubungi dia, tak punya pulsa. Aku cuma ketemu Johan dan yang pernah pinjam bukuku. Benar aku sebagai angkatan pertama jurusan MKS harus bisa menjadi kebanggaan. Kelinci percobaan itu berhasil menetas dengan baik.

Di tempat pameran sedang berlangsung dialog interaktif “Menuju Muakhat Gerakan Islam.” Yang menjadi panelis kebanyakan gerakan Islam kanan seperti Pemuda Persis, HTI, GPI, dan PKS. Sedangkan golongan “Islam Kiri”-nya gak diikutsertakan. Mana bisa mendapatkan keseimbangan dan timbangan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori