Oleh: Kyan | 09/02/2007

Hari Pernikahan Ria Juariyah

Jum’at, 09 Februari 2007

Hari Pernikahan Ria Juariyah

**

Pagi-pagi masih nyantai, akhirnya gak bisa Jumatan di Cimahi. Sempatnya di Masjid Raya Bandung. Kudapatkan dari Khutbah Jumat bahwa jika sudah merajalela perzinahan, tunggulah kehancuran dunia. Dikatakan jika tidak ikut melarang merebaknya perzinahan, ia akan terperosok ikut menanggung derita bencananya. Orang-orang sudah dengan bangganya mengatakan dan memperlihatkan aksi perzinahannya.

Apakah aku akan ikut terperosok, tergoda bahkan ikut mencicipi buah terlarang itu. Naudzubillah. Semoga Tuhan menjauhkan daku dari itu. Selalu terbesit di pikiran, sebagai tanda kegagahan ia bisa menaklukan beberapa perempuan. Dari kacamata apapun itu hal terlarang. Janganlah merasa ingin mencoba pula. Beruntunglah keadaan masih suci. Hapuslah pengalaman kotor dan pahit yang selalu membayangi diri. Hapuslah dengan kebaikan.

Tapi kenyataan pahit harus kutelan. Materi telah merenggut kecerianku. Aku terpaksa pulang saja dari Cimahi. Soalnya ketika mau turun lagi dari Damri, ongkos buat pulang tak bakalan cukup. Dengan uang hasil pinjam Rp 8.000,- tak cukup buat ongkos ke Cimahi. Mana di Cimahi tak ketemu siapa-siapa. Aku telat sampai disana yang seharusnya jam 13.30 aku malah sampai jam 14.00. Menelpon Yuni dan Fitrian tak ada. Dimanakah mereka, apakah sudah ada di pernikahan Ria Juariyah. Ingin aku menghadiri pernikahan temen-temenku, namun semua itu perlu materi.

Aku tak bisa menghadiri memenuhi undangan jika tak punya duit buat ongkos dan kado. Gara-gara tak punya materi, keceriaan terenggut. Kenapa juga saat-saat ini aku ditakdirkan tak punya uang sama sekali. Tapi selau ada jalan agar bisa makan. Aku tak pernah benar-benar kelaparan. Asal ada usaha optimal dan gantungkan harapan hanya pada Allah. Terkadang manusia tak bisa sabar jika harus menunggu. Namanya menunggu bagi siapapun selalu menyebalkan dan mengesalkan. Perempuan tak ingin menunggu lama seorang lelakinya sampai bisa mapan. Aku tak ingin perempuan yang hanya ingin enaknya saja.

Sanggupkah dia kubawa pada penderitaan. Harus kusadari dunia berputar yang kadang di bawah suatu ketika dan di atas di ketika yang lain. Semua orang siapa yang ingin penderitaan, tapi mau tidak mau harus bisa mengatasi jika ditimpa kemalangan, kekecewaan, penderitaan yang mungkin datang bertubi-tubi. Hanya aku bisa menumpahkan kekesalanku hari ini dengan membaca buku Gitanjali dan Belenggu. Angan-angan akan menjadi cita-cita dan cita-cita akan jadi kenyataan. Begitu wejangannya.

Ketika aku sedang makan, datanglah temen-temenku. Susi, Sifa dan Rini. Menyusul pacarnya Susi dan tak lama kemudian Aril. Mereka semua meminjam semesta padaku. Aku bahagia bisa memberikan dan meminjamkan sesuatu pada temenku. Dengan begitu ada sesuatu yang kuberikan. Kapan lagi aku bisa berbuat baik pada mereka. Ingin lebih banyak lagi aku berbuat kebaikan. meski di saat lain terkadang kesal harus merelakan sesuatu yang diberikan. Padahal itu begitu dibutuhkan olehku. Itulah godaannya berbuat baik yang aku sering marah itu. Mereka tak tahu terima kasih. Maksudku ketika meminjam sesuatu tak mengembalikan pada waktunya dan tak merawatnya. Barang-barangku kebanyakan dirusaknya oleh orang lain. Memang orang-orang punya karakter berbeda-beda. Ada yang rapi dan jorok, ada yang kumel kucel.

Aku mulai lagi mengerjakan TA-ku. Masa tidak selesai dalam sebulan. Aku mesti ke warnet untuk browsing website Bank Permata Syariah. Aku tak punya flasdisk, barang yang sekarang krusial untuk kumiliki. Tapi aku mensyukuri apa yang telah kupunya. Kenapa uangku tak ngumpul-ngumpul, karena tidak menabung. Sedikit uang di dompet, getek ingin membeli buku. Aku begitu kecanduan pada buku. Sudah menjadi gaya hidupku adalah belanja buku. Sekarang demi penghematan aku harus bisa mengubah gaya hidupku. Sebelum membeli sesuatu harus bertanya dulu apa bisa ditangguhkan atau cukup pinjam saja. Apakah memang dibutuhkan atau sekedar keinginan. Selalu punya alasan atas suatu hal.

Kalau tidak bisa memenuhi apa yang memang dibutuhkan, berarti aku miskin. Tak sadarkah aku ini anak miskin. Makanya tak boleh marah dikatakan miskin oleh teman-teman. Begitulah kenyataan yang harus disadari. Terima kenyataan dan berusahalah untuk berubah. Harus menjadi semakin baik.

Aku pun menulis untuk merenungkan atas apa yang telah kulakukan dan memperbaikinya. Harus yakin dan tidak lalai bahwa mimpi-mimpi itu akan jadi kenyataan. Jangan pernah merasa lemah dan yakinlah dengan pilihan sendiri. Aku harus punya prinsip dan tak gampang terbawa arus. Jika arus itu baik tak apa dikuti tapi jangan asal menyerah meski itu dikatakan ketakmungkinan. Hiduplah dan buatlah hidup bermakna. Hidup harus kreatif, hiduplah dalam pengalaman, buatlah pekerjaan yang meenjadi bermakna dalam perspektif orang besar. Hiduplah tentram nan damai sejahtera.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori