Oleh: Kyan | 12/02/2007

Anda Adalah Apa Yang Anda Makan

Senin, 12 Februari 2007

Anda Adalah Apa Yang Anda Makan

**

Terbenak di pikiran temen-temen, bahwa aku seorang yang doyan makan. Makan apa saja seperti yang kelaparan. Makanku selalu kurang. Apalagi makanan bergizi. Mana bisa cerdas kalau makan apa-adanya. Tapi aku tetap cerdas. Hanya salah satu faktor kecerdasan seseorang ditentukan oleh gizi makanan. Kalau tak cukup makan mana bisa kuat berjalan kaki. Selama ini aku sering keluar dan jalan-jalan menyusuri trotoar dan lorong-lorong jalan. Ya, berjalan kaki. Tapi aku jarang olah berolahraga.

Mau lari pagi ke Manglayang, tapi aku belum punya sepatu sport. Nanti kalau aku punya uang aku mau renang. Badanku harus senantiasa fit, karena kalau sakit aku tak bakalan bisa melakukan apa-apa selain akan menyusahkan orang-orang. Otakku tak bisa berpikir karena terganggu kesehatan. Maka nikmat kesehatan yang penting disyukuri, setelah nikmat Iman dan Islam. Hari ini pula aku harus mengerjakan Tugas Akhir dan BMT. Nilai BMT-ku belum keluar. Aku harus memperjuangkannya. Aku sudah cape-cape beberapa kali mengunjungi BMT Barah dan Daarut Tauhiid. Aku tidak berbohong dalam melakukan kunjungan penelitian.

Temen-temenku kebanyakan mencari di internet buat tugas penelitian. Kalau yang tidak begitu serius mengerjakannya bisa dapat A, kenapa tidak kuperoleh nilai A. Aku harus mendapatkan nilai A buat tugas BMT-ku. Karena aku rajin mengikuti kuliahnya. Apa yang kurang yang kulakukan. IP-ku tak ingin turun. Semoga nilai semester lima pun masih bisa dipertahankan, bahkan harus lebih baik dari kemarin. Penting tidak penting sebuah nilai, kalau tidak keluar sekarang, bakal merepotkan nantinya.

Ingin aku konsentrasi di semester enam ini menyempurnakan Tugas Akhir-ku. Aku sudah punya bahan dari warnet. Sering sampai jam duabelas malam lebih aku mengerjakan tugas akhir. Sampai begadang di warnet dimulai dari jam sembilan malam. Semuanya aku lakukan demi menampilkan diri yang terbaik. Sekarang makalah BMT-ku harus segera aku kerjakan dan tak boleh ditunda-tunda.

Seharusnya yang lebih didahulukan adalah mengerjakan BMT. Ini malah mengutak-atik Tugas Akhir. Kebiasaanku selalu begitu. Melalaikan yang utama, dan mengedepankan yang tidak mesti dikerjakan sekarang. Jadi akhirnya ketika deadline kelabakan penuh ketegangan supaya segera selesai. Aku harus belajar mengutamakan yang prioritas. Mengerjakan yang prioritas utama, menajemen diri sangat penting. Mengurus diri tak becus, apalagi mengurusi keluarga dan perusahaan. Turutilah kata nurani.

Seharian ini aku malah main di tempat Aril, sekre Al-Faci. Lalu mampir ke kosan an-Nuur, kosan Ida. Sudah itu kubeli makan nasi goring di pinggiran jalan desa Cipadung. Terus terngiang-ngiang di kepala bagaimana aku menghadapi pak Ija, namun makalahnya belum selesai. Dian datang mau pinjam buku dan mengajak pelatihan koperasi. Aku tak punya uang untuk pendaftarannya. Kalau aku ikutan pelatihan dan sering mengikuti pelatihan bakal meluaskan jaringan bisnis. Kalau punya uang aku sempatnyua buat membeli buku tapi jarang daftar pelatihan. Aku begitu tergila-gila dengan buku. Aku hanya ingin memuaskan keingintahuanku.

Dian malah mengajak ngobrol lagi, ketika aku sudah terdesak harus menyelesaikan makalah. Tapi akhirnya selesai juga makalahnya, padahal uangku cuma Rp 2.000,- Kutekadkan diri menghutang. Ternyata tukang fotokopi baik sekali, jika aku kekurangan, boleh nanti bayarnya. Kalau tak punya uang, mestinya memutar otak bagaimana caranya aku bisa punya penghasilan. Dan aku selalu berpikir selalu mengaitkannya dengan seringnya kosanku didatangi teman-teman. Kehilangan selalu jadi pikiranku, padahal namanya barang bisa dicari lagi. Sedangkan jika kehilangan teman atau ditinggalkan teman, kemana harus mencari lagi seseorang itu. Kita berteman untuk saling membutuhkan.

Tapi aku juga ingin ruang privasi. Kenapa aku selalu tegang. Kapan aku bisa tenang. Kenapa selalu gurung gusuh, sering marah-marah tak karuan. Aku begini-begini saja tak mengalami kemajuan. Kesulitan ekonomi membuat ketegangan-ketegangan baru. Begini nasib jadi orang miskin, mengalami terus penderitaan demi penderitaan. Apa yang bisa kuungulkan dari diriku agar aku bisa punya uang. Inginnya aku marah-marah. Banyak tugas yang belum kukerjakan. Menulis dan menulis, belum menghasilkan apa-apa. Menulis untuk bisa menghasilkan uang, sampai kapan aku cakap menulis. Aku harus jadi penulis.

Aku mau menulis dimana karyaku dibaca orang dan menjadi inspirasi orang-orang. Orang lain bisa menulis, kenapa aku belum bisa. Bagaimana perjuangan mereka sampai bisa menulis dengan baik dan benar? []

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori