Oleh: Kyan | 14/02/2007

Sapalah Siapapun Yang Kau Temui

Rabu, 14 Februari 2007

Sapalah Siapapun Yang Kau Temui

**

Mau ke alun-alun Bandung tak jadi. Kalau tak yakin lebih baik jangan. Kalau ragu-ragu lebih baik tinggalkan. Aku cuma ke kampus mau meminta tanda tangan Dekan buat surat pengantar penelitian di Bank Permata. Pokoknya aku harus segera menyelesaikan kuliahku. Aku harus segera mencari penghasilan. Aku tak boleh mengandalkan ibuku lagi untuk bekal hidup. Kapan aku bisa mandiri kalau masih enak-enakkan di zona aman. Akan kubeli semua buku yang berkaitan dengan kepenulisan. Aku tak akan menyerah sampai aku bisa menulis dengan hebat.

Aku memiliki potensi untuk bisa menjadi penulis. Tapi hari-hariku selalu ingin lebih banyak membaca dan membaca dibandingkan menulis. Aku merasa berdosa jika buku yang kubeli tidak kubaca sampai tamat. Tapi kalau sudah tamat, apa yang telah kudapatkan dari membaca.  Aku telah membaca Belenggu-Armijn Pane, Gitanjali-Tagore dan Samita-Tasaro. Tapi belenggu pikiran, angan-angan akan menjadi cita-cita dan cita-cita akankah jadi kenyataan. Dalam Gitanjali kudapatkan bahasa-bahasa metaforis pengharapan manusia berakal di hadapan Tuhan.

Dan Samita artinya Bintang, bahasa Tiongkoknya Hui Sing. Drama cinta dengan mengambil setting Majapahit. Pelayaran laksamana Cheng-Ho ke Samudera Pasifik. Katanya perempuan bisa mengubur cintanya sampai usianya sampai 40 tahun. Tapi tak bisa memendam rasa bencinya. Dalam novel yang ditulis Tasaro ini banyak mengangkat kearifan Jawa. Banyak kearifan lokal yang belum aku kenal dan fahami. Untuk kearifan Sunda dan bagaimana sejarah kerajaan Pajajaran akupun tidak tahu. Aku sebagai orang Sunda tak mengenal sejarah ibunya sendiri. Sebelum berkelana ke negeri asing, aku harus tahu dulu sejarahku sendiri. Sejarah bangsaku sendiri. Setiap bangsa punya kearifan lokalnya sendiri sebagai pegangan hidup.

Aku ingin membaca novel Negara Kelima. Lagi-lagi semua harus memakai uang. Secara tak sadar kita telah menjadikan uang sebagai Tuhan. Ya Allah, berilah aku ketenangan hidup apa adanya. Apakah aku terlalu banyak ambisi dan cita-cita. Salahkah jikalau aku punya cita-cita. Aku harus tenang dalam menghadapi apapun, siapapun. Toh kita semua makhluk yang kedudukannya sama di hadapan Tuhan.

Hari ini orang-orang pada merayakan Valentine Day. Hari kasih sayang. Bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Bagi umat Islam setiap detiklah harus menebarkan kasih sayang, selama hayat dikandung badan. Manusia harus bisa menebar dan menabur kasih sayang dimanapun, kapanpun, sampai kapanpun. Janganlah berbuat yang memicu pertumpahan darah. Semua sepakat bahwa nyawa manusia sungguh berharga, tapi selalu saja pembunuhan dan pembantaian terjadi dimana-mana. Kapankah dunia penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Dimana manusia satu dengan yang lainnya hidup berdampingan.

Benarkah orang kafir harus tunduk di hadapan orang Islam? Tak bisakah setiap agama hidup berdampingan, saling membantu, dan membina kedamaian dalam memakmurkan bumi. Kalau manusia sudah dikuasai oleh nafsu ingin berkuasa tak ingin disuruh-suruh oleh siapapun, ia akan berani menghalalkan segala cara untuk saling berebut kekuasaan. Kalau sudah berkuasa dia akan memperkaya diri. Semua kembali ke materi, untuk kepuasan perutnya.

Yedi datang ke kosan dan kami pun pergi ke kampus. Di sana banyak teman-teman. Orang-orang pada bingung mengerjakan Tugas Akhir. Mereka mengharapkanku untuk bisa membantu. Kalau Tugas Akhir-ku selesai, insyaallah aku bantu mereka. Semuanya. Ingin aku dikenang sebagai orang baik. Aku selalu susah mencari kosakata yang pas untuk mewakili pikiranku. Sering pikiranku tak terwakili dengan kata-kata yang kuucapkan. Akhirnya tergagap-gagap kalau ngomong. Apakah aku karena jarang ngomong.

Masa kecilku aku jarang ngobrol. Aku lebih banyak diam dan lebih nyaman diam membaca buku. Suatu nanti ketika aku jalan-jalan, aku ingin mengajak ngobrol, belajar ngomong dengan siapapun. Semuanya harus dilatih. Aku tak boleh malu untuk menyapa siapapun. Namun aku harus menyadari, bakal terjadi penolakan. Karena orang-orang pun sungkan untuk bicara, apalagi dengan orang asing. Aku sendiri harus menampakkan senyuman menawan, menaburkan kasih sayang. Kalau tak membaca buku, mengobrollah dengan siapapun. Aku belum biasa seperti itu. Aku harus cakap berkomunikasi. Dan jangan langsung ingin kenalan. Semua orang kalau sudah dimulai, pasti akan memberi respon yang baik.

Aku harus berani.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori