Oleh: Kyan | 16/02/2007

Gelombang Badai Ketidakpastian

Jum’at, 16 Februari 2007

Gelombang Badai Ketidakpastian

**

Ibuku sudah menelpon dua kali tapi tak sempat kuangkat. Marahkah ibuku. Ibuku pasti marah dan memang gampang marah. Mau menelepon balik, tapi tak ada uang. Apa ibuku sudah mengirim uang. Soalnya aku terpaksa memohon lagi meminta lagi. Sumber permintaanku hanyalah ibu. Tak ada lagi siapa yang kuminta, kasihan ibuku diminta-minta terus oleh anaknya. Tidak seperti orang lain yang mempunyai banyak saudara dan family. Di Bandung ini aku tak punya kerabat. Jangankah kerabat, ayahku sendiri tak bisa kujadikan sebagai sumber permintaan.

Terasa seolah-olah aku sudah tak punya ayah lagi. Aku hanya mempunyai ibu kandung. Ketika ada orang lain yang sukses, wajarlah ia memiliki keluarga lengkap dan sangat mendukung. Sementara ini aku melihat dan menghayati bahwa kebanyakan orang sukses bermula, terlahir dari sebuah keluarga harmonis, meskipun keadaannya miskin. Belum kutemukan orang sukses terlahir dari keluarga broken home dan juga miskin. Dan kalau biasa dari latar belakang sosial yang sama.

Aku hanya menemukan satu orang dari sekian orang sukses yang bermula dari keluarga broken home dan miskin, yakni Kahlil Gibran. Beliau merasa ibunyalah yang telah mengantarkannya pada pintu sukses. Tapi sejak kecil ia sudah mendapat curahan kasih sayang. Sedangkan aku sejak usia 15 bulan, orang tua sudah meninggalkan dan diasuh nenekku. Tak ayal aku selalu mensunyikan diri dengan diam di tempat sepi. Telah menjadi kebiasaanku menyendiri. Maka wajarlah saat ini selalu melakukan hal yang sama.

Dari sudut psikologis mungkin sangat cocok untuk bisa menjadi penulis. Pekerjaan menulis membutuhkan keadaan soliter. Aku tak akan patah semangat untuk terus belajar menulis. Karena setiap orang punya kesuksesannya sendiri-sendiri. Makanya aku selalu membaca dan membaca. Untuk menjadi penulis, harus rajin membaca. Seorang penulis terkenal sangat tahan dalam membaca. Kutekadkan diri agar aku bisa menjadi penulis.  Aku akan mendalami dunia kepenulisan. Perjalanan bacaanku bermula dari baca buku-buku psikologi, Islam akhlak, filsafat, tasawuf, pemikiran lain, dan ke sastra. Sekarang aku ingin lebih banyak lagi baca buku sastra.

Namun kekecewaan lagi datang dalam soal kuliah. Penelitian di Bank Permata sudah telat diterima, ditolak.Sukses dalam ketidakberdayaan. Sukses dari ketidakberdayaan pengajuan data ke Bank Permata ditolak. Karena data yang diminta terlalu mendetil. Apakah karena aku memeprsulit. Pengerjaanku ingin sempurna. Di Bank Jabar ditolak juga. Mestikah beralih ke bank lain. Soalnya Bank Permata adalah bank yang pertama melaksanakan Office Channeling. Semangatku jadi runtuh.

Tapi masih ada tujuh bank lagi yang belum aku ajukan. Masa aku mesti mengganti judul. Mesti mencari bahan-bahan lagi. Aku tak akan menyerah dulu. Biasanya sesuatu hal mulanya mengalami penolakan. Aku tak akan menyerah. Aku masih yakin dengan pembahasan ini. Aku harus tenang, jangan gampang putus asa. Semangatlah.

Bertambah lagi buku yang mesti kubaca. Karena ibuku sudah mengirim uang Rp.300.000,- yang Rp.100.000,- aku belikan sama buku tentang kepenulisan. Aku harus melakukan langkah besar untuk mencapai cita-citaku. Jangan asal langkah kecil. Menurutku aku telah melakukan langkah besar agar aku bisa jadi penulis. Aku akan melakukan yang menurutku memang harus dilakukan. Kebutuhan lain masih banyak tapi aku tak pedulikan dulu.

Hutangku Rp.30.000,- dan bayar listrik Rp.45.000,- serta sisanya bakal Rp.125.000,- cukupkah untuk sebulan. Piutang cuma Rp.15.000,- dan semoga yang pinjam buku pada bayar infaknya. Aku yakin Allah akan tetap memberi rezeki padaku. Yang aku lakukan dalam jalur kebaikan adalah sesuatu yang dibutuhkan. Untuk mencari ilmu, menuntut ilmu dari semesta ilmu Allah.

Aku mau pergi renang, soalnya sudah lama tak berolah raga. Lari pagi tak punya sepatu. Rencana mau membeli komputer masih belum jadi, membeli flasdisk belum jadi juga. Selalu uangnya tak cukup dan hambatan lain. Memang belum takdirnya aku bisa membeli komputer. Tapi harus tetap berusaha seperti sebuah kekayaan tidak bisa dicapai dengan cita-cita semata. Keremajaan tidak akan dapat dirubah dengan disemir semata. Dan kesehatan tidak akan dicapai dengan obat-obatan semata.

Tapi semua atas karunia Allah, atas Rahman Allah. Segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa Izin Allah. Semua sesuai Izin Allah. Di balik semua ada hikmah yang bisa diambil pahit atau manis itu hanyalah persepsi manusia. Aku menyadari semuanya. Aku harus tetap berdiri menghadang segala rintangan yang menghadang, gelombang badai ketidakpastian ini.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori