Oleh: Kyan | 17/02/2007

Membaca Adalah Prioritasku

Sabtu, 17 Februari 2007

Membaca Adalah Prioritasku

**

Jika aku ditanya selama liburan ke mana saja, akan aku jawab “Aku telah menjelajahi ke segala penjuru dunia”. Aku sudah bertemu para sastrawan besar. Aku bertemu dengan Julio Cortazar, Gunter Grass, Cioran, Eugenen Ionesco, Carlos Fucutes, Milan Kundera, dan Ocatio Paz. Juga dengan Nadine Goldimer. Bertemu juga dengan cerpenis sastra wangi. Dewi Lestari, Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Herlintiens, Linda Christianty, Nova Rianti Yusuf, Oka Rusmini, Stefani Hid, dan Stepany Irawan. Aku bertemu pula dengan pakar cerpenis Indonesia: Harris Effend Mochtar, Jakob Sumardjo, Joni Ariadinata. Dan aku diperkenalkan dengan Putu Wijaya, Danarto, Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma. Aku terus diberi motivasi untuk menulis. Menulislah dan menulislah jangan berhenti menulis.

Setelah sekian lama aku mencoba lagi jalan-jalan sendiri ke Manglayang. Pasar dadakan semakin berjibun saja. Meskipun begitu ini menandakan ada kemajuan. Akhirnya, transaksi ekonomi tidak mengenal tempat. Orang-orang berjalan kayak semut. Bergerak perlahan. Kutatap wajah orang-orang tak kukenal. Laki perempuan, tua muda, kecil dan besar berdesak-desakan, lalu lalang. Entah apa yang mereka cari ke Manglayang.

Kupotong jalan. Aku naik ke dataran basah yang tidak dilalui orang. Aku melihat ternyata di sana semakin ramai saja. Di sana sedang dibangun perumahan. Terpincut ingin punya rumah sendiri. Kapan aku punya tempat tinggal sendiri. Bisakah dari menulis aku bisa punya rumah sendiri. Bambang Trim, ia dengan buku ia bisa bersimpuh di hadapan Kabah. Pengarang cerita Lupus, Hilman pernah berkata, dengan menulis aku bisa punya rumah sendiri. Bisa meraih segala-galanya, bisa menjadi kaya. Semua penulis terkenal tak ada yang hidupnya melarat, seperti aku sekarang ini.

Aku tak boleh terpengaruh dengan omongan orang. Omongan Asun katanya mana ada yang kaya dengan gitu, dengan menulis. Rupaya ia tak tahu dunia perbukuan. Omongannya hanya sex melulu. Mana ia tahu perkembangan orang-orang terkenal. Islam mengajarkan bahwa pintu menuju sukses hanya dua, salat dan sabar. Salat sebagai bukti kepasrahan hanya pada Allah. Sabar menghadapi ejekan atau celotehan orang. Sabar ketika ditimpa cobaan.

Sungguh Allah tak akan berhenti untuk memberikan ujian berupa kelaparan kepapaan. Justru itu tanda kasih sayang Allah. Allah menyayangi hamba-Nya dengan memberikan ujian, dengannya ia akan menganugerahkan nikmat tak terhingga. Ingin lebih banyak lagi membaca buku panduan menulis cerpen. Tak kurangkah? Menulis ibarat naik sepeda. Harus berani mencoba. Selaci selemari buku panduan tak akan guna kalau belum mulai berlatih. Tapi menurutku tetap saja beda antara menulis dan naik sepeda. Kata siapa sama, tapi ibarat.

Dari sekian buku panduan, ada titik temu langkah pertama latihan yakni harus banyak membaca. Kalau ingin mahir menulis cerpen harus banyak membaca kumpulan cerpen. Bisa dihitung berapa cerpen yang pernah kubaca. Aku kebanyakan membaca buku kajian. Aku harus lebih banyak baca cerpen karya orang terkenal. Seperti Putu Wijaya, Danarto, Hamsad Rangkuti, Budi Darma, dan Seno Gumira Ajidarma.

Aku harus mengeluarkan duit lagi. Pergi ke perpustakaan sekali jalan Rp 4.000,- Mendingan dipakai buat membeli buku yang sekarang lagi diskon. Apakah aku gak konsisten mau menulis puisi, cerpen, atau novel, atau artikel. Aku sering membaca filsafat sementara latar pendidikanku Ekonomi Syariah. Kalau menulis fiksi, bisa gak berlatarkan Ekonomi Syariah. Maksudnya jadi memperkenalkan Ekonomi Syariah lewat karya sastra.

Ada ide cerpen tentang mobil pesawat untuk menghindari kemacetan. Kupikir benar, aku harus lebih banyak membaca karya orang. Apakah tidak terlalu mentah atau tergesa-gesa ingin segera menulis cerpen atau ingin segera terkenal. Orang lain belajar menulis tiga tahun belum juga tulisannya dimuat. Tapi jangan berhenti belajar. Sebuah perjuangan harus dimulai lagi dengan menulis surat buat siapa saja. Selain menghubungkan tali silaturahim juga supaya telaten menulis. Aku jarang sekali menulis. Bisa gak kutargetkan menulis surat minimal sekali sebulan. Sejak bulan Februari aku harus menulis surat. Apakah targetku gak melenceng.

Tahun 2007 rencanaku buku Tafsir al-Mishbah, buku Ekonomi Syariah, komputer pentium 4. Tapi karena itu semua belum terpenuhi karena alasan uangnya tak mencukupi, akhirnya kupikir aku harus cari penghasilan. Yang sudah terpikir pekerjaan yang tidak mengganggu perkuliahan adalah menulis cerpen, puisi, novel. Untuk sampai bisa harus banyak membaca dulu karya orang lain yang terkenal.

Bila buku di perpustakaan tak ada, harus membeli sendiri. Memang semua membutuhkan biaya. Tak ada yang gratis di dunia ini, di kota ini selain bernafas dan kentut. Bahkan untuk dapat menghirup udara bersih saja, harus mempunyai rumah yang perumahan kondusif seperti Kotabaru Parahyangan yang harganya ratusan juta. Tapi aku tak boleh patah semangat. Aku bisa melakukan semuanya. Aku bisa menulis cerpen, puisi, dan novel. Karena aku sudah melakukan satu langkah dalam beberapa langkah untuk sampai di tujuan. Seharian ini di kosan kubaca buku-buku panduan menulis. Mumpung ada waktu. Karena membaca adalah prioritasku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori