Oleh: Kyan | 19/02/2007

Satu Bagian Cerita Bersama Nazifa

Senin, 19 Februari 2007

Satu Bagian Cerita Bersama Nazifa

**

Dengan duduk berselonjor, kuamati deretan huruf yang memberikan makna terdalam bagi pkiranku. Handphoneku berdering. Kubuka, ada sms dari Nazifa. Selama liburan ini dia sering mengirim sms padaku. Rupanya ia tak ingin kehilangan kontak denganku. Sebagai lelaki yang telah disakitinya dengan pedihnya tak terkira, aku harus tetap berbuat baik padanya. Harus memenuhi segalanya selagi mampu membantunya. Memang sebagai teman, harus saling memberi menerima. Meskipun ia sudah mengungkapkan segala perasaannya, bahwa ia pernah simpati padaku. Mungkin itu hanya sekejap saja yang lekas pergi tersapu angin.

Terpana dengan seberkas sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam ketika senja tiba. Sungkan aku menanyakan kabar hubungannya dengan lelaki pilihannya itu, Gustaf Akmal. Kudoakan selalu semoga ia menemukan kebahagiaan atas pilihannya itu. Sebagai sahabat yang pernah mencintai, harus bahagia ketika sahabatnya mendapatkan kebahagiaan bersama lelaki lain. Tak boleh lekang oleh zaman tali persaudaraan ini. Aku ingin persahabatan kekal abadi sampai masing-masing menikah, bahkan sampai punya anak dan cucu. Dan menghadiri saat-saat kematiannya.

Persahabatanku dengannya berpijak pada jalan ketulusan. Mungkin lebih baik aku bersahabat yang tanpa pamrih. Jika dibandingkan dengan membangun hubungan yang lebih. Aku harus menyadarinya sejak awal. Supaya aku tak begitu pedih sakit, ketika ia duduk di pelaminan bersama yang dicintainya. Aku tak boleh mengharapkannya yang bukan-bukan. Harus kusadari mencukupkan diri atas yang telah ia lakukan terhadapku. Aku menerimanaya dengan lapang hati meski pedih kurasa dan menghimpit.

Hari kemarin dia mengirim sms yang katanya mau pinjam buku. Tempo hari juga ia mengirim sms katanya mau pinjam buku juga. Setelah kutunggu-tunggu, tak kunjung datang. Aku segera mandi untuk menyambut kedatangannya. Aku siap sedia untuk memeriahkan pertemuan ini. Namun hari semakin mendung, langit kelam, hari hujan dengan derasnya. Keadaan hujan begini, tak mungkin ia datang. Sewaktu kutelpon dia masih di tempat kerjanya. Merembes rasa adem ketika kudengar suara paraunya. Tiba-tiba aku merasakan telah menjadi manusia seutuhnya. Kurasakan keceriaan yang tak terkira. Kusadari lagi kini ia telah menjadi milik orang lain, memilih atas pilihannya sendiri.

Kuterima semua kekalahan ini. Aku sadar aku telah kalah dalam perjuangan ini. Namun aku tidak boleh kalah di perjuangan lain. Akan kubuktikan bahwa aku bisa meraih semua yang aku inginkan. Meski harus menanggung penderitaan dan kesepian yang tak kunjung selesai dan lelahnya perjuangan. Aku tetap tabah menghadapi dan menjalani liku hidup ini.

Pagi ini kurasai ketermenungan. Bersimpuh memahami surat al-Baqarah. Kesuksesan harus dilalui dengan salat dan sabar. Sungguh, Allah akan terus memberi cobaan sebagai kasih-Nya. Sudahkah aku salat dan sabar dengan sempurna. Sabar bisa dilihat dari tindak tandukku. Ya Allah teguhkanlah aku dalam kesabaran. Kutulis cerita tentangku, hari-hariku dalam kerasnya berjuang yang katanya ingin jadi penulis brilian. Ingin bisa menulis cerita. Kubaca semua buku panduan. Waktu akan menghargai semua perjuanganku, seringan apapun dan seberat apapun derasnya liku perjalanan.

Aku yang dilahirkan bukan dari keluarga penulis, aku tidak tinggal di lingkungan para penulis, aku tidak membina hubungan dengan kumpulan para penulis, tapi aku tak akan patah semangat untuk bisa jadi penulis. Bilapun tak mampu menghasilkan sebuah karya besar kebanggaanku, setidaknya dapat menyelesaikan satu tulisan ini. Aku hanya mengandalkan motivasi dan teknis dari buku. Semua yang kudapatkan dominan dari buku-buku yang kubaca.

Aku hanya ingin jadi setangkai mawar meski pohonnya berduri. Aku ingin jadi emas dari sepuhan kerikil-kerikil tak barharga. Aku ingin menjadi mercusuar atau tiang layar bagi kapal yang pertama dilihat ketika hendak melabuh di pantai. Aku ingin menjadi matahari yang sinarnya memeluk bumi. Aku ingin menjadi bulan yang cahayanya mendekap bumi. Aku ingin memeluk dan mendekap semua yang melingkupiku. Aku ingin memberikan hujan bagi tanah yang gersang. Aku ingin merembes sampai ke pusara bumi. Pohon-pohon yang kering meranggas ingin aku tumpahkan air supaya daunnya menghijau memberi pesona bagi keindahan alam. Sebab aku adalah keindahan derit suara manusia yang terjepit.

Bisakah aku menulis sepuluh halaman setiap hari dan membaca enam jam setiap hari. Jika mencari alibi, bahwa aku tak ada waktu, orang yang sibuk saja mampu melakukannya, kenapa aku tak bisa. Apa sih kesibukanku. Aku tak boleh mencari alibi lain. Sungguh-sungguhkah ingin jadi penulis. Aku harus fokus dan ada hal yang dikorbankan. Tak bisa untung ladang enteng. Kang Abik mampu menulis Ayat-ayat Cinta harus diam di rumah selama delapan bulan. Faudzil Adhim sejak kecil telah divonis mengidap penyakit jantung, yang membuat ia banyak diam di rumah. Stephen King gara-gara penyakit, dia harus istirahat total di rumah. Kalau orang lain karena ada lain sebab, sedangkan aku atas pilihanku sendiri. aku selalu terpikir bahwa kewajibanku banyak karena aku seorang mahasiswa. JK Rowling menulis di café sedangkan aku bisa menulis di mana saja.

Sedang asyiknya membaca buku, pintu kamar kosanku ada yang mengetuk. Rupanya ada yang memanggilku dari luar. Ternyata yang datang adalah orang yang selama hari-hariku kutunggu-tunggu. Dengan senyumnya yang mengembang. Nazifa memandangku sayu. Sepagi ini di datang ke kosanku. Ia mau pinjam buku tentang Akuntansi. Setelah tiga minggu aku tak jumpa, kulihat ia bersikap ragu-ragu. Kubawa agar suasana menjadi cair antara dia dan aku.

Aku ikhlas atas semua yang telah terjadi. Tak perlu disesali dan diungkit. Semua yang telah terjadi. Aku akan tetap bersikap penuh perhatian kepadanya. Meskipun aku sering berkhayal andaikan ia jadi milikku, menjadi surgakah dunia ini. Semoga kutemukan surga yang lebih indah, surga sebelum surga. Aku hanya termangu dan terpana melihat sikapnya yang tampak sibuk. Ia ingin mendalami Akuntansi. Kukatakan aku semakin malas saja belajar Akuntansi.

Kutanyakan padanya bagaimana runtut kejadian sampai ia kehilangan handphone. Jawabnya ketinggalan di wartel. Akupun sering bawa hape ke wartel dan akupun sering lupa. Aku harus berhati-hati, karena bisa saja terjadi padaku. Aku harus lebih hati-hati lagi. Harus kusadari semua yang sedang dan akan kulakukan. Aku sering tidak menyadari tindakanku sendiri, seperti dalam setiap omonganku yang terkesan seperti orang marah-marah. Kalau gak terbata-bata, tergagap-gagap bahasanya tidak runtut. Seperti ini cuma perasaanku saja.

Kusimpulkan karena respon orang pun seperti marah juga menanggapi omonganku. Apakah cuma perasaanku saja. Setiap orang kalau sedang terhempit, seperti dipojokkan, dia akan balik menyerang untuk mempertahankan pendiriannya. Apakah ini sebagai ego diri. Tak bisakah kuterima kekalahan dan merasa bodoh saja di hadapan siapapun.

Kupikir semua orang tak ingin dianggap bodoh, dianggap tak tahu apa-apa. jika direndahkan siapa yang tak ingin melawan. Disitulah sikap pengendalian diri. Bisakah anggap saja diri ini bodoh, tak tahu apa-apa. Makanya ingin belajar terus. Banyak membaca karena ingin tahu segala hal. Tapi tidak bisa setiap orang jadi serba tahu. Paling tidak sediki-sedikit dari setiap bidang. Apapun keadaannya aku harus mampu bersikap tenang dalam menghadapi segalanya.  Menang atapun kalah. Seperti romannya STA saja, menang dan kalah.

Tiba-tiba aku ingin ke perpustakaan. Disana aku sering mendapat sesuatu yang kucari, data DPK Bank Permata. Makin kuat pendirianku aku tetap ingin membahas OC di Bank Permata. Tapi DPK dari OC-nya susah aku dapatkan. Akan kucoba lagi datang ke Astana Anyar. Semoga mereka memberikan data. Masalah yang kuhadapi harus kuhadapi dengan tenang dan jangan patah semangat. Semuanya membutuhkan proses namun orang-orang melihatnya pada hasil akhir. Jarang orang melihatnya bagaimana prosesnya. Orang-orang tidak  mau tahu bagaimana proses perjuangannya yang penting berhasil dengan sukses. Kebanyakan orang-orang berpikir seraba instan. Kenapa aku banyak men-judgemen begini pada orang-orang.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori