Oleh: Kyan | 20/02/2007

Rencana Kunjungan ke Tazkia Bogor

Selasa, 20 Februari 2007

Rencana Kunjungan ke Tazkia Bogor

**

Ruh mengambil wadagku setelah lima jam aku bertamasya ke alam sukma. Kubuka mata, redup cahaya dari lampu lima watt memenuhi ruangan kamarku. Serasa aku ditimpa beban sepuluh ton membuat aku tak bisa berdiri. Kutolehkan muka ke balik jendela, hari masih gelap. Remang-remang cahaya memberi nada puitis di Asrama Kurnia. Orang-orang sepertinya masih tergeletak di kamarnya masing-masing. Mendengkurkan harapan dalam lelah tak berkesudahan.

Kubuka pelan-pelan pintu menuju kamar mandi. Terasa segar kesegaran air merembes ke pori-pori mukaku. Kubasuh muka dan tangan untuk bersimpuh di hadapan-Nya. Aku telah terlahir kembali. Kutengadahkan tangan mohon rahmat dan kasih-Nya. Semoga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Kuambil salah satu buku yang berderet rapi di raknya, Tafsir al-Mishbah. Kurenungi sepenggal kata demi kata yang menjadi serangkaian kalimat hingga memiliki makna.

Pesan yang bisa kuambil: Sungguh kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Musibah yang menimpa bukanlah musibah yang pertama dan bukan yang terakhir. Suatu usaha dimulai dengan kebeningan hati dan diakhiri dengan kepuasan hati. Semoga aku bisa memberikan makna dalam kehidupan ini. Kututup dengan takzim dan kutaruh kembali di tempat semula.

Kuambil buku harianku yang tergeletak di meja yang tadi malam tak sempat kusentuh. Kutulis dengan merangkai kata apa-adanya. Tentang pergulatan hidup yang penuh tanda tanya besar. Ketikdapastian menjadi landasan berpijak kaki otakku. Kata-kata adalah sabda Tuhan. Bayang itu akan menyihir siapa pun. Menulis adalah pemberontakan. Menulis adalah membangun peradaban. Menulis karena ingin menyampaikan sesuatu pada pembaca bahwa hari akan terus berjalan, waktu akan terus berputar.

Kulangkahkan kaki ke tepian jalan. Di jalan hanya kulihat beberapa orang. Sampai di pintu gerbang, meskipun hari libur kuliah, seperti biasa kampus selalu dipenuhi orang-orang. Kusapukan pandang pada mereka yang bergerombol dan ada juga yang melamun sendirian. Mereka terasyikan dengan omongan dan pikirannya masing-masing. Menuju ruang jurusan Prodi, tak ada suara siapapun. Kubuka-buka kertas yang berserakan di meja. Tak kutemukan surat pengantarnya. Aku terkesima dengan mata melongo karena tulisannya kecil-kecil. Kuamati kembali dan benar aku mendapat nilai statistik C. Percaya tak percaya, tiba-tiba ada yang mengagetkanku, Mila. Dia tersenyum sumringah karena ia mendapatkan nilai B.

Rencana mau ke BNI Syariah tak jadi, karena surat pengantarnya belum dibuatkan. Tadinya mau sejak pagi-pagi ke kampus, karena keasyikan membaca jadi tanggung saja kutamatkan dulu membaca. Tapi waktu sudah Duhur pun kampus masih sepi begini. Begitu aku ke kampus hanya bertemu Mila. Ada beberapa nilai yang keluar. Matakuliah Akuntansi Keuangan, aku mendapatkan nilai A dan Statistik aku mendapatkan nilai C. Aku terhenyak kulihat UAS-ku jelak banget. Aku hanya mendapatkan nilai 12, kalau Aril dapat 69 nilai SBS, sehingga dapat nilai B. Tak disangka-sangka aku mendapat nilai segitu.

Sesuatu terjadi tidak mungkin terjadi kecuali atas izin Allah.  Bisa gak aku perbaikan nilai Statistik. Aku mau mencoba menghubungi ibu Elis. Padahal statistik kemarin aku dapat A sendirian. Sampai di kelas menjadi geger aku sendirian mendapatkan nilai A. Aku belum ketemu juga dengan pak Ija. Haruskah aku datang ke rumahnya untuk supaya segera selesai urusan nilainya. Padahal aku merasa perjuangan untuk mendapat nilai dengan sungguh optimal mengerjakan tugas BMT, sampai melakukan kunjungan ke dua BMT: Barrah dan Daarut Tauhiid. Kuperoleh surat kunjungan lagi. Salahku makalahnya diambil lagi, jadi dianggapnya belum mengumpulkan.

Terus mengerjakan tugas Statistik aku yang paling sering memberi andil, selalu aku yang mengerjakan. Kalau kupikirkan ego, banyak teman-teman yang pengetahuannya, kerajinannya, kehadirannya di bawahku malah dapat nilai statistik B. Tapi semua atas izin Allah. Haruskah aku berputus asa menerima semuanya. Nilai penting tidak penting. Akan aku usahakan untuk memperbaikinya. Mungkin, selama semester lima ini aku kurang optimal. Konsentrasiku hanya pada kuliah, kok malah dapat nilai jeblog. Kenapa aku begitu sibuk begini. Baru kali ini aku memperoleh nilai C. Jangan sampai terulang deh mendapat nilai C. Tapi semuanya membawa hikmah. Aku tak boleh berkecil hati dan bersombong diri. Semuanya terjadi atas izin Allah.

Kubuka lagi catatan harianku yang sejak tiga hari tidak kubuka. Kucoba lagi mengingat-ingat kembali apa yang telah kulakukan dua hari yang lalu. Kuperas otakku supaya bisa kukumpulkan lagi semua ingatanku. Dengan hingar bingar suara radio sangat menggangguku, membuyarkan konsentrasi. Mau dimatikan tapi aku harus menghargai bagi yang mendengarnya. Hidup harus saling hormat-menghormati. Eureuka, bisa kuhimpun kembali ingatan memoriku.

Saat pagi yang cerah, ketika kutulis kata dengan sangat hati-hati dari balik pintu ada yang mengetuk. Setalah kubuka pintu ternyata Dadang yang datang, ketua KBMP MKS. Ia mengajakku ikut ke Tazkia. Tapi aku tak punya uang. Maksud kedatangan ke Tazkia ingin mengajukan supaya pak Syafii Antonio bisa hadir ke Bandung. Ia bilang apa salahnya dicoba. Obrolan tentang rencana besok, nanti kita lanjutkan di rapat nanti jam sembilan di kampus. Dadang pamitan dan kulanjutkan kembali tulisanku yang tadi sempat terhenti oleh datangnya dia.

Menuju baris terakhir apa yang sedang kutulis. Segera saja kuambil wadah sabun dan handuk dan langsung menuju kamar mandi. Byur byur terasa sangat dingin seperti es batu. Tadi sebelum ke kamar mandi, sempat kutengok jam yang menunjukkan arah angka delapan lewat. Kupakai baju yang mana saja pikirku. Tak usah terlalu kuperhatikan penampilanku hari ni. Rencana hari ini aku hanya mau ke perpustakaan.

Sampai di kampus kutengok sana-sini. Kusapukan pandang ke setiap arah di sekitar masjid kampus. Kosong tak ada Dadang disana. Aku bergegas ke Gedung Fakultas, tak ada pula. Kecewa lebih baik aku langsung ke perpustakaan. Aku naik ke lantai dua menuju ruang majalah dan koran. Di sana hanya dua orang yang kulihat sedang duduk dengan takzim membaca. Koran hari ini belum ada.

Kuambil bundel Majalah Tempo yang terlihat makin kusam dan penuh debu. Sepertinya jarang bahkan tak pernah ada yang pernah membukanya semenjak ia jadi penghuni tetap ruangan ini. Memang aku sangat tertarik dengan catatan pinggir-nya Goenawan Mohamad. Meski memerlukan kernyitan dahi untuk mengerti gaya bahasanya yang tajam, kuperas saja otak untuk sedikitnya mengerti. Akhirnya tulisan-tulisannya bisa juga aku mengerti. Tak kuingat lagi apa saja yang kudapatkan dari caping-nya mas GM. Semoga khazanah gagasannya jadi penghuni tetap otakku, yang mana ketika nanti dibutuhkan, ia datang dengan semangat menghampiri memoriku.

Waktu Duhur tiba, bunyi bel tanda perpustakaan mau tutup sementara. Akupun melangkah gontai keluar. Sementara cacing di perutku ada yang miscal. Di jalan bertemu Ruri, yang selalu mesra dengan pacarnya. Tak usah iri dengan orang lain yang pacaran. Nikmati saja dengan kejomloan yang tidak henti sampai kapan ujungnya. Untung tadi sudah masak nasi dan kubeli rencang nasi sekedarnya Rp. 2.000,- di warung langganan. Meski masih panas nasinya, tapi terpaksa kumakan saking laparnya.

Ahmad Fakot mau ikut mengetik. Ia sudah beberapa minggu belajar mengetik 12 jari setiap hari. Ia bersedia membayar Rp. 15.000- per bulan padaku sebagai biaya sewa komputernya. Katanya cuma meminta satu jam per harinya. Penghasilan dari mana saja. Sebelumnya aku pernah pinjam uang Rp.10.000,- ke dia. Sekarang bukan aku yang harus membayar, tapi malah sebaliknya dia yang membayar. Akhirnya dapat kupegang uang lagi. Rezeki datang dari mana saja jalannya. Setiap hari selalu membuatku tetap bisa makan cukup. Syukur alhamdulillah.

Cuaca siang terlihat semakin gelap. Langit menjadi mendung. Gemericik air jatuh ke atap asramaku, satu dua dan bergerombol tak tertahankan seperti suara diserang berjuta-juta peluru. Aku tak punya jemuran. Setelah Duhur kuambil buku saku penuntun remaja Dunia Kata yang belum kutamatkan. Ketika sedang asyiknya membaca, ada yang datang lagi. Sekarang Dadang dan Asep. Mereka basah kuyup. Kami membicarakan hal-hal buat besok. Mereka bilang pokoknya besok jadi ke Bogor. Mudah-mudahan mobilnya dapat. Kubilang padanya tadi Riska Nadya, juga mencari mereka.

Aku masih bingung apakah aku ikut serta. Meski ongkosnya gratis, lantas makannya bagaimana. Omonganku di dalam hati: Hari ini di kosanku menjadi ajang diskusi tentang segalanya. Namanya diskusi bisa dilakukan dimana saja. Tak perlu formal. Meski masih dianggap sok intelektual, yang penting teguh pada pendirian. Tak ada pembicaraan sampah, yang mengganggu nafsu.

Gema azan berkumandang. Sementara rintik hujan sedikit reda. Kami salat berjamaah. Untuk melekatkan tali persaudaraan harus melakukan bersama-sama apa saja sesering mungkin. Termasuk dalam ibadah ritual. Tujuannya untuk menyamakan visi, misi dan persepsi. Komunikasi verbal dan nonverbal. Selepas salat mereka pamitan. Kosanku menjadi sepi kembali. Namun, tak lama kemudian pintu diketuk lagi. Ternyata Aril tiba dari kampung halamannya. Ia menanyakan soal rencana keberangkatan ke Bogor. Kami mengobrol ngalor ngidul samapi jam 11 malam. Aku segara salat Isya sebelum tidur. Tadinya ingin menamatkan buku Dunia Kata, tapi mataku sudah berat kukedipkan.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori