Oleh: Kyan | 21/02/2007

Perjalanan ke STEI Tazkia Bogor

Rabu, 21 Februari 2007

Perjalanan ke STEI Tazkia Bogor

**

Kubelalakan mata. Kutolehkan muka ke jam dinding kamarku. Hah, sudah jam enam kurang seperempat. Dengan terperanjat langsung menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Segera salat subuh dengan tergesa-gesa dan sebanyak dua lembar saja membaca tafsir. Aku harus menepati janji tiba di kampus jam tujuh kurang. Aku segera menuju kamar mandi. Gebyur gebyur kurasakan sangat dingin seperti salju. Dengan tergesa-gesa aku berpakaian dan mempersiapkan apa yang mesti kubawa. Baterai hapeku sudah lemah. Tak bakalan sempat mengecharge hape.

Aril sudah menjemput. Belum sarapan. Terpaksa sarapan bubur dulu. Aku tak ingin membiasakan diri telat janji. Namun tiba di kampus baru Dadang dan Novi. Mobilnya sudah ada. Tak lama ada yang datang, perempuan. Lumayan parasnya cantik. Kuketahui namanya Respita. Kusapa oh ini namanya Respita. Ia hanya memberikan senyum mengembang. Ia banyak diam.

Dan pembicaran jadi hening dengan kedatangan Riska, akhwat banget. Yang ditunggu tinggal satu lagi, Agus anak semester satu. Dadang bilang ia langsung dari rumahnya di Pangalengan. Memang menunggu itu membosankan. Tapi datang juga akhirnya. Ia bilang tercegat hujan dan macet. Padahal berangkat dari rumah subuh. Cibiru-Pangalengan bisa ditempuh dua jam.

Berangkatlah kami. Aku, Aril, Agus dan Dian duduk di belakang. Sementara di tengah Novi, Respita, Riska dan Asep di depan sopir dan Dadang. Perjalaan cukup jauh harus persiapan logistik. Katanya logika tanpa logistik tak akan jalan. Pembicaraan di jalan sebagai anak ekonomi harus tahu perkembangan perekonomian. Berapa harga beras di pasar. Aku sangat merasakan dengan kenaikan beras. Tahun kemarin cuma Rp 4.800,- sekarang sudah Rp 6.200,- merasa mahal karena tak punya duit. Segala sesuatu akan mengalami perubahan. Tapi kurasakan kok aku ini berubah ke arah yang lebih buruk.

Benarlah pengembaraan tanpa peta akan terseok-seok. Jika hanya mengikuti apa kata orang-orang akan tidak teguh pendirian. Tapi ini sebuah pengalaman baru. Beginilah kota Bogor. Aku tidak begitu hapal rute jalan Bogor. Kalau sering nanti juga bakal tahu. Dimana-mana setiap manusia selalu disibukkan dengan aktivitasnya. Memang tak ada yang statis. Semua mengalami perubahan. Akupun tak akan terus begini. Aku ingin mempunyai penghasilan. Aku akan menikah suatu saat nanti. Penghasilan dari apa dan dengan siapa aku menikah adalah pertanyaannya.

Perjalanan ke Bogor mengingatkan aku pada kenangan lalu sewaktu pertama kalinya ke Tazkia bersama rombongan BEM Muamalah. Saat itu aku duduk satu jok dengan dia. Ah, tak perlu kusebutkan lagi namanya. Karena saat ini aku ingin melupakan namnya. Meskipun begitu, setiap detik waktu kebersamaan dengannya akan selalu tersimpan rapi di memori otakku. Dan tak mungkin terlupakan, keculai kalau hilang ingatan. Aku tak perlu risau, biarlah menjadi kenangan. Biarlah menjadi sejarah masa laluku. Dengan sejarah hidupku semua telah ditakdirkan oleh-Nya.

Kupicingkan mata ke luar. Kuamati deretan papan nama di sepanjang jalan Darmaga. Ada yang menyahut. Itu Tazkia. Kamipun turun pas di depan kantin kampus. Suasanya sepi maklum hari pertama kuliah. Kusapukan mata ke setiap arah. Menginjak bumi di sini yang kedua kalinya. Ketika tiba kalau dulu malam tapi sekarang siang hari. Banyak mahasiswa yang menoleh kami. Mungkin mereka bertanya-tanya, rombongan dari manakah ini. Yang penting maksud kedatangan mereka bermaksud baik, mungkin begitu pikirnya.

Dengan langkah terseret kami menuju masjid kampus. Kantin dan kampus dipisahkan oleh aliran sungai yang airnya cukup deras. Kusimpulkan semuanya serba sederhana. Tak perlu neko-neko tapi menjadi cahaya bulan yang memeluk bumi pembangunan. Kami berdiri berderet dengan penuh takzim untuk mendirikan salat Duhur. Suasana tanpa suara, hanya detak jarum jam dan detak jantung masing-masing. Yang terdengar hanya lapadz takbir dan akhirnya salam.

Bertebaranlah kalian di muka bumi. Setelah melaksanakan salat, carilah karunia ke setiap ujung bumi. Engkau akan selalu mendapat ujian yang tak berujung. Hanya dengan salat dan sabar engkau bias sampai di gerbang sukses. Dengan langkah terbirit-birit kami pun ke luar. Perutku sudah mizcall, saatnya makan siang. Kami berjalan bergerombol dengan bercengkrama menyapukan pandangan ke setiap gedung kampus. Kami menuju kantin. Belum juga makan, pak satpam memanggil yang katanya pak Nadjib sudah menunggu.

Kami langsung berdiri mengikuti pak satpam bersepeda. Hebat. Di kampus ini masih ada tradisi bersepeda. Tak kulihat mobil berderet di halaman parkir. Sepertinya kampus para mahasiswanya kuliah tanpa bahwa kendaran pribadi. Kampus Islam harus benar-benar bercirikan keislaman.

Disambut hangat oleh pak Nadjib. Pertemuan cukup, intinya jadwal pak Safii sangat padat dan sekarang sedang berada di Malaysia. Aku sempat bertanya tentang kurikulum. Akhirnya aku bisa bertanya dengan jelas, yang biasanya sangat sulit untuk merangkai kata dalam menyusun pertanyaan yang mengalirkan gagasan di otakku. Aku harus terbiasa bertanya dalam setiap kesempatan.

Bulan Mei rombongan dari kampus kami mau datang lagi ke Tazkia. Nanti aku ingin ikut ke sana lagi. Aku ingin banyak melakukan perjalanan. Aku ingin banyak pengalaman. Semoga kenangannya mencukupi. Kami berkeliling menelusuri setiap bangunan kampus. Ruang perpustakaannya penuh dengan deretan buku bahasa Arab dan Inggris. Dengan bahasa bisa menguasai dunia. Jangankan bahasa asing, bahkan bahasa Indonesia tak kukuasai dari setiap aspeknya. Bahasa dan sastra. Aku belum banyak membaca. Harus bagaimanakah aku bisa menguasai bahasa dan sastra. Tiada henti untuk belajar dan kurasakan waktunya tak mencukupi.

Kami duduk berhadapan di kantin. Sudah sangat lapar dan laparnya sudah lewat. Lemaknya digerogoti untuk suplai energi. Bila terus-terusan begini aku makin kurus saja. Kami makan nasi goreng, sangat nikmat di lidah. Sempat juga makan di kampus Tazkia. Sedudah makanannya turun ke usus halus dan cukup istirahat sejenak, kami siap pulang.

Roda mobil yang kami tumpangi berjalan pelan dan akhirnya sampai di tepi jalan raya. Mobil kami sempat ke terusan jalan Darmaga. Katanya itu jalan menuju Banten. Memutar balik dan harus melewati kembali jalan tadi. Sudah tahukah aku rute jalan ke Tazkia. Setidaknya ada titik-titik yang kuketahui. Kami bercengkrama dalam suasana jalanan macet. Sampai juga di Puncak. Tadipun sempat singgah di pucak dan foto-foto. Singgah sekarang untuk melakukan salat Ashar.

Air wudhu merembes membasahi muka dan tanganku. Sangat dingin bak air salju. Kuamati ke sekeliling masjid. Bangunannya sangat indah menawan. Masjid at-Taawun sungguh menjadi mercusuar di tengah-tengah kebun teh, memberi puncak keindahan perjalanan kami.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori