Oleh: Kyan | 22/02/2007

Dalam Sebuah Pengorbanan

Kamis, 22 Februari 2007

Dalam Sebuah Pengorbanan

**

Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi. Aku baru selesai menamatkan dua film yang kusewa dari Manisi. Sementara di sampingku, Dian sudah tergeletak tidur dengan pulasnya. Rohnya sudah melayang kemana. Terbuai dengan mimpi yang baik atau buruk, semua kembali ke persepsi masing-masing. Apakah arti baik benar dan buruk bagiku. Sebuah fenomena tak bisa kupandang hitam dan putih, masalah ini harus diselesaikan begini begitu. Masalahnya begitu kompleks, harus bisa diselesaikan dari berbagai sisi. Apakah ini terlalu meyulitkan diri sendiri. Kembali lagi pada persepsi masing-masing dan seseorang tak boleh memaksakan persepsinya ke orang lain. Setiap orang punya keunikan masing-masing. Dengan penuh kebebasan, beraksilah.

Kubuka mata, terperanjat dengan tenang. Meski tidur jam dua pagi tapi masih bisa bangun jam lima lebih. Segera mengambil wudlu. Selesai salat subuh terkulai lagi di kasur lepet pemberian teman dan bangun lagi jam tujuh lebih. Diributkan oleh pembicaraan Ahmad dan Mahbub. Akupun tercengkat bangun. Dian tak ada, tak lama Dian datang. Dia ingin diputar lagi film yang tadi malam tak sempat ditontonnya. Jika di kamar sendirian aku biasa melakukan aktivitas membaca dan menulis. Kalau banyak orang susah aku merutinkan.

Hidup harus bersosialisasi membuat aku tak bisa melakukan hal-hal yang kusenangi. Mestinya ada waktu privasi. Seorang mahasiswa terkadang susah melakukan itu kecuali kosannya di gunung terpencil. Semuanya membawa kebaikan. Mau mencuci terasa malas. Asyiknya baca buku. Dudi datang tak banyak kuperhatikan dan kusambut kedatangannya. Asyiknya baca buku diganggu orang. Paling menyebalkan. Aku terus memaknai kata-kata dalam buku. Masih banyak yang belum kubaca sampai tamat. Buku yang kublei harus selesai sampai tamat kubaca.

Adzan Duhur tiba. Masih ayiknya membaca. Terpaksa kuhentikan bacaanku. Salat penuh khusyuk memohonkan dosa-dosaku. Sudah sangat lapar. Aku tak masak. Berasnya sudah habis. Uangnya masih ada. Tadi Taufik bayar sewa buku dan pinjam lagi. Penghasilan hanya mengandalkan dari sewa buku. Aku ingin menulis, salahkah jika aku menulis demi sesuap nasi. Yang ideal itu menulis demi kesenangan. Menulis demi aktualisasi diri. Jangan menghidupi diri dari menulis. Lantas harus bagaimana.

Salahkah, bila suatu saat nanti aku mendpat uang dari menulis. Tak bisa dipungkiri. Tapi jangan dijadikan utama. Kita menulis karena ada yang ingin disampaikan kepada pembaca. Paa penulis besar sekarang sudah pada tua dan akhirnya mati. Perlu ada regenerasi. Saatnya para penulis muda mengaktualisasikan diri, membawa estapet perjuangan dalam memanusiakan manusia. Pelajar kemanusian. Pejuang kemanusiaan.

Aku tak ingin ketinggalan informasi. Inginnya aku setiap hari bisa sempat baca koran. Setiap hari harus datang ke perpustakaan. Kalau koran di perpustakaan nanti dikemanakan. Dibalikin lagi. Jarang kulihat yang jualan koran bekas. Akan coba kutanyakan ke pelayan perpustakaan. Aku ingin jadi manajer perpustakaan. Jika aku sudah punya rumah sendiri aku ingin mendirikan perpustakaan. Akan tinggal dimanakah aku, akan menikah dengan siapa. Kenalan perempuan lumayan banyak. Tapi yang penting sekarang banyak menabur kasih, kasih sayang. Suatu saat nanti ada yang menyambutku.

Jangan terlalu memikirkan calon pendamping hidup. Saatnya akan datang. Sekarang harus menatap membangun istana masa depan. Aku ingin punya penghasilan dari mana saja. Aku ingin jadi penulis cerepen dan puisi. Mana bisa tapa banyak baca cerpen dan puisi karya orang lain. Untuk banyak membaca harus rajin ke perpustakaan atau membeli dan membaca buku. Tidak buku baru, buku bekas jadi alternatif. Jangan menyerah pada keadaan. Aku tak boleh kecewa oleh apapun, oleh siapapun. Jangan mengharap kasih dari orang lain. Hanya memberi kekecewaan dan menggerenyitkan dahi bila mengharap pada orang.

Aku banyak membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad. Aku ingin membaca puisi Asmaradana Goenawan Mohammad. Banyak uang yang harus kukeluarkan. Pengorbanan. Tapi tak terasa bel tanda perpustakaan mau tutup. Aku pulang ketika sudah tak tahan menahan kantuk. Sampai di kosan akhirnya tertidur pulas sampai Maghrib. Tercengkat demi menunaikan kewajiban. Membaca tafsir selembar dua lembar. Kulanjutkan lagi membaca buku On Writing Stephen King. Tak akan henti membaca buku panduan menulis sampai aku mahir menulis. Sampai kapan perjuanganku untuk bisa menulis lancar mengair ibarat aliran air sungai yang deras. Menulis tanpa hambatan yang merintal arang.

Tak terasa sudah masuk jam sebelas malam. Selalu aku tidur malam. Sebuah pengorbanan harus apa lagi yang harus kulakukan agar aku bisa menulis. Kalau kemarin cengeng gara-gara cinta, sekarang dihadapkan pada cita-cita ingin jadi penulis profesioal. Di samping sebagai manajer lembaga keuangan, juga seorang penuis brilian. Mestikah mempunyai istri seorang penulis. Aku hanya ingin dia bisa mendidik anak dengan lembut, sehingga bisa menajamkan potensi bagi setiap anak-anakku.

Memangnya aku bakal menikah. Sempat tidak sempat, lebih baik hidup normal. Memang terkadang untuk bisa mencuat dalam satu bidang, harus mampu dan bersedia mengorbankan hal yang prinsipil. Tapi buat apa kemashuran, kesenganan kalau rapuh. Apakah lebih baik bisa menciptakan keturunan yang lebih baik lagi untuk melanjutkan tugas kekhalifahan. Hidup tak boleh egois. Buat apa kesenangan yang hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri, tapi tak bisa dibagi pada setiap orang. Hidup harus saling berbagi kebaikan.

Dalam menulis harus punya perkakas. Kosakata, tata bahasa, dan gaya bahasa. Tidak lain semuanya bisa didapatkan dengan banyak membaca dan latihan menulis. Aku harus banyak membaca buku-buku novel, cerpen, dan puisi. Selama ini aku banyak membaca buku kajian. Sekarang aku telah berpikir pragmatis. Harus bisa punya penghasilan. Sampai usia sekarang, 24 tahun masih belum mapan. Jangan lihat orang lain, usia berapa aku bisa mapan. Memang mencapai kekayaan tidak bisa dicapai hanya dengan cita-cita saja. Anugerah Allah, semua atas karunia dan rahmat-Nya. Aku harus banyak berdoa. Aku belum optimal dalam beribadah ritual.

Sekarang tak lagi bisa kulakukan salat Tahajud. Gantinya salat Duha itupun kalau ingat. Ya Allah, harus bagaimanakah aku ini. Masih terselimuti dengan segala kekecewaan dan kemerinduannya. Termenung. Aku ingin tersenyum. Aku ingin tersenyum sekarang. Dan saat ini kupaksakan untuk tersenyum namun kosong. Tak bisa apa-apa lagi, tak ada potensi yang bisa kukembangkan sehingga menghasilkan. Aku ingin punya usaha bisnis, bisa menjadi penulis. Bisnis ini itu hanyalah cita-cita yang tak pernah tercapai juga. Tapi aku tak boleh gampang putus asa.

Aku tahu aku harus tetap bersemangat. Harus tetap kerja keas sampai titik darah penghabisan. Akan kufokuskan diriku untuk bisa menjadi penulis. Menjadi penulis profesional tapi bagaimana caranya. Harus tetap belajar dan belajar.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori