Oleh: Kyan | 23/02/2007

Kisah Cinta di Masa SD dan SLTP

Jum’at, 23 Februari 2007

Kisah Cinta di Masa SD dan SLTP

**

Kubuka lagi dan kucatat lagi perjalanan hidupku dalam setiap detiknya. Sebuah cerita yang tersisa di memori otakku yang kini hanya sepenggal-sepenggal kuingat. Belum bisa aku konsisten menulis setiap hari satu lembar. Tapi ingin kutekadkan biasa menulis tiga halaman setiap harinya. Harus kutekadkan diri bisa dan biasa melakukannya. Menulis apa saja. Pokoknya tiga halaman terisi penuh dengan untaian kata demi kata. Sebelum bisa menulis seperti Ibnu Sina, satu hari sepuluh lembar. Aku ingin sampai disana segera.

Untuk idealisme, semoga aku bisa mempertahankan nilai-nilai idealisme yang kupegang. Aku ingin masuk kedalam barisan pejuang kemanusiaan. Terkadang merasa sama pendiriannya dengan para seniman dalam menyikapi sesuatu. Aku tak ingin frontal, tapi memberikan pencerahan. Terlibat dalam setiap konspirasi politik, tapi tak harus masuk anggota partai. Aku ingin jadi pribadi independen dalam pandangan apappun.

Tapi aku berpihak pada kebenaran yang menurut keyakinanku itu hal benar. Apakah kebenran itu relatif, apakah kebenaran bersesuaian dengan perjalanan sejarah, bergantung pada sejarah. Subtansi kebenaran kupikir akan diterima oleh semuanya. Seperti mencuri itu tetap dilarang di dunia manapun, apa pun alasanya. Tapi jika ditelusuri ke asal usul pencurian tak bisa sepenuhnya si pencuri dikatakan bersalah secara mutlak. Situasilah yang membuat dia begitu. Permasalahannya begitu kompleks. Jika dilihat secara parsial aku bisa mengatakan itu benar ini salah. Tapi jika kulihat secara komprehensif, aku tak biasa mengatakan secara hitam dan putih. Rasanya pusing memikirkan keadaan diri dan lingkungan.

Aku membeli bubur bukan semata-mata ingin makan bubur tapi bukan aku yang membelinya lantas siapa yang membelinya. Aku ingin memberi arti bagi tukang bubur. Karena ia pedagang kecil yang harus diangkat, yang harus dibeli barang dagangannya. Salahkah aku berpikir begitu. Aku pun ingin dibantu orang. Aku buka usaha dan ingin maju usahaku. Ingin berkembang usaha taman bacaanku. Tapi perlu modal besar. Belum ada di Cibiru tempat sewa buku. Aku belum yakin dalam jangka pendek modal akan kembali jika aku buka sewa buku. Soalnya minat baca orang-orang masih rendah.

Jika pun ingin membaca hanya mengandalkan kebaikanku. Inginnya gratis dan aku pun tak tega dan tak tahan harus merelakannya. Biarlah menjadi kebaikanku, asalkan yang tergambar dibenaknya tentang aku, bahwa aku seorang yang memberi arti bagi orang-orang. Jika pun tidak, tidaklah apa-apa.Aku terus menulis sempai aku merasa kelelahan. Sampai pegal-pegal tangan ku. Apakah tulisanku hanya sekedar sampah. Biarlah menjadi sampah tak berguna. Lantas apa lagi yang kutulis jika mengandalkan pikiran-pikiran yang baik, sampai kapan aku bisa memenuhi janji menulis tiga halaman perhari.

Buku catatan harianku harus dibawa kemana-mana. Ada waktu luang aku bisa menulis apa saja butuh kekonsistenan. Tulislah terhadap setiap omongan orang-orang. Meskipun aku telah menulis lebih dari tiga tahun entah apa yang ku dapatkan. Aku masih belum tau apa-apa. Aku masih belum lancar menuangkan gagasan kedalam tulisan. Aku belum bisa menerlurkan karya yang layak baca. Kaca mata aja sudah menjadi tebal sampai minus tiga. Sampai berapa minusku nanti, sementara masih banyak buku-buku yang harus kubaca. Memang jika ingin meraih segalanya niscara tidak akan mendapatkan satu pun. Begitulah katanya dalam kaidah pemasaran. Jadi harus ada pilihan, harus berani menentukan pilihan.

Aku tak memilih ingin jadi penulis. Tapi aku ingin bisa menulis. Jika mengaku aku ini manusia aku harus bisa menulis. Sekalian menjadi cita-cita saja. Tapi tak terlambatkah keinginan menjadi penulis dalam usia 24 tahun. Aku hanya doyan baca semenjak tahun 2002 saja. Tapi sesungguhnya sejak kecil aku sudah bermain-main dengan buku. Sebelum aku masuk SD aku sudah dibuaikan dengan buku-buku peninggalan pamanku. Sampai pernah dijejerkan di lemari sampai menyesakan baju. Lantas aku membakarnya. Soalnya menuhin lemari saja. Aku tak ada pembimbing untuk memanpaatkan buku-buku itu. Masih ku ingat buku peninggalan itu adalah buku geografis setiap benua, terutama Amerika dan Afrika. Kubuka-buka aja.

Dan ingat waktu ke pasar Cikatomas ingin beli buku cerita Wali Songo. Berarti sejak SD  minat baca buku cerita sudah tinggi. Cuma sayang tak ada yang mengarahkan. Tak ada buku-buku cerita. Kuingat hanya nasihat kata-kata yang tertempel diperpustakaan SD ku. Buku adalah gudang ilmu. Aku senang sekali main di perpustakaan sekolah. Jika sekolah aku sengaja datang lebih pagi, supaya sempat main dulu di perpustakaan.

Namun akhirnya perpustakaan sering dikunci dan malah sebagian buku-bukunya di simpan di ruang kantor kepala sekolah. Akhirnya aku jadi tak bisa lagi buka-buka gambar di buku. Ia pantesan dulu sukanya lihat-lihat gambar dalam buku. Jika anak-anak sekarang atau teman seusiaku di kota pasti sukanya baca komik. Masa sekolah SD-ku tak pernah bersentuhan dengan dunia komik. Buku-buku sewaktu SD-ku ibarat mutiara yang hanya orang-orang kota yang pantas memilikinya.

Jangankan punya buku, aku ke sekolah saja tak pakai sepatu. Sandal jepitpun tidak. Aku hanya berkaki telanjang di pelataran swah sepanjang mataku memandang. Kebetulan letak gedung sekolahku berada di tengah-tengah sawah. Di SD-ku aku jadi juara. Bukankah itu hal hebat. Ingat aku sering melakukan tanya jawab dengan temen-temenku tentang ilmu pengetahuan umum kalau lagi istirahat ataupun sebelum bel masuk. Aku dapat menjawabnya karena aku rajin baca buku yang diharuskan semua murid membeli buku tersebut oleh guru dari orang yang datang ke sekolah. Aku tahu sekarang rupanya dia itu agen buku mungkin.

Buku ukuran saku itu berisi UUD 1945, P4 dan GBHN. Setiap hari selalu kubaca sampai hapal nama-nama menterinya Kabinet Pembangunan Vi. Tak ada lagi buku yang harus kubaca. Tapi sekarang di kosanku sudah banyak buku untuk dapat kubaca sepuasnya. Sewaktu SD akupun pernah menggambar dan hasil gambarku dipuji oleh bapak guru. Aku sempat baca puisi dan deklamasi puisiku terbaik di kelas. Aku ingat itu di kelas dua. Dan sewaktu kelas tiga sewaktu acara kenaikan kelas aku baca puisi dengan lantangnya di depan ratusan orang.

Tak kuingat lagi puisi siapakah itu. Teksnya tak kuingat lagi. Ketika kelas satu pernah juga tulisanku sering dipuji oleh ibu guru. Katanya, lihat tulisan Sofyan. Pujian itu berulang sewaktu kelas dua SMP. Tulisan arabku pertama kali dipuji teman-teman. Sejak SD-ku aku berbakat dalam dunia seni. Akupun sempat memahat tulisan di batu cadas pakai golok. Tulisannya “Tasik Bersinar” itulah tulisannya. Tulisannya simetris dan kurasa tak ada yang bisa menyamai kebagusannya. Pernah ada yang ikutan bikin di sebelahnya. Tulisannya tidak simetris. Waktu itu bisa menilai mana yang simetris, mana yang mengandung seni. Namun sejak SD aku tak tertarik pada dunia olahraga. Kalau orang lain main bola volly, tenis lompat jauh, man bola, aku tak tertarik sama sekali dan malah seringnya pergi ke perpustakaan.

Tapi sewaktu ujian di kelas 6 lompatanku diperhitungkan, baik lompatan jauh maupun loncatan. Kalau tidak ingat aku masih tiga besar. Akupun tak tertarik dengan catur. Tak ada yang mengajarkanku main catur. Hanya dunia akademislah yang sangat menarik bagiku. Dunia seni dan dunia buku. Tidak bagi dunia olahraga. Pokoknya segala permainan. Sekarang saja  suka renang dan bisa renang. Sebelum SD paling jadi penjaga gawang.

Tapi jangan lupa kalau ikut main sepak bola aku termasuk yang punya betis kuat. Aku sering gabret, adu betis dengan temen-teman lawan. Sambil hujan-hujanan beriang-riang gembira main sepakbola. Padahal kasih ibu entah dimana. Karena aku hanya tinggal bersama nenekku. Sewaktu kecilku dulu aku sering tinggal berpindah-pindah tempat. Tak kuingat waktu ibu dan ayahku masih menyatu. Sadar-sadar aku baru tersadar aku tinggal di Uwa-ku. Di uwa Kining yang sekarang sudah meninggal. Uwa Kining meninggalnya tidak normal, tanpa kuburan. Dikatakan ia menghilang sewaktu di kebun. Dikatakan ada yang menculik dan menceburkannya ke sungai.

Aku tinggal di Uwa Kining dengan kakakku yang perempuan.-, aku sering mendengar orang-orang bicara bahwa ibuku di’piceun” oleh ayahku. Mendengar kata “piceun” langsung kumaknai bahwa ibuku dibuang oleh ayahku. Terpikir dibuang ke lubang yang gelap. Karena rumah uwa-ku di lereng bebatuan di mana depannya ada jurang yang dalam dan gelap. Kupikir ibuku sudah meninggal karena dibuang. Aku sering dikasih makan berdua dengan kakakku sepiring berdua. Dikasih makanan Sukro.

Dan ternyata ibuku masih ada. Ketika bulan puasa ibuku datang dan membawaku ke rumah nenekku dari ibu. Ibu berangkat lagi ke Jakarta dan aku disuruh tinggal di Uwa Kamar. Aku dan kakakku yang kedua, aa Dede. Tinggal disana sampai dua tahun. Kalau lebaran aku sering dikasih uang. Dan pas lebaran di masjid dimana masjidnya dekat dengan uwa-ku yang satu lagi, uwa Liyah. Uang pemberian uwa Kamar hilang Rp.250,- Sampai sekarang pun aku sering kehilangan barang-barang milikku. Apakah karakterku sering kehilangan?

Tinggal di rumah Uwa Kamar, sudah ada listrik dari dinamo yang diputar oleh kincir. Kurasa meski di kampung tapi sudah mengenal lampu ciptaan Edison itu. Pulang lagi setelah dua tahun tinggal di uwa Kamar. Tinggal lagi di rumah nenekku. Mungkin karena merepotkan, aku disuruh lagi tinggal di uwa dari pihak bapakku. Giliran selanjutnya tingal di uwa Liyah. Aku diantar oleh kakakku yang tertua. Waktu itu aku hanya dikasih tahu mau minta padi. Tidur semalam dengan kakaku di rumah Uwa Liyah. Besoknya, sore hari katanya kakakku mau pulang dulu. Mereka bilang padaku, nanti ibumu bakal ke sini. Tangisanku yang keras berhenti setelah diberi tahu bahwa ibuku mau ke sini.

Malampun tiba. Aku sangat menunggu kedatangan ibuku. Tapi yang kutunggu tak kunjung datang. Aku menangis sejadi-jadinya, sangat keras sampai mengganggu orang-orang dalam pengajian. Sewaktu kecil begitu seringnya aku menangis. Tak ada yang bisa menghentikan tangisanku. Orang-orang di sekelilingku melihatku yang sedang menangis. Diantara merka ada yang bilang, ini ibu Imas. Meskipun aku masih kecil, aku tahu wajah ibuku sendiri. Hanya setiap tahun ibuku pulang satu kali di saat lebaran. Lalu pergi lagi meninggalkanku, kakakku, familiku. Sampai ketika aku kelas dua caturwulan satu, ibuku tak pulang-pulang. Setahun aku menunggu, dua tahun aku menunggu. Tak kunjung pulang. Sampai aku terbiasa jauh dari ibuku.

Entah berapa lama aku tinggal di uwa Liyah. Kuingat aku tinggal lagi di kota, di bibi Ayi, di Gunung Cicau sampai menjelang aku dimasukkan ke sekolah SD. Kuingat setiap pagi aku makan bubur. Kalau ibuku ke sana menengokku, ingatnya aku sering dimarah-marahi ibuku. Ia bilang padaku, ‘Ka Bapak Sia’, begitu katanya. Aku hanya diam karena tak tahu apa-apa. Bibiku, bi Ayisah hanya menenangkanku. Ia bilang, ‘Sudahlah Jang’. Bibiku berkata begitu sangat sayang padaku. Di Tasik aku hanya main dengan sepupuku, Rina, Nia dan Ela, puterinya bibi Ayisah yang semuanya perempuan. Tidur dan mandipun bareng-bareng, kami berjingkrak-jingkrakan.

Tempat mainku adalah bengkel. Disana ada rangka mobil yang setiap hari kukunjungi. Aku sering muter-muter setir mobil waktu itu. Akupun sering mencoret-coret tembok, menuliskan sesuatu, meniru tulisan yang kulihat di box kardus. Bibiku sering memujiku dan mengatakan ke ibuku bahwa saatnya aku masuk sekolah. Di bengkel aku sering menunggu sepupu Nia pulang sekolah TK dan main apa saja bersama.

Pernah juga aku tinggal di Gobras, bersama kakakku. Semua tinggal di ibu tiriku yang galak. Di sana aku sering main ke sawah, mengejar layang-layang bersama kakakku. Akhirnya ibuku menjemput kami. Sewaktu ibuku menikah dengan pensiunan kepala sekolah. Aku dan ibuku tinggal di Selaawi. Aku tak tahu di sebelah mana kota Tasik Selaawi itu. Aku tak tahu di sebelah mana kota Tasik. Jikapun kutelusuri sekarang, pasti keadaannya sudah berubah.

Dalam jarak sampai usia 7 tahun, aku tinggal berpindah-pindah. Yang kuingat aku pernah tinggal di Uwa Kining, Uwa Kamar, Uwa Liyah, Bibi Ayi, dengan ibu tiriku. Semuanya telah membawa kenangan. Manis ataupun pahit aku tinggal di di lima tempat sebelum SD. Terakhir hanya tinggal di bibiku. Setelah bibiku tahu bahwa aku selalu ingin belajar menulis. Aku pulang ke kampung dan didaftarkan ke SD Tawang Dua. Caturwulan kedua aku ranking dua. Berarti aku termasuk anak cerdas.

Memang aku selalu berprestasi. Kuurutkan rangkingku dari kelas satu sampai kelas enam, caturwulan satu, dua dan tiga. Masih kuingat aku rangking dua, satu, satu ketika kelas satu. Kelas dua aku rangking dua, satu dan satu. Kelas tiga rangking dua, dua dan tiga. Kelas empat rangking dua satu satu. Kelas lima rangking satu satu dan satu. Dan kelas enam rangking satu satu dan satu. Pertama kali menerima hadiah membuatku terbengong. Aku diam saja ketika dipanggil namanya. Setelah melihat yang rangking dua tiga ke depan akupun ke depan. Aku belum tahu bahwa yang ke depan itu akan mendapat hadiah.

Pertama kalinya pula aku menerima hadiah juara kerapihan di kelas lima. Sejak kelas satu sampai kelas empat aku selalu berkaki telanjang, tapi di kelas lima aku menjadi juara kerapihan. Kupikir ini sebuah kemustahilan dan waliguru-nya saja yang terlalu baik padaku. Aku baru kelas dua saja sesekali pake sandal jepit. Sejak kelas empat caturwulan dua aku baru bisa merasakan memakai sepatu pemberian kakakku. Diberi baju pun hanya setahun sekali saat lebaran oleh ayahku. Sejak kelas empat ayahku tak pernah lagi memberiku baju baru lagi di saat lebaran. Dan bahkan tak datang lagi kalau lebaran.

Sampai ketika bertemu lagi, ayahku sudah tak mengenaliku lagi. Begitupun ibuku setelah enam tahun tak bertemu, ibuku tak mengenaliku. Keduanya pernah bertanya di saat bertemu, “Ini anak Siapa”. Sewaktu kedatangan ibuku setelah sekian lama tak pulang, orang-orang berdatangan dan bilang, ‘seperti orang meninggal, lalu bangun lagi. Tak menyangka akan bertemu lagi mereka dengan ibuku.

Lalu oleh kepala sekolah SD aku didaftarkan masuk SMP. SMP yang cukup dekat karena baru ada dua angkatan. Aku termasuk siswa yang banyak diceritakan. Dapat dikatakan jadi idola, begitu sombong ceritanya. Seorang aku selain ganteng, pintar dan murid teladan. Dan gaya rambutku, gaya Andy Lau, orang bilang begitu. Kuingat aku dijodohkan dengan siswi yang menurutku cantik juga. Namanya Nita. Ketua OSIS sering menjodoh-jodohkan aku dengannya. Teringat, sebenarnya ketemu dia bukan yang pertama kali. Sewaktu diadakan murid teladan, oleh kepala sekolah aku diajak ke kecamatan. Tadinya wakil dari sekolahku aku mau dengan Lusi Wulansari. Tapi jadinya dengan Euis Marlina.

Di bus, aku melihat dia, perempuan yang kujumpa lagi di SMP. Akupun terpana melihat kecantikannya. Di kecamatan pun ia sering dan terus-menerus melihatku dan beradu pandang. Apakah ada yang aneh denganku. Dan tak kusangka aku bisa bertemu lagi dengannya di SMP. Sebenarnya aku sangat memuji kecantikannya. Kuakui ia memang sangat cantik. Sewaktu aku masih SMU di Cimahi kutahu bahwa ia telah menikah.

Namun sebelum ketemu Nita-pun aku sering dijodoh-jodohkan sama Euis. Pernah suatu ketika temenku, Yusuf menyuruhku menulis surat cinta. Pertama kalinya aku menulis surat cinta. Tanpa sepengetahuanku, ternyata surat itu ia berikan ke dia. Kulihat ketika ia menerimanya, langsung ia masukan ke dalam tas kenangan sewaktu ia ikut lomba murid teladan di Bandung. Aku terus dijodoh-jodohkan dengan dia, sampai pertemanan dengannya jadi berjarak. Ketika liburan panjang aku sering merasakan rindu untuk bertemu. Hanya bisa terobati seminggu sekali kalau ada jadwal bersih-bersih kelas. Memang kami diharuskan setiap hari bersih-bersih di sekolah. Berdasarkan urutan kelas untuk datang ke sekolah, bersih-bersih halaman sekolah. Sejak kecil kami sudah diajarkan kebersihan. Tapi ternyata ia jarang datang. Rindupun tak terobati.

Aku pun berpisah setelah lulus. Dan ia lebih memilih masuk ke MTs di Parigi Ciamis. Kuingat kalau aku main ke pasar aku sering mengamati rumahnya. Kebetulan rumahnya di pinggir jalan dan dilewati oleh tumpanganku. Setelah lulus tak ketemu lagi sampai enam tahun lamanya. Enam tahun kemudian, ketika aku mau lulus SMU aku baru bisa bertemu kembali. Banyak cerita dan ia makin dewasa. Dia bercita-cita ingin masuk ke UGM. Tak tahu apakah ia masuk atau tidak.

Ia berkata padaku, “Sawah masih terbentang luas, kita harus bisa mengelohnya dengan baik”. Dan baru terpikir olehku sekarang, dalam pikiran masih kecil ia sangat ingin membangun daerahnya. Sedangkan aku saat itu, aku ingin menjelajahi dunia, menjadi orang metropolis. Aku ingin menjadi manusia modern, bukan anak kampungan. Aku ingin jadi artis, jadi orang terkenal, yang bisa terpampang di majalah dan tv.

Kudengar kabar dari orang-orang katanya ia kuliah di Yogya. Entah di UGM sebagaimana cita-citanya, atau dimana. Apakah sekarang ia telah menikah. Entahlah. Mungkin itulah cinta moyet pertamaku. Gejolak kelaki-lakianku telah muncul sejak SD bahkan dari kelas satu. Jangankan SD, waktu bayipun tangan bayi sering memain-mainkan alat kelaminnya berarti naluri seknya sudah tumbuh, begitu ungkap Freud. Setelah berpisah dengannya, aku jadi tertarik dengan temanku satu lagi. Lusi, temen dia juga. Karena memang aku dengannya sekelas di SMP. SD dan SMP aku sekelas dengannya. Lusi Wulansari. Sekarang dia sudah menikah dan sudah punya anak dua. Aku sangat dekat dengannya. Sampai orang-orang menyangka aku ada hubungan khusus dengannya. Meskipun dia sudah pacaran dengan pemuda di kampung kami, Atep namanya. Tapi ketika mereka pacaran aku sering diajak diminta untuk mengantarnya.

Terlalu banyak kenangan bersamanya. Sewaktu naik bus bareng, berangkat bareng, mengambil beasiswa di Kantor Pos Cikatomas. Dan sering membuat naluri kelaki-lakianku muncul saking dekat dengannya. Satu kenangan indah di suatu malam yang tak akan terlupakan, di acara pelantikan anak baru.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori