Oleh: Kyan | 24/02/2007

Dengan Ketua Jurusan di Rumah Legit

Sabtu, 24 Februari 2007

Dengan Ketua Jurusan di Rumah Legit

**

Kuraba leherku, panas sekali. Sekujur tubuhku serasa disimpan di atas bara api. Hangat tapi menusuk. Akan sakit apa aku ini. Kalau aku sakit bakal merepotkan orang-orang. Hidup di kosan, setiap orang punya urusan masing-masing. Aku tak boleh sakit. Aku harus sembuh. Kuingat kembali apa yang kulakukan kemarin-kemarin. Aku tak kemana-mana. Cuma makanku gak teratur. Dua hari makan cuma makan mie. Adakah kaitannya dengan panasku yang meninggi ini. Aku tak ingin merepotkan orang-orang. Aku akan sembuh. Aku akan baik-baik saja. Tak perlu khawatir.

Terus-menerus menulis tiada henti. Dalam satu hari aku mampu menulis sepuluh halaman, meskipun yang kutulis apa saja dan tak teratur. Asalkan banyak waktu luang, aku akan mampu menulis sepuluh halaman sehari. Mau baca enam jam sehari akupun mampu. Masalahnya tersediakah waktunya. Tersedia soal tersedia bergantung pada diri sendiri akan menyempatkannya atau tidak. Aku sebagai anak kuliah, selain membaca dan menulis masih banyak kewajibanku yang harus kulakukan. Pergi ke kampus, mengerjakan tugas, menerima orderan, dimana itu sangat menyita waktu.

Kubagi-bagi waktu kemanapun harus selalu membawa buku bacaan dan catatan harian. Kalau ada waktu luang harus kugunakan untuk membaca atau menulis. Harus dibuat target. Membaca enam jam dan menulis 10 halaman setiap hari. Semoga waktunya bisa kubagi-bagikan. Bisa gak aku fokus dalam menuju tujuan. Aku harus mempercepat langkahku, mempercepat tulisanku. Jam sudah menunjukkan 11.30 jam 12.30 mau ada pertemuan di Warung Nasi Legit dengan Pak Anton. Setelah berhasil menulis sepuluh halaman dan datangya Aril ke kosanku, aku menyudahi tulisanku. Aku langsung mengambil handuk dan sabun.

Adzan duhur berkumandang. Aku salat di kosan saja sambil menunggu Neng Titin. Rencananya aku, Aril dan Neng Titin yang akan pergi ke sana. Usai salat masih tak kunjung datang, akhirnya kususul dia ke kosannya. Ibu kosan bilang dia masih salat. Aku pergi lagi saja mau kutunggu saja di kosan. Tak lama kemudian dia datang. Sementara cacing di perutku sudah tak tahan menunggu suplai makanan. Sudah jam 12.30 lebih lebih baik terlambat daripada tidak datang sama sekali. Kami pun jalan menuju Warung Nasi Legit. Karena tempatnya dekat Borma, bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Kubuka handphone. Tak terdengar ada panggilan dari pak Anton berulang kali. Ini kebiasaan telat. Sampai disana celingak-celinguk kok sepi. Kosong, senyap. Kuberanikan masuk ke dalam kesunyian ruangan. Kulihat dari dekat pintu. Dadang dan pak Anton sedang asyiknya mengobrol di saung lesehan. Kupikir makan disini sangat mahal. Sebuah pertemuan tidak formal, tidak jua tidak formal harus bisa menempatkan diri. Pembicaraan terfokus pada tanggapan demo di kampus ketika hari registrasi.

Dibumbui pembicaraan lainnya. Beliau memaparkan falsafah jalannya kereta api untuk menganalogikan organisasi. Siapapun pemimpin, masinisnya siapapun asalkan ia mengerti sinyal-sinyal kapan saatnya berhenti dan berjalan. Karena sudah ada sistem, rel yang membuat organisasi, kereta itu dapat berjalan dengan lancar.

Orang-orang dalam organisasi adalah impersonal. Jangan terfokus selalu pada personalnya. Beliau pun berkata buat apa cari uang di kampus. Kalau cari uang lebih baik usaha di luar atau menulis artikel atau menulis buku. Satu artikel Rp 300.000,- empat artikel bisa satu juta lebih. Cuma bagaimana aku bisa menulis, sejak SMU, apalagi SMP aku tidak diajarkan bagaimana menulis karya ilmiah. Mana bisa. Ketika di SMP, tak ada ruang perpustakaan. Aku tak mengenal took buku. Aku tak mengenal komik, cerpen, novel, puisi dan aneka jenis tulisan lainnya. Oleh guru bahasa Indonesia tak diajarkan ragam karya ilmiah. Maklum SMP aku di kampung dan baru berdiri dua tahun ketika aku masuk. Malahan sewaktu kelas satu, gedungnya masih numpang di SD. Kelas dua baru gedung SMP yang sudah dibangun selama tiga tahun baru rampung yang letaknya di dataran miring.

Maklum didaerahku georafis tanahnya bergunung-gungung. Jarang ada tanah datar luas. Untuk seukuran SMP di kampungku aku termsuk murid yang mencuat. Selama tiga tahun aku selalu juara pertama dan juara umum. NEM-ku saja paling tinggi lima angka diatas tertinggi kedua. Nilai STTB tertinggi. Nilai raport tertinggi. Kepala sekolah pun memuji prestasiku, memuji kecerdasanku. Dan beliau sangat menginginkan aku sekolah di Tasik. Cuma kakakku ingin aku sekolah di Bandung. Aku pun ingin mencoba dunia asing. Aku sebagai anak kampung, pendiam, jarang gaul dikampungnya harus mengembara di kota asing yang tiada satu keluarga pun yang menjadi sanak familiku. Dasar sudah takdir semua harus kujalani apa adanya.

   Ketika di kamar kos aku sendirian. Tanpa sengaja air mata bercucuran ingat pada  ibuku dan bapakku. Ibuku pernah sekali dua kali i meneleponku dan ibu banyak tertawa. Ku angagap waktu itu ibu tidak sayang padaku. Selama tiga tahun disana bapakku parnah dua kali mengunjungiku, memeberikan uang seadanya. Maklum bapakku tidak bekerja. Sebagai sorang pengangguran, mendapatkan uang dari mana saja jalannya. Pernah juga saudara sepupuku, ketika mau ke Batam singgah dulu ke tempatku. Dia banyak bercerita ke bapak kosku tentangku apa adanya. Tentang masa lalu yang ditinggal ibu ayah bertahun-tahun. Bapak kosku sedikit simpati padaku.

Masa SMU yang masih labil, setelah diberi kosan sebagai tempat tinggal, kakakku pergi begitu aja. Mungkin ia sengaja biar aku menjadi dewasa. Aku sering kena marah, karena aku dianggap pemboros.  Katanya uang yang diberikan dari ibu sering aku habiskan. Padahal aku hanya membeli makan dan pakaian, tidak lebih. Maklum masa SMU adalah masa labil yang selalu ingin mengikuti tren, membebek. Karena aku ingin diakui dihadapan teman-temanku. Aku tak ingin dianggap kampungan terus.

Mungkin aku sering membeli buku, dan dia sangat marah karena buku yang kubeli menurutnya tidak perlu-perlu amat. Bukan kenapa karena aku ingin membacanya. Sampai sekarangpun gak tau kenapa doyan beli buku terus. Karena aku ingin meluaskan cakrawala berpikirku, membuka tabir tempurung otakku. Aku ingin ada penuntun. Kurasa tak ada yang membimbingku tentang mana yang boleh dan tidak boleh. Apa yang mesti kujalani, tak ada yang menunjukku. Aku pun tak mengerti kenapa harus dari buku. Karena aku ingin buku. Naluriku berkata buku, hanyalah buku. Begitu terpincut, terpesona dengan buku.Terkadang aku berpikir buku yang dibaca cuma sekali, apa yang telah ku dapatkan dari buku. Tak tau sadar atau tidak sadar tak tahu apa yang kudapatkan. Aku hanya ingin mengikuti kehendak hatiku. Aku ingin bebas melakukan apa saja tanpa ada yang menghalangi, siapa pun itu. Aku ingin bebas menuju arah yang lebih baik.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori