Oleh: Kyan | 26/02/2007

Perkawinan Islam dan Sunda

Senin, 26 Februari 2007

Perkawinan Islam dan Sunda

**

Setelah beberapa minggu aku tak jalan-jalan ke Manglayang, di hari libur kemarin aku, Aril, dan Ahmad main ke Manglayang. Sampai disana orang-orang semakin berjubel memenuhi pasar dadakan di hari Minggu di kaki gunung Manglayang. Orang yang berdagang semakin hari semakin bertambah. Pasar semakin sesak, orang-orang susah bergerak. Antrian panjang di mana-mana, semangat berdagang orang begitu tinggi. Tapi kenapa menurut data angka kemiskinan masih tinggi. Setiap hari mencari nafkah, tapi yang didapat hanya cukup untuk makan sehari. Entah untuk besok mungkin karena yang diperdagangkan adalah barang-barang produksi luar negeri dan tidak menguasai manajemen yang baik.

Aku sebagai anak manajemen sudahkah menerapkan ilmu manajemen yang telah kupelajari. Menerapkan POAC masih belum optimal. Aku sudah planning ingin segera menyelesaikan kuliah, ingin jadi penulis, ingin jago Bahasa Inggris, ingin kuliah ke luar negeri. Apakah aku sudah melakukan langkah-langkah, sudah diorganisasikan atau belum, dilakukan tidak dengan langkah-langkah kecilnya, sudah belum dievaluasi? Mudah-mudahan tanpa sadar aku telah melakukan langkah manajemen dalam mengorganisasikan hidupku. Masa gak ada yang tercerap sih dari kuliah Manajemen.

Kami terus berjalan sampai ke atas jalanan terjal. Tapi tidak sampai titik sebagaimana aku dulu berjalan sendirian sampai ke atas lebih. Asyiknya berjalan gontai sendiri. Rupanya Aril sudah lelah, maka diakhirilah pendakian. Sebelum turun lagi kami sempat duduk-duduk dulu. Sambil memperbincangkan masa lalu, masa penjajahan Belanda dan Jepang. Dari pelajaran sejarah diketahui bahwa Belanda telah menjajah selama 350 tahun. Begitu lamanya dan ada berapa generasi nenek moyang kita hidup dalam jarak selama itu. Tujuh generasi lebih. Tujuh generasi dalam masa penjajahan.

Perjuangan yang tak kunjung selesai. Sampai akhirnya masih banyak orang-orang, mungkin termasuk aku masih bermental disuruh-suruh, mental terjajah. Nurut panut pada perintah. Bukan nenek moyang kita tidak melawan. Tapi kemodrenan di Eropa sudah berjalan lama. Mereka sudah menghasilkan teknologi untuk kolonialisme. Mereka membuat senjata. Harta kekayaan dikeruk habis-habisan. Bahkan sampai sekarang pun masih terus dieksploitasi. Memang tidak salah saling memberi kemanfaatan. Kekayaan alam ada untuk seluruh umat manusia. Tapi pembagiannya harus adil. Ada sistem kepemilikan. Bumi yang diinjak itulah harta kekayaannya. Tapi percuma kalau gak bisa memanfaatkannya. Tak salah-salah amat jika ada yang lebih dulu memanfaatkannya. Meskipun dengan cara paksa sebagai penjajah.

Maka belajarlah dengan sungguh-sungguh untuk dapat memakmurkan kekayaan bumi Nusantara. Hari ini adalah hari pertama kuliah semester enam. Semester terakhir program D3 MKS. Pagi-pagi aku masih santai di kosan. Aku masih jongjon menulis. Soalnya daripada di kampus banyak ngomong ini dan itu, lebih baik kukerjakan tugas pribadiku. Masih banyak hal-hal yang ingin kutulis. Namun menulisku terhenti ketika Neng Titin meneleponku. Aku segera mandi dan pergi ke kampus. Dadang memberitahuku tadi anak semeser enam masuk kuliah Manajemen Waqaf. Pas sampai di kampus, ternyata sudah selesai kuliahnya. Hari pertama aku sudah tak ikut kuliah.

Lalu aku ke gedung fakultas, di sana sudah banyak orang-orang berjibun ingin melihat nilai. Ketika sedang mengamati papan pengumuman, ada suara memanggil namaku. Saudaranya Uly, Nik menyapaku dan bertanya besok kuliah jam berapa. Jawabannya kutunjukkan ini jadwalnya. Karena hari ini ada seminar budaya aku segera ke sana ke gedung Aula. Di jalan ketemu Aceng, ternyata Aril Dudi dan Sani menyusul. Akhirnya kami berempat pergi ke Aula. Banyak makanan khas tradisional. Dengan antri kuambil setiap jenis makanan. Tak lama kemudian seminar dimulai dengan empat pembicara.

Membicarakan tentang budaya Sunda sangat mengasyikan. Dikatakan bahwa Sunda itu mengandung pengertian, “nyampurnakeun campurna nu geus pacampur”. Apakah tradisi kemenyan dianggap musrik. Mereka berpandangan pada rasa dari setiap pragmen-pragmen budaya. Sama seperti umat Islam mencium Hajar Aswad dan menghadap Kabah. Apakah itu perbuatan musyrik. Aku adalah benda, lalu tumbuhan, lalu hewan dan menjadilah manusia. Ini teori Evolusi yang tergambar dari puisi Rumi. Apakah ada kesamaan atau titik temu antara teori Darwin dengan Rumi?

Saatnya mengawinkan antara Islam dan Sunda. Katanya agama berarti “ageman”, harus ditingkah polah. Falsafah Sunda itu begitu tinggi. Dalam falsafah Sunda bahwa setiap benda memiliki ruh. Nenek moyang Sunda sangat menghargai setiap benda. Hutan dipelihara. Maka membakar kemenyan itu sebagai tanda syukur, cermin diri untuk tidak mengambil secara berlebih dari yang diperlukan. Karena apa yang kita gunakan dan pakai ada padanya untuk generasi selanjutnya.

Begitu menarik mengkaji lebih lanjut tentang kebudayaan Sunda.  Menggali Filsafat Sunda, menggali sisi-sisi universalitasnya untuk rahmat alam semesta. Perkawinan Islam dan Melayu, khususnya Sunda belum mencapai kegemilangannya. Islam dan Persia ada islam syIah. Islam dan Turki ada Turki Utsmani. Islam dan India ada Mughal dan negara Pakistan. Islam dan Melayu, Islam dan Sunda insya Allah akan menciptakan peradaban Islam baru, identias baru.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori