Oleh: Kyan | 28/02/2007

Belajar Dari Pak Navis

Rabu, 28 Februari 2007

 Belajar Dari Pak Navis

**

Baru hari ini anak-anak pada ngumpul lagi setelah masa liburan semester lima. Selama dua hari kemarin gak pada datang meskipun kuliah sudah dimulai. Permasalahan baru muncul. Tugas baru telah datang. Selalu kurasakan terhimpit beban. Kupikir ingin kuhilangkan beban hidup. Namun selalu terlingkupi oleh beban yang bertubi-tubi. Masalah yang bertubi-tubi menjadikan stress. Aku sering terlihat murung ingin sendiri. Selalu ada gangguan. Ingin merenungkan perjalanan, tidak sempat menulis. Aku marah kalau waktu untuk membaca dan menulis  diganggu. Mestinya teman-temanku tahu waktu, kapan saatnya berkunjung ke kosan teman. Aku mempunyai cita-cita yang mana cita-cita itu harus kuperjuangkan. Aku harus bekerja keras, kerja cerdas. Tak mudah mendaki tahapan-tahapan untuk meraih cita-cita tersebut.

Untuk menulis, pak AA Navis juga bilang sangat sulit. Beliau memulai menekuni sastra sejak usia 26 tahun. Tapi beliau bisa menelurkan karya gemilang. Akupun tak boleh putus asa. Aku bisa melakukan apa yang kuinginkan. Aku bisa menjadi karyawan teladan, wirausahawan yang sukses, dan penulis produktif. Kupikir lingkungan dan keadaan tidak mendukung pada realisasi cita-cita tersebut. Tapi aku tak boleh berputus asa. Aku bisa menjadi seseorang sebagaimana yang aku cita-citakan. Aku harus optimis. Aku optimis dan kusadari perjalananya panjang.

Badan masih terasa panas. Dua hari mandi pakai air hangat terasa segar dan menyegarkan. Kepalaku pusing dan badanku menggigil. Aku pergi  ke apotik membeli obat cacing Combantrin Rp. 8.000,- Ternyata sehat itu mahal. Maka harus senantiasa kusyukuri nikmat sehat itu. Waktu sehat waktu luang harus kugunakan untuk hal bermanfaat dan optimal. Makanya aku sering membaca karena hanya dengan membaca membuat waktu menjadi bermanfaat. Meskipun masih dianggap bodoh biarlah. Aku selalu merasa bodoh dan tak punya keunggulan. Aku selalu dipenuhi dengan rasa minder dan untuk menghilangkannya aku bertindak hiperaktif. Aku memperlihatkan sikap percaya diri, padahal sebenarnya tidak pede. Apakah aku membohongi diri.

Aku selalu dilanda kerisauan dan kegundahan. Aku stress. Makanya terlihat lebih tua dari usiaanya. Badanku makin kurus karena jarang makan. Ternyata miskin itu tidak enak. Banyak hal yang kubutuhkan tidak terpenuhi. Sejak kecil sangat miskin.  Miskin harta dan kasih sayang. Tapi sampai juga disini menginjak di perguruan tinggi di kota besar. Sampai kapan pengembaraanku selesai. Mungkin tak akan pernah selesai.

Kuliah hanya berlima. Aku, Aril, Sani, Yedi dan Puri. Kuliah modal Ventura dan Praktik Akuntansi Keuangan. Setiap semester selalu ada mata kuliah yang menyinggung Business Plan. Aku tetap ingin punya toko buku dan cafetaria. Ingin sekali merealisasikannya. Tapi aku selalu berpikir kembali profitabilitaskah dengan usaha itu. Apakah akan mendapatkan keuntungan besar. Mungkin cafenya yang harus ditonjolkan. Bagaimana memulai usaha café. Bisakah aku. Aku harus menoba menjelajahi bebarepa café, supaya tahu café itu seperti apa. Ini mau buka café tapi tak pernah kongkow di kafe.

Selalu kupikir makan di café itu sangat mahal. Apa salahnya ngemodal sedikit untuk survei usaha atau studi banding. Jikapun aku nanti bekerja di lembaga keuangan syariah, aku bisa menjalankan usaha tersebut. Dan profesiku juga sebagai penulis produktif. Semestinya satu-satu harus sejak sekarang dimulai. Sekarang sedang berjuang keras untuk bisa menuils. Aku telah membuka taman bacaan dan warung kecil-kecilan sebagai permulaan cafe. Menyediakan aneka jenis minuman dan makanan kecil. Dan untuk bekerja di lembaga keuangan, sekarang sedang kuliah di manajemen keuangan yang sebentar lagi lulus. Ya Allah, semoga aku bisa merealisasikannya.

Aku pulang dan sempat nongkrong sebentar di depan Aula. Ingin ikut menghadiri pagelaran Seni. Tapi kupikir aku harus ke Borma mau mengecek ATM. Aku sudah tak punya uang lagi. Aku sudah punya utang. Usaha dari rental, suka tak berani menentukan besar tarif. Lagian ke teman sendiri. Malahan banyak yang ikut mengetik gak bayar. Harus maklum aku selalu defisit akan financial mestinya mereka pada bayar. Aku gak bisa tegas. Semoga saja menjadi kebaikan. Tapi apakah aku selalu terjajah. Menjajah dan terjajah akan selalu ada sepanjang manusia hidup. Apakah yang terjajah disebut kalah. Apa salahnya mengalah untuk menang. Bila tertindas terus nanti juga akan menuai kemenangan.

Aku yakin di bumi ini terdapat keadilan. Akan tegak keadilan di muka bumi ini. Aku selalu merasa mengalah terhadap setiap hal. Tapi sisi lain pula sering aku disebut egois. Mungkin aku disebut egois dalam argumen. Aku ingin selalu menunjukkan argumen yang kuat, yang kuyakini benar. Selalu dianggap aku bersikap egois. Sesekali ingin kutnjukkan aku ini unggul. Aku bisa menang. Aku bisa memuntahkan kemarahan yang tak tertahankan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori