Oleh: Kyan | 31/03/2007

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Hamka - Tenggelam Kapal

Hamka – Tenggelam Kapal

Setelah seminggu kubaca baru setengahnya, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk-nya Hamka malam ini tamatlah sudah. Cerita setengahnya sepertinya telah aku lalui sampai saat ini. Akankah sama nantinya kisah selanjutnya dalam kisah hidupku dengan lanjutan novel itu. Serasa mendapat pijakan hidup dari novel itu untuk aku melangkah. Biarlah kekecewaan pertama, hasilnya akan bahagia pada akhirnya, pada waktunya.

Setelah dikecewakan aku harus bangkit. Kutekuni dunia tulis-menulis. Bisakah aku jadi penulis handal, pengarang yang terkenal atau pembisnis yang sukses. Aku telah punya banyak bahan untuk membuat cerita. Tentang kedukaan semasa kecil, bagaimana lilitan kemiskinan, dan dikecewakan oleh seorang perempuan. Lantas bagaimana merangkai detil ceritanya. Bagaimana deskripsi dan seting cerita dalam menuangkan kisah pribadi menjadi sebuah novel yang layak dibaca dan pembaca dapat mengambil sisi-sisi positifnya dari cerita yang amat pribadi ini.

Cerita yang amat pribadi dipublikasikan, yang semestinya jadi penghuni laci catatan harian, apakah nanti hanya jadi bahan olok-olokan bahwa aku seorang yang cengeng? Tapi bila hati telah dikecewakan haruslah pandai mencari untuk membuang perasaan, berusahalah mencari cara untuk menunjukkan di hadapan perempuan yang telah mengecewakan itu.

Tunjukkan bahwa kita tidak mati lantaran dibunuhnya. Bahwa kita masih hidup, masih sanggup tegak berdiri dengan kokoh tanpa perlu topangan. Bilamana gagal di bidang percintaan janganlah gagal di bidang lain. Bila juga gagal dalam karir pekerjaan tapi janganlah gagal dalam karir kemanusiaan.

Lihatlah orang-orang besar yang kalah dalam percintaan, lantaran kekalahan itu dia ambil jalan lain. Dia maju dalam politik, dalam mengarang syair, mengarang buku, dalam perjuangan hidupnya sehingga naik ke puncak yang tinggi sebagai mercusuar yang penuh masyhur. Perempuan yang telah mengecewakannya itu wajib melihatnya dengan menegadah dari bawah, dengan sedikit muncul rasa sesal.

Memang cerita cinta melulu begitu. Cerita yang sudah ditulis hampir sama dengan cerita para pengarang besar seperti Hamka dan Gibran. Hamka yang bercerita Hayati dan Zainudin, lalu Gibran dalam Sayap-sayap Patah bercerita seorang Gibran dengan Selma. Sementara baru-baru ini Ayat-ayat cinta memasyhurkan Habiburrahman El-Syirazi.

Tapi aku harus bisa menuliskan cerita cinta dari sisi lain. Kisah cinta benar tak akan lekang oleh zaman. Akan tetapi pandailah mencari sisi yang lain. Kisah lama harus selalu mengalami kebaruan dengan gaya berbeda. Meskipun cintanya hampir tak berbeda misalnya antara Ayat-ayat Cinta dengan kisah cinta dalam Catatan Si Boy sebagai lelaki yang dikelilingi banyak wanita. Bagaimana Boy anak seorang pengusaha, ia rajin salat alias STMJ, salat terus maksiat jalan menciumi perempuan, sementara Fahri yang begitu agamis semoga jadi idola baru katanya.

Tapi aku akan terus menekuni dunia tulis-menulis dan bisnis. Semoga saja aku mampu melakukannya, menjalaninya, dan melewatinya. Amin. Semoga saja aku dapat angin baru dalam menjelajahi jalan berliku ini. Tentang bagaimana menuangkan kisah pribadi jadi sebuah cerita yang layak dibaca, mungkin saja alurnya sama seperti novel ini. Sebab dipikir-pikir seringkali hampir sama alurnya semua cerita cinta yang kecewa.

Wajar pula aku sebagai orang baru akan menjajaki sebagai pemula. Sekaliber Hamka oleh Pram novel ini dianggap plagiat dari novelis Perancis atau sastrawan Mesir. Tapi entah Hamka mengambil referensi yang mana, pada yang kedua atau langsung pada yang pertama. Begitu pula puisi-puisi Chairil ada sebagian dianggap plagiat oleh rekan sezamannya. Begitu pula kalau nanti ceritaku hampir sama dengan Sayap-Sayap Patah misalnya.

Menulis novel tak perlu rumit. Novel ini bercerita tokoh lelaki bernama Zainudin, dan tokoh perempuan namanya Hayati, serta tokoh pembantu bernama Azis, sebagai lelaki pilihan Hayati. Begitu sederhana cerita yang berpusat di antara tiga tokoh tadi. Tentang kenapa Hayati lebih memilih Aziz sebagai lelaki pilihannya. Kenapa Hayati tidak memilih Zainuddin. Kalau itu ditanyakan pada perempuan mungkin akan berbeda-beda jawabannya dan betapa sakit menjadi lelaki bukan pilihan.

Buat Hayati dalam menilai Zainuddin mungkin karena Zainuddin melankolis dan miskin seperti dirinya. Meskipun Hayati sudah berjanji padanya untuk sehidup secinta, tapi namanya orang hidup susah sering lupa pada sebuah janji apakah pernah ia berjanji. Di saat orang hidup yang perih, yang prinsipil sering pula ditanggalkan dan lebih memilih yang praktis-praktis saja.

Bukan cuma perempuan yang suka inkar janji. Tapi selama manusia punya mulut untuk bicara, suatu ketika sering kita lupa sudah bicara apa sesudahnya. Tak perlu menunggu berbulan-bulan sampai tahunan, kadang kita lupa sedetik selesai kita bicara. Tapi selama masih ada cinta di antara manusia, akan selalu ada kata maaf bagi mantan kekasihnya.

Selama manusia hidup dan adanya dunia, cinta akan selalu ada untuk dapat saling menumbuhkan, bukan saling menghancurkan, meskipun tak lagi dipersatukan dalam mahligai pernikahan. Dari tempat jauh pada orang yang dikenal semoga saling mendoakan untuk hidup yang lebih lapang. Biarlah masa lalu sebagai masa lalu sebagai jejak yang dikenangkan bagi orang kemudian.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori