Oleh: Kyan | 14/11/2008

Pramis

Seorang Pram–nama pendek dari Pramoedya Ananta Toer–telah jadi guruku, seorang guru yang aku temui melalui tulisan-tulisannya. Setiap informasi mengenai Pram ingin kubaca. Diceritakan Pram pernah bekerja sebagai juru ketik, sebab itulah ia cakap menulis. Ia rajin mendokumentasikan data-data historis.

Pram - Saya Terbakar

Pram, “Saya Terbakar Amarah Sendirian”.

Tulisan beliau telah menggerakkan pikiranku untuk mencintai Indonesia, yang pada mulanya nama Indonesia tak begitu menjadi fokus pikiranku. Sebelumnya rasa ketertarikanku hanya pada Islam, pada segala hal yang berkait Islam ingin hidup kuorientasikan. Dan sekarang aku kawinkan dengan Indonesia yang dikenalkan Pram. Maka sekarang adalah caraku: bagaimana Islam-ku bisa memberikan sesuatu bagi Indonesia. Tidak membentur-benturkan antara Islam dan Indonesia.

Pram yang pernah berivalitas dengan Buya Hamka semasa gejolak 65, tapi dengan cara ke-jawaan-nya ia selanjutnya berani meminta maaf. Dikatakan oleh Taufik Ismail, Pram begitu semangat menyambut islah apa yang pernah terjadi di masa kelam “perang saudara” bangsa Indonesia. Bagi Buya Hamka, landasan Pram adalah cinta. Ia seorang yang sendiri, seorang yang individualis, seorang yang berkarakter, Pramis.

Dan menurut Pram bahwa bangsa ini masih belum punya karakter. Setelah kita meraih kemerdekaan, Soekarno (Pram memang pengagum Bung Karno) ingin membangun karakter terlebih dahulu—berivalitas dengan Bung Hatta yang hendak membangun ekonomi melalui gagasannya dalam koperasi.

Cerita Zaim Uchrowi di masa dulu bercerita kenapa Bung Karno memenjarakan Koes Ploes yang beraliran The Beatle itu. Karena The Beatle adalah representasi corak Barat, sebagai bagian dari neo-imperialisme yang Bung Karno tidak ingin generasi bangsanya ikut-ikutan. Tidak sedikit-sedikit mengikut budaya asing yang belum tentu cocok bagi pembangunan karakter bangsa. Tapi karakter bangsa harus terbangun di atas budaya bangsanya, dan produk budayanya ialah menyebut di antaranya: wayang, kecapi, suling, gamelan, angklung, dan bermacam rupa hiburan yang telah memasyarakat—tapi sekarang aku malah belajar main biola. Bukankah biola adalah representasi budaya “impor”? Tapi harus bagimana lagi. Aku ingin belajar suling, tak ada yang mengajarkannya, juga tak ada buku panduannya. Untuk latihan biola ada buku dan audio-video panduannya.

Tapi “character building” di masa Bung Karno urung diteruskan, keburu dikudeta militer yang membawa negara hanya terorientasi pada perselisihan. Atau mungkin memang sudah saatnya generasi tua alamiahnya akan tersisihkan, generasi muda harus menggantikan, atau meminjam bahasa galaknya Soe Hok Gie, “generasi (muda) kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau”.

Namun sisi lain dikatakan dalam “Nirbaya”, catatan harian Mochtar Lubis, mengapa sampai akhir hayat Mochtar Lubis sampai ia tidak mau memaafkan Pram. Karena menurutnya, ulah Pram ketika di Lekra, yang juga pandangan orang-orang di Manifes Kebudayaan, bahwa ulah Pram-Lekra telah “merendahkan” dunia pers Indonesia. Ia telah menempatkan pers di bawah ketiak tirani politik. Sementara Mochtar Lubis menghendaki pers itu harus independen, merdeka, dan bebas dari intervensi. Katakanlah seni untuk seni.

Tapi bagi Pram-Lekra tak mau pers hanyalah sebatas kata-kata. Tak menggugah yang merevolusi kehidupan bangsa yang sedang carut-marut itu. Ia tak mau pers diam dan mengangkang atau duduk di menara gading, hanya menunjuk ini-itu, ini kebaikan dan itu keburukan, ini baik dan itu najis.

Menurutku pandangan orang Manifes, mungkin dalam cara pandangnya ialah dualis, seperti Plato. Ia yang membedakan atau ingin memisahkan mana dunia ide dan mana dunia realitas. Sedangkan Pram-Lekra penganut monis, ia ingin tak membedakan antara ide dan realitas. Meskipun demikian, katanya Mochtar Lubis lah yang mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan alat tulis kepada Pram. Memang sungguh keterlaluan, seorang Pram telah memberangus dan membakar buku-buku. Aku tak setuju jika ada karya yang seburuk apapun dibakar. Itu termasuk pengekangan juga. Karena pengucilan atau pemaksaan terhadap dan kepada siapapun, tak akan selalu berakhir baik.

Begitulah seseorang punya sisi baik dan lupakanlah sisi buruknya. Karena begitulah karakter seorang Pram yang berkarakter, seorang Pramis. Tapi karakter seperti apa yang diharapkan Pram itu.

Pada tulisan hasil wawancara majalah Syirah dengan Pram, bahwa kita harus bermental berproduksi. Tapi untuk punya mental produksi, terlebih dahulu kita harus menjadi seorang individualis. Yaitu seorang yang selalu menuruti kata hatinya. Sebagai yang punya kekuatan pada kediriannya sendiri. Bahwa aku dan kamu berani memang karena kedirian kita sendiri. Bukan main keroyokan, bukan karena bergerombol, berguyub. Tapi kita punya kemampuan sendiri yang diandalkan.

Tapi bukankah sendirian itu jomblo? haha.. Tapi lihat macan yang mengaum sendirian di tengah hutan. Laki itu yang berani berjalan sendiri. Bilapun tanpa teman, sahabat, handai taulan, seperti Musa yang baru tiba di Madyan. Seseorang tidaklah menjadi nabi kalau bukan ia seorang individualis. Tapi bukankah harus berjamaah di lingkaran “mursyid”? Tapi pengusung tarekat awalnya adalah seorang individualis, yang barulah kemudian tarekatnya disematkan pada namanya, pada ia yang person, seorang individualis.

Maka kembali ke soal individualis, atau agar berkarakter individualis, atau untuk berkemampuan di atas kaki dan tangan sendiri, membuat seseorang mencari dan terus mencari apa yang diperlukan bagi dirinya. Ya salah satu pencarian adalah dengan banyak membaca. Setiap hari rajin membaca koran, sehingga nanti timbul karakter seseorang yang ingin terus-menerus tahu perkembangan dunia. Bolehlah kita mempelajari berbagai isme. Semua isme harus dipelajari dan isme seseorang harus dihargai, di samping kita memerlukan rasionalitas. Rasionalitas ya akal itu sendiri sebagai penimbang sehat tidaknya sebuah isme. Akal dalam bahasa Arab artinya hukum, maka isme kita timbang sendiri-sendiri buat penumbuhan diri.

Tapi bentuk kelemahan kita menurut Pram, adalah tidak terbiasa banyak membaca, apalagi menulis, dan mendokumentasikan data dan informasi. Jadi urutan teknisnya: membaca, menulis, dan mendokumentasi, khususnya dokumen yang bernilai sejarah—karena tanpa sejarah kita tidak akan bisa mengatasi kekacauan dan tidak bisa menata masa depan. Maka konklusinya bila pada otak tertanam bahwa saya harus bisa berproduksi, maka saya akan terus melakukan pencarian kesejatian sebagai individu, untuk menempa kualitas diri, untuk menambah nilai pribadi, sehingga dari proses semuanya menjadilah karakter individu yang produktif.

Dengan banyak pengalaman produksi yang terus-menerus; dengan terus berproduksi bukan menjadi kuli, bukan juga bermental pesuruh, kita menambahkan pada diri pengalaman-pengalaman produksi guna mengangkat nilai seorang pribadi, yang dengan itulah perkembangan bisnis dan segala-galanya berkembang dan terus berkembang.

Sekali lagi diperjelas bahwa kita harus bermental individualitas. Sebagai anak muda harus punya keberanian individu, bukan dengan main keroyokan dalam menghadapi apapun. Kita bukan pandai berkerumun tapi tak pandai membikin barisan yang teratur. Seorang individu dapat mengatur dirinya sendiri, dapat mendudukan posisinya di mata masyarakatnya, keluarga, dan segala yang melingkupinya.

Begitu pula untuk melahirkan seorang pemimpian, selain generasi muda harus berani mengambil inisiatif dan tanggung jawab atas risiko yang diperbuatnya, termasuk memperbaiki kesalahan diri, artinya beranilah bersikap meski akhirnya tahu itu sesuatu yang salah.

Tapi bagaimana melanjutkan dan melaksanakan pesan-pesan Pram?

Aku di antara mereka generasi muda sebagai harapan bangsa, ingin aku menjadi kaum muda yang diharapkan Pram. Tapi bagaimana caranya. Ya mungkin tadi di saat ingin mengetahui caranya, maka muncul keinginan dengan mencari dalam memenuhi kebagaimanaan itu. Maka dicarilah segenap informasi, mengumpulkan data-data untuk bagaimana menjadi pemuda harapan bangsa, atau sebagai insan harapan umat. Lalu setelah tahu sedikit demi sedikit, laksanakanlah. Terapkan dalam kehidupan sehari-hari, supaya menjadi kebiasaan diri, lalu menjadi karakter diri.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori