Oleh: Kyan | 06/12/2008

Mendirikan Saladin Institute

Logo Saladin Institute 30-05-2014

Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta baru mempunyai beberapa universitas yang masih bisa dihitung dengan jari, dan belum lagi dipertanyakan kualitasnya. Dari jumlah perguruan tinggi yang sedikit itu, masih sangat minim jumlah ilmuwan atau cendekiawannya. Untuk ukuran India saja sudah memiliki universitas 8.407 universitas dan Amerika punya 5.758 universitas, dan bangsa Zionis Yahudi yang jumlahnya cuma 14 juta jiwa, mampu meraih nobel sebanyak 167 nobel.

Indonesia masih membutuhkan ilmuwan yang sangat banyak bagi kemajuan bangsanya. Bahkan sebagai penduduk mayoritas muslim, yang seharusnya dengan landasan teologi bahwa setiap muslim adalah da’i, maka setiap individu haruslah berilmu, ia seorang ilmuwan. Tapi kita masih hanya sebagai buih dan beban bagi dunia. Kita malu sebagai orang Islam yang kadang sombong merasa berhak untuk masuk surga, tapi untuk kemajuan dunia belum bisa memberikan kontribusi banyak. Untuk urusan kebersihan toilet saja tidak becus bagi bangsa ini.

Untuk mencipta seoran ilmuwan, lagi lagi sebagai media ilmu adalah buku. Kebutuhan buku harus jadi bukan barang baru bagi masyarakatnya. Setiap individu harus merasa inten dengan buku-bukunya. Sebagai bahan pembelajaran selain buku, sekarang bisa dari internet yang menyediakan informasi berlimpah. Warnet juga keberadaannya belum begitu luas tersebar, apalagi internet yang terhubung ke per kepala keluarga. Menjadi media ilmu adalah televisi, radio, iklan, ceramah, khutbah jumat, juga kampanye harus semata-mata demi pencerdasan bangsa. Tapi khutbah jum’at yang pasti sekali dalam satu minggu isinya masih seputar itu-itu saja, mengulang-ulang yang tak perlu. Lalu bagaimana ada kemajuan bagi bangsa ini.

Namun, bagaimanapun keadaannya tetap masih ada harapan. Bahkan ada salah seorang ilmuwan Indonesia yang sangat optimisme soal Indonesia jaya di 2030, Indonesia semesta di 20xx. Indonesia memang memiliki potensi. Jumlah penduduk yang banyak dan kekayaan sumber daya alam yang cemerlang adalah potensi. Masalahnya bagaimana menjadikan setiap individu bangsa ini berjiwa ilmuwan. Ia harus punya semangat belajar. Belajar bukan tugas yang sedang sekolah saja. Belajar harus di mana saja, dari mana saja, kapan saja. Wajib belajar 12 tahun harus benar-benar direalisasikan, tapi itu untuk membangun fundamennya saja dan sebagai modal awal supaya selanjutnya ia harus mampu belajar sendiri dan mandiri.

Dalam kemajuan ilmu pengetahuan akan mustahil jika tak punya modal. Memang pertama modal semangat dan optimisme. Selanjutnya bagaimanapun modal berupa uang memang harus ada. Logika tanpa logistik katanya tak akan jalan. Uang bisa didapatkan dari modal sosial, dari solidaritas kebangsaan kita, dan bisa diwajibkan kepada setiap individu bangsa untuk menyumbang bagi pembangunan.

Sekarang sudah ada mekanisme pajak sebagai sumbangan mereka. Tapi ini malah dikorupsi pajaknya. Sudah orang yang berwirausaha masih sedikit, dana yang sudah dikumpulkan dari mereka malah dikorupsi habis-habisan. Memang ini masalah yang tak kunjung selesai dari dulu. Mungkin tak akan mampu menghabisi dan mempunahkan pelaku korupsi, tapi setidaknya mengurangi, dan bukan malah memberi remisi.

Pekerjaan rumah kedua, ya itu setiap orang harus berjiwa entrepreneurship. Ia harus berjiwa wirusaha. Berjiwa entrepreuneurship tidak semata dibutuhkan oleh calon wirausaha saja, tapi pekerja pun harus punya. Setelah mereka lulus sekolah dan kuliah hal yang pertama dilakukan tidak melulu kesana-kemari mencari lowongan pekerjaan, tapi coba ciptakan sendiri jalan rezekinya. Syukur alhamdulillah bisa menjadi jalan rezeki bagi orang lain.

Ini semua bisa diubah melalui apa yang diyakininya. Masing-masing punya iman, punya keyakinan. Keyakinan yang benar pasti tidak akan melenceng dari konsepsi bahwa dirinya bisa mengabdikan dirinya buat keluarga, masyarakat dan bangsanya. Ia punya niat kesungguhan ingin memajukan bangsanya. Di tengah ada yang merasa punya iman dan membela iman, tapi aplikasi dari imannya itu merusak tatanan bangsa, pekerjaannya membikin teror, membuat tidak aman dan selamat orang-orang yang hidup, dipertanyakan apakah imannya berlaku benar? Atau karena kebodohan dan tidak lengkapnya informasi kebenaran?

Mengambil peluang dan mengisi kekosongan itulah, Saladin Institute berdiri sebagai lembaga pendidikanm sebagai gerakan kebudayaan. Tapi aku hanya bisa merancang semampu apa yang dapat kulakukan. Maka tujuan pokok menjalankan bisnis apa saja gunanya mengumpulkan modal untuk mewujudkan objek tujuan tadi. Merancang bisnis di bidang makanan atau pakaian atau pendidikan itu sendiri, namun tindakanlah yang utama untuk memulai.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori