Oleh: Kyan | 15/11/2010

Sepedaku di Aston Braga

Senin, 15 November 2010

Sepedaku di Aston Braga

**

Kutulis surat doa pada siang yang penuh bahagia ini. Saat ini episode perjalananku sedang mengalami bahwa aku belum mendapat kerja lagi. Aku menjalaninya dengan penuh ketenangan dan kewaspadaan. Akan ada masanya ketika aku menerima telpon panggilan kerja. Suatu saat terjadi aku berangkat kerja pagi hari pakai motor dan pulang sore sampai rumah sebelum maghrib. Di akhir bulan aku menerima gaji yang cukup dan berkah untuk kebutuhanku sehari-hari. Untuk kesenanganku dan kebahagiaanku.

Aku berkelimpahan. Aku tak pernah tidak makan. Aku selalu punya uang. Aku selalu bisa memenuhi kebutuhan dan keinginanku. Aku bersyukur dengan apa yang kuterima. Syukurku memiliki banyak waktu luang yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.

Aku bersyukur sudah tinggal di Bandung, bisa jalan-jalan di sekitar Bandung. Berkesempatan bisa kuliah lagi di Bandung. Jika sewaktu kerja di Sukabumi dan Bogor, rasanya membuat semakin jauh dari mimpi dan harapanku. Tapi setelah tinggal di Bandung sudah ada beberapa langkah maju. Aku selalu mendapat kemajuan dan kelimpahan.

Kemarin saja aku mengalami kejadian yang cukup mendebarkan. Akankah sepedaku hilang? Aku berkata jika keadaanya sepedaku hilang, setelah laptop, sandal dan pekerjaan, serta kehidupanku hilang, masa akan terus membiarkan ciptaan-Nya terlunta dan kesakitan.

Terbesit kata jika sepedaku hilang, Tuhan begitu kejam padaku yang sudah memberikan banyak cobaan dan membiarkanku kesakitan. Aku akan murka dan berpaling dari-Nya bila sepedaku satu-satunya barang berhargaku hilang dicuri. Astaghfirullah al-adzim. Aku sempat berkata begitu dalam batin jika sepedaku hilang.

Ceritanya bermula ketika setelah kutunaikan salat Duhur di Masjid Raya Bandung, lalu pergi mengayuh sepeda menuju Hotel Aston Braga. Sampai disana, kutitipkan sepedaku dan kuparkir di trotoar Braga dan kukunci pada tiang. Aku mencari-cari tempat digelarnya pelatihan Mindfokus oleh Katahati. Meskipun bukan peserta, niatku hanya ingin membeli CD-nya saja. Itulah niatku jalan-jalan Minggu siang ke jalan Braga.

Setelah kucari-cari ke Baseman, pintu masuk Hotel ada disana. Sungkan aku masuk. Dan kembalilah aku. Biar nanti saja belinya. Lagian bukan buat dipakai sekarang. Belinya lewat internet lagi saja.

Lalu aku menuju tempat parkir sepedaku. Syukur alhamdulillah sepedaku masih ada. Kuambil kunci dari tasku. Kumasukkan ke gemobknya. Namun tak lepas-lepas sambungannya. Kuputar-putar sampai sekuat tenaga. Eh malah patah kuncinya.

Naas terjadi padaku. Aku panik bagaimana membukanya. Sementara hari semakin sore. Sudah sore sementara aku masih di pusat kota Bandung. Kapan aku bisa sampai di rumah di Batujajar.

Aku ingat ada kunci cadangan. Ada satu lagi di rumah di Batujajar. Aku harus pulang dulu mengambilnya. Aku pulang tapi bagaimana dengan sepedaku. Amankah ditinggal meski dititipkan ke tukang parkir. Aku takut ini barang peninggalanku hasil menabung masa harus dibiarkan hilang lagi. Kupasrahkan saja jika hilang aku akan murka. Tapi bagaimanapun kejadiannya aku pasrah saja. Aku pun pulang.

Hari sudah sore. Sekitar jam tiga aku pulang naik Damri ke Leuwi Panjang dan naik Madonna. Sampai di Batujajar jam lima. Di bis aku kenalan ma perempuan yang ternyata ia masih sekolah SMA kelas dua. Ia orang Batujajar orang Rancatiis. Suatu saat aku akan berkunjung ke rumahnya.

Aku naik ojek PP Rp 8.000,- Tak sempat salat ashar. Balik lagi ke terminal Batujajar sudah ada lagi bis Madonna menuju Leuwi Panjang. Kusempatkan beli gerjgaji besi dan langsung mengejar bis Madonna. Tidak ketinggalan, syukur alhamdulillah.

Singkat cerita sampai Braga lagi jam setengah tujuh. Perasaan was-was masih adakah sepedaku. Berjalan dengan dada berdebar. Melihat deretan parkir motor, hah tak ada. Kucari lagi dan alhamdulillah ternyata masih ada. Aku tak jadi murka.

Maka kucoba-coba kubuka dengan kunci yang kubawa. Tetap tak bisa pula. Tak bisa terus, akhirnya kugergaji saja. Dan terlepaslah akhirnya. Plong-lah perasaanku sepedaku bisa kukayuh lagi.

Bagaimana tidak plong, sebelumnya sempat tegang, karena begitu sampai Braga ketika menyusuri trotoar mana sepedaku. Aku gemetaran akankah sepedaku hilang. Setelah kutelusuri lebih jauh, rupanya masih ada. Melihat sepeda masih terbujur ada, aku tak jadi murka kepada Tuhanku. Allah Maha Mendengar doaku. Benarlah Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah tak mungkin membiarkan makhluk-Nya kehilangan harapan.

Dalam rintik malam-malam, kukayuh sepeda dari Braga melewati Otista Pasar Baru dan Sudirman. Terus ke Cibeureum menuju Cimahi. Sempat terpleset ketika menaiki rel kereta api di Cimindi. Terus kukayuh sepeda dan sampailah di Batujajar jam setengah sembilan.

Karena perutku lapar. Saat pagi hanya makan sedikit sisa kemarinnya pakai garam dan malam harus bertemu nasi. Aku ingin ayam goreng untuk memuaskan atau syukurku sepedaku yang selamat. Dengan ayam goreng seharga sepuluh ribu perutku jadi kenyang. Dan pulanglah sampai rumah jam sembilan tepat.

Melepaskan keinginan yang ada di hati dengan metode mengikhlaskan perasaan zona ikhlas: syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori